Ditulis oleh Linggar Putri P.*
Judul: Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia (SehimpunCerita)
Penulis: Miguel Angelo Jonathan
Penerbit: Rua Aksara
Ukuran: 12,5 x 18,5 cm
Tebal: 130 halaman
Cetakan Pertama: Mei, 2020
ISBN : 978-623-7258-59-9
Harga : Rp54.000
=================================================================
PERNAHKAH kamu membaca suatu buku yang membuatmu melongo? Jika belum, buku himpunan cerita ini bisa menjadi pengalaman yang membuat mulut menganga lebar. Begitu membuka bab pertama, sebaiknya jangan membaca sambil makan sebab paragraf dunia pertahian akan menyambut matamu.
Secara keseluruhan, Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia mengisahkan cerita-cerita yang tak banyak diketahui dari Indonesia dan dataran Tiongkok serta ada pula yang berlatar era Ottoman. Pada bab pertama hingga ketiga, ada tiga kisah absurd yang melibatkan jasa besar tahi-tahi manusia. Kisah pertahian dimulai di Hindia Belanda, pada bab “Hainuwele”, yakni dari petualangan si peneliti asal Jerman yang tengah menjelajahi pedalaman Maluku.
Di tempat itu, ia bertemu sesosok gadis ajaib yang mampu mengeluarkan barang berharga dari duburnya. Ya, dubur. Mungkin, otakmu akan bersusah payah mencerna fenomena itu. Bukan kisah biasa, faktanya, kisah ini terinspirasi dari cerita rakyat Maluku tentang sosok Hainuwele.
Pada bab 2, yang menjadi cerita utama, menyoroti ide gila Sersan Hans Madelijn. Ia menahan rasa jijiknya demi bisa melempari prajurit Mataram dengan “peluru” tinja. Lalu, pada bab “Siluman Ular dari Rawa Atarja”, ada seorang kakek tua dengan survival instinc yang payah. Katanya, saat tengah berak dengan khidmat, pantat pria berumur itu digigit oleh Siluman Ular yang tengah murka. Kabarnya, ia murka karena tempat tinggalnya dikotori dan pohon-pohon telah ditebangi.
Kemudian, jika kamu mencari fenomena keajaiban, bab “Aul” mungkin bisa menghibur. Bercerita tentang seorang guru silat tanah Pasundan yang bisa memutuskan lengannya, lalu menyambungnya kembali dengan mudah. Pendekatan yang digunakan si penulis dalam menciptakan bab ini dan bab “Hainuwele” agaknya mirip dengan realisme magis. Ada keterlibatan unsur fantasi atau ajaib yang berdampingan erat dengan dunia nyata sehingga keajaiban itu dianggap lumrah bagi tokoh.
Selanjutnya, begitu masuk pada cerita berlatar Tiongkok kuno, terdapat sisi kecerdikan prajurit Tiongkok yang melibatkan monyet-monyet untuk menyerang bangsa Inggris. Kesan pertentangan antara timur vs. barat sangat terlihat di sini. Di bab-bab lainnya, ada kisah dari belahan negeri lain, masih dengan kerandoman tingkah dan pemikiran manusia. Misalnya, pada “Hanya Gerbang Kecil”, di mana ada seorang tentara yang kalang kabut dan sibuk mengumpat atau si prajurit yang terlalu ceroboh sampai membuat dirinya dan pasukannya mati.
Ada satu pesan di sini, jika ditelaah, bab ini akan mengajarkan bahwa boleh saja sesekali teledor, memang begitu sifat bawaan manusia. Tapi, jangan sampai kelewatan kalau tidak mau orang lain mati karena ulah teledor itu!
Dari beberapa kisah yang telah diselami, Miguel membuat para tokohnya bertingkah luar biasa. Segala kecerdikan mereka mungkin membuat pembaca merasa maklum dengan aksi gila tokoh-tokoh itu di masa darurat. Ditambah lagi, rasanya semua tokoh di dalamnya adalah cerminan dari manusia di dunia nyata. Realistis. Itulah kata yang menggambarkan penokohan dalam buku ini. Dengan setiap tokohnya digambarkan mengalami kebingungan, kemarahan, hingga memiliki kebodohan yang tak tertandingi atau kegilaan yang luar biasa. Seperti manusia stres pada umumnya. Tidak ada sifat suci nan sempurna yang membuat mereka sulit didekati dan dipahami.
Selain itu, dari segi bahasa, si penulis konsisten menggunakan diksi yang sederhana. Hampir tidak ditemukan istilah-istilah berat yang membuat kita harus membuka kamus. Beberapa bagian kalimat mungkin akan membuat meringis sebab gaya tulisannya blak-blakan, bahkan terkesan kocak. Jadi, jangan mengharapkan kalimat puitis nan syahdu dari buku ini.
Jika dianalisis lebih dalam, tampaknya Miguel ingin menyampaikan gambaran tingkah laku dan pola pikir manusia yang jarang tersorot di era kuno ataupun zaman kolonialisme. Terutama pada bab “Hainuwele” dan “Membakar Monyet Demi sang Naga”. Secara tersirat, ada penggambaran bagaimana penjajah barat memandang penduduk pribumi. Contohnya, “Sebenarnya aku sedikit takut kalau-kalau suku-suku yang kami temui di sana adalah suku-suku kanibal yang menyeramkan, tapi ternyata masyarakat di sini sangat ramah.”
Cuplikan tersebut ternyata bisa dilihat dari sudut pandang teori postcolonialism. Kelihatannya, ketakutan si peneliti Jerman akan “suku kanibal” bukanlah respons ketakutan alami dari otak, melainkan hasil dari diskursus kolonial yang telah diproduksi lama melalui catatan perjalanan dan literatur fiktif. Konsep “The Other” yang dicetuskan Edward Said cocok untuk memandang fenomena tersebut, di mana penduduk asli dipandang sebagai objek asing, eksotis, ataupun bar-bar dari perspektif orang barat. Agaknya, si penulis memang ingin mengkritik hal tersebut pada bagian ini.
Selain postcolonialism, terdapat unsur grotesk (grotesque). Si penulis memasukkan gaya estetika yang menggabungkan elemen aneh dan tidak wajar melalui kosakata “tahi” dan “tinja”. Di permukaan, memang berkonotasi negatif padahal dua kata itu adalah sesuatu yang lumrah. Hal tersebut sering menciptakan perpaduan antara kengerian, kelucuan, dan keabsurdan. Unsur tersebut memang berfungsi menimbulkan perasaan tidak nyaman dan itu berhasil, kan?
Grotesk rupanya menjadi bagian dari Carnivalesque yang dikemukakan oleh Mikhail Bakhtin. Hal tersebut menciptakan sudut pandang bahwa sejarah kolonial tidak selalu serius dan keras, tetapi ada realita dasar yang berasal dari tubuh manusia. Pada akhirnya, Miguel ingin menyampaikan bahwa dari ras dan zaman mana pun, manusia tak luput dari hal-hal yang dianggap aneh dan absurd.
Selanjutnya, ada pula sindiran bagi pemerintah pada bab keempatnya. “Mangkarak ingin pemerintahannya dikenang oleh rakyat sampai 1000 tahun lamanya. Maka dari itu ia memerintahkan pembangunan berbagai macam bangunan… Maka dari itulah banyak dari bangunan entah itu kuil, candi, patung maupun pagoda yang akhirnya terlantarkan.”
Kejadian itu terdengar familiar di negeri ini, kan? Terlihat bahwa Miguel benar-benar memanfaatkan kebebasannya dalam menulis sebagai kritikan. Intinya, buku ini ceritanya ringan. Tidak ada bahasan berat meskipun beberapa cerita bertema sejarah. Miguel bijak dalam memilih susunan kalimat karena paragrafnya mudah diikuti. Bahkan, ada rasa ketagihan untuk terus membaca halaman demi halaman.
Ia lihai memainkan kata sehingga paragraf panjang yang aslinya berisi sindiran pun terasa seperti cerita rakyat biasa. Saat membacanya pun, kamu tidak akan merasa digurui, tetapi seolah sedang diajak nongkrong sambil mendengar cerita komedi sebab di dalamnya tidak ada pesan moral yang dipaksakan. Ia meminta perspektif dari pembaca yang akan menentukan sendiri pesannya.
Selain itu, bisa dikatakan bahwa si penulis cukup berani dalam mengangkat tema-tema abnormal yang mungkin jarang terpikirkan, tetapi di situlah menariknya. Sisi aneh dalam diri manusia banyak terkuak di sini. Mungkin, bisa dibilang keanehan itu manusiawi?
Miguel paham bahwa pembaca menginginkan sesuatu yang tak biasa. Jika orang-orang mulai bosan dengan tema yang itu-itu saja, buku ini bisa jadi pilihan karena abnormalitasnya. Di balik itu, ada kekurangan dalam buku ini. Terdapat pengulangan kalimat atau adegan pada salah satu bab. Mungkin pembaca akan menganggap si penulis takut kalau kita lupa akan siapa tokoh ini dan apa yang dilakukannya. Ada pula kesalahan kecil yang tampaknya luput, seperti kesalahan penulisan meskipun bukan kesalahan fatal.
Selanjutnya, buku ini rasanya agak sulit dipahami bagi mereka yang menyukai hal-hal mainstream dan karakter yang adem ayem. Barangkali akan terasa aneh sehingga beberapa orang akan sulit menebak apa makna ataupun isu di dalamnya. Namun, hal itu hanya soal selera dan bagaimana sudut pandang kita dalam memahami suatu karya.
Kisah-kisah di dalamnya memang layak ditertawakan, bukan karena kualitasnya, tetapi karena penyajian kata secara blak-blakan yang menunjukan tingkah manusia dari zaman ke zaman. Buku ini layak dibaca bagi mereka yang sedang butuh hiburan dari sebuah topik literasi ringan atau jika sedang membutuhkan sesuatu untuk tertawa. Satu lagi, sebaiknya jangan biarkan anak-anak mungil membaca karya ini jika kamu tidak mau mereka menirukan umpatan yang diucapkan tokohnya.
Jika kamu sudah memasuki usia dewasa, baca saja buku ini, nikmati dunia di dalamnya!