Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

7 Kesalahan Penggunaan Ejaan yang Paling Sering Terjadi dalam Penulisan Karya Ilmiah
1,006 kata • 5 menit baca

🎧 Dengarkan artikel ini:

kesalahan penggunaan ejaan yang paling sering terjadi

MENULIS karya ilmiah tidak hanya soal isi yang kuat, tetapi juga tentang bagaimana gagasan disampaikan dengan bahasa yang tepat. Banyak tulisan yang sebenarnya bagus dari segi ide. Namun, kehilangan kekuatannya karena kesalahan penggunaan ejaan, tanda baca, atau penggunaan kata yang tidak sesuai kaidah.

Dalam konteks akademik, kesalahan penggunaan ejaan perlu untuk dipahami karena menjadi dasar penting. Ejaan membantu menjaga kejelasan, ketepatan makna, sekaligus kredibilitas tulisan. Sayangnya, kesalahan penggunaan ejaan masih sering dianggap sepele. Padahal, kesalahan kecil bisa memengaruhi pemahaman pembaca juga kualitas karya secara keseluruhan.

Berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan ejaan dalam karya ilmiah masih sangat umum terjadi, mulai dari kesalahan huruf, kata, tanda baca, hingga struktur kalimat. Apa saja bentuk kesalahannya?

Berikut Tujuh Kesalahan Penggunaan Ejaan yang Paling Sering Muncul dalam Penulisan Karya Ilmiah.

  1. Kesalahan Penggunaan Huruf Kapital
    Huruf kapital sering digunakan tidak pada tempatnya. Kesalahan ini biasanya muncul karena kebiasaan menulis tanpa memperhatikan fungsi kata dalam kalimat. Ada yang menulis kata umum dengan huruf besar, ada juga yang justru mengabaikan aturan kapitalisasi di awal kalimat atau nama tempat.
    Contoh:
    Salah: penelitian ini dilakukan Di Jakarta.
    Benar: Penelitian ini dilakukan di Jakarta.

    Kesalahan seperti contoh di atas terlihat sepele, tetapi cukup mengganggu secara visual dan menunjukkan kurangnya ketelitian penulis. Dalam karya ilmiah, huruf kapital tidak hanya digunakan di awal kalimat. Huruf kapital juga digunakan untuk nama diri, lembaga, gelar, serta unsur tertentu dalam jabatan dengan aturan yang jelas.

  2. Penulisan Kata tidak Baku
    Kesalahan berikutnya yang sering muncul adalah penggunaan kata tidak baku. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari atau bahasa lisan yang terbawa ke dalam tulisan ilmiah.
    Contoh:

    Salah: praktek, resiko, aktifitas
    Benar: praktik, risiko, aktivitas

    Sekilas memang tidak terlihat bermasalah. Banyak orang bahkan merasa bentuk yang salah sudah biasa digunakan atau itulah bentuk benarnya. Namun, dalam konteks karya ilmiah, kebiasaan tidak bisa dijadikan acuan. Standar tetap mengacu pada bentuk baku yang telah ditetapkan dalam kamus dan pedoman resmi.

  3. Kesalahan Tanda Baca
    Tanda baca menjadi salah satu sumber kesalahan yang paling sering terjadi. Banyak penulis fokus pada isi, tetapi kurang memperhatikan bagaimana kalimat disusun secara teknis. Padahal, tanda baca berperan besar dalam menentukan kejelasan makna. Beberapa contoh umum:
    – Tidak menggunakan koma pada kalimat majemuk.
    Salah penggunaan titik di akhir kalimat.
    Penempatan tanda baca yang tidak tepat.

    Selain itu, kesalahan seperti spasi sebelum tanda baca atau kurangnya tanda koma juga masih sering ditemukan dalam karya ilmiah. Masalah ini sering dianggap sepele, padahal memiliki dampak cukup besar. Kalimat tanpa tanda baca yang tepat bisa menimbulkan makna ganda atau membuat pembaca harus membaca ulang untuk memahami maksudnya. Misalnya, tanpa tanda koma, dua gagasan dalam satu kalimat bisa terlihat seperti satu kesatuan yang membingungkan.

  4. Penulisan Kata Depan “di” dan “ke”
    Kesalahan ini sangat umum, terutama dalam membedakan antara kata depan dan imbuhan. Banyak penulis masih tertukar dalam penulisannya karena bentuknya terlihat sama, padahal fungsinya berbeda.
    Contoh:
    Salah: di lakukan, kekampusnya, ke harusan
    Benar: dilakukan, ke kampusnya, keharusan

    “di-” sebagai imbuhan harus digabung dengan kata kerja, seperti ditulis, dilakukan, atau diberikan. Sementara itu, “di” sebagai kata depan harus dipisah karena menunjukkan tempat, seperti di rumah, di kampus, atau di Jakarta.
    Hal yang sama berlaku pada “ke”. Jika berfungsi sebagai imbuhan pembentuk kata benda, penulisannya digabung, seperti keadaan atau keharusan. Jika berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan arah atau tujuan, penulisannya dipisah seperti ke kampus atau ke luar negeri.
    Kesalahan ini sering terjadi karena penulis lebih mengandalkan kebiasaan daripada memahami fungsi kata. Padahal, jika dilihat dari konteks kalimat, perbedaannya cukup jelas.

  5. Kesalahan Penggunaan Kata Ganti
    Dalam karya ilmiah, penggunaan kata ganti harus konsisten dan formal. Pilihan kata ganti bukan sekadar soal gaya, tetapi juga berkaitan dengan objektivitas dan nada tulisan.
    Kesalahan yang sering muncul biasanya berupa:
    – Penggunaan “saya” dalam tulisan akademik.
    – Campuran “aku”, “kami”, dan “penulis”.
    – Penulisan yang tidak sesuai aturan, seperti ku lihat (seharusnya kulihat).
    Karya ilmiah umumnya menggunakan gaya impersonal, yaitu tidak menonjolkan subjek penulis secara langsung. Oleh karena itu, bentuk seperti “penulis” atau kalimat pasif lebih sering digunakan, misalnya penelitian ini dilakukan dibandingkan saya melakukan penelitian ini.
    Selain itu, penulisan kata ganti juga harus mengikuti aturan ejaan agar tidak terjadi adanya kesalahan EYD. Bentuk seperti kulihat, kuberikan, atau kutulis harus ditulis serangkai, bukan dipisah.

  6. Ketidakkonsistenan Istilah dan Penulisan
    Banyak karya ilmiah menunjukkan ketidakkonsistenan dalam penulisan istilah, nama, atau format. Hal ini sering terjadi tanpa disadari, terutama dalam tulisan yang panjang.
    Contoh:
    Nama penulis ditulis berbeda di bagian yang berbeda.
    Penggunaan huruf kapital yang berubah-ubah.
    Istilah asing yang tidak konsisten.
    Ketidakkonsistenan ini membuat tulisan terasa kurang rapi dan bisa membingungkan pembaca. Misalnya, satu istilah ditulis dalam bahasa Indonesia di awal, tetapi berubah menjadi bahasa asing di bagian lain tanpa penjelasan. Atau nama lembaga yang ditulis lengkap di satu bagian, lalu disingkat tanpa keterangan di bagian berikutnya.
    Masalah ini biasanya muncul karena kurangnya proses revisi dan penyuntingan sebelum karya dikumpulkan. Penulis terlalu fokus pada isi sehingga melewatkan detail teknis yang sebenarnya penting.

  7. Penggunaan Bahasa tidak Sesuai Konteks Ilmiah
    Penulisan karya ilmiah menuntut bahasa yang formal dan objektif. Pilihan kata dan struktur kalimat harus mencerminkan keseriusan serta kejelasan gagasan. Namun, masih banyak penulis yang mencampurkan bahasa santai atau informal.
    Contoh:

    – Masih ditemukannya penggunaan kata seperti nggak, banget, atau kayak.
    – Adanya kalimat yang terlalu subjektif atau emosional.
    Bahasa seperti contoh di atas lebih cocok digunakan dalam percakapan sehari-hari, bukan dalam tulisan akademik. Penggunaan kata informal membuat tulisan kehilangan kesan ilmiah dan mengurangi kredibilitasnya.
    Selain itu, penggunaan istilah asing secara berlebihan tanpa penyesuaian juga termasuk kesalahan yang sering muncul. Tidak semua istilah asing perlu dipertahankan, terlebih lagi jika sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Kesalahan EYD dalam karya ilmiah bukan sekadar masalah teknis, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas dan kredibilitas tulisan. Ejaan yang tepat dapat membantu pembaca memahami isi dengan jelas dan menunjukkan bahwa penulis memiliki ketelitian serta penguasaan bahasa yang baik.

Kesalahan-kesalahan seperti huruf kapital, tanda baca, kata baku, hingga konsistensi penulisan sebenarnya bisa dihindari dengan satu langkah sederhana yaitu dengan membaca ulang dan menyunting tulisan dengan serius. Menulis karya ilmiah berarti menyampaikan gagasan dengan bertanggung jawab dan tanggung jawab itu tidak hanya pada isi, tetapi juga pada cara menyampaikannya.

Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayo pesan sekarang!