Ditulis oleh Ratna Purnamasari*
INI adalah sebuah pengakuan. Saya mulai terobsesi dengan benda-benda mati setelah membaca buku-buku Dewi Lestari. Bagaimana sebuah benda tidak dapat dihilangkan dalam sebuah cerita pendek. Perempuan yang memiliki nama pena Dee ini sangat senang bermain-main dengan benda. Kau akan selalu menemukan benda dalam buku-buku Dewi Lestari yang ikut bertanggung jawab menghidupkan cerita tersebut.
Pertemuan saya dengan buku-buku karangan Dewi Lestari bermula dari buku Restoverso. Dari sana, saya mulai menyukai gaya bercerita Dewi Lestari. Setelahnya, saya mulai membaca buku-buku Dee yang lain. Dari enam seri Supernova, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Madre, dan yang terbaru Aroma Karsa.
/dalam Filosfi Kopi/
Kopi. Dewi Lestari menjadi salah satu penulis yang menjadikan kopi sebagai benda yang memiliki makna lebih. Lewat buku Filosofi Kopi, Dee menuliskan kopi bukan lagi sebagai minuman enak saja, tetapi kopi menjadi tujuan. Selain kopi, Dewi Lestari juga menghadirkan benda-benda lain dalam cerita pendeknya.
Sikat Gigi. Dewi Lestari memiliki kepekaan untuk mengangkat hal sepele menjadi hal yang pantas untuk diceritakan. Dia memberi makna dalam sikat gigi. Dalam cerpen “Sikat Gigi” Tio jatuh cinta dengan sahabatnya bernama Egi. Tio tidak dapat memahami cara berpikir Egi. Menurutnya, Egi adalah seorang pengkhayal yang ulung. Lewat sikat gigi, tokoh Egi merasa dapat melupakan masalahnya. “Waktu saya menyikat gigi, saya tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Dunia saya mendadak sempit cuma gigi, busa, dan sikat. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tio, tapi berarti banyak.”(hlm.59).
Berbeda dengan tokoh Tio, dia merasa hanya saat Egi menyikat gigi, mereka dapat berada di dunia yang sama. Tio merasa lebih mengerti Egi saat dia menyikat gigi, untuk itu pula, dia menghadiahkan sikat gigi saat hari ulang tahun Egi. “Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu,” kata-kata itu akhirnya meluncur keluar, “pengharapan yang kamu punya, dan kekuatan macam apa yang sanggup menahan kamu begitu lama di sana. Tapi, kalau memang sikat gigi itu tiket yang bisa membawa kamu pulang, saya ingin kamu semakin lama menyikat gigi, semakin asyik, sampai moga-moga lupa berhenti. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di dunia yang saya mengerti. Satu-satunya tempat saya eksis buat kamu.” (hlm. 61-62).
Dee secara konsisten membawa sikat gigi dari awal sampai akhir cerpen. Sikat gigi bukan lagi urusan kamar mandi, membersihkan gigi, dan busa. Tapi sikat gigi juga dapat bersinggungan dengan cinta. Lewat sikat gigi, Tio merasa lebih dianggap oleh Egi.
Kue Kuning. Kue di Indonesia identik dengan perayaan. Ulang tahun misalnya atau pesta pernikahan, acara-acara khusus, selalu menghadirkan kue untuk dinikmati. Dalam cerpen “Sepotong Kue Kuning”, kue mewakili perasaan yang sedang dirasakan tokoh Indi. Indi menjalani hubungan gelap dengan Lei, suami orang. Saat Lei ada di sampingnya, dia bahagia dan kuenya menjadi manis. “Indi menemukan apa yang dia cari. Sepotong kue kuning manis. Ada di sebelah wajah Lei.” (hlm. 72). Saat Lei tidak dapat menemuinya, kue menjadi pahit. “Satu lagi kue kuning tandas tertelan. Pahit rasanya.” (hlm. 74).
Bukan hanya itu, kue kuning menjadi penanda waktu hari-hari yang tokoh lalui. “Tidak lagi diingatnya berapa potongan kue kuning yang sudah mereka lewati.” (hlm. 74).
Dewi Lestari tidak lagi menempatkan kue sebagai makanan untuk merayakan kebahagiaan. Tapi kue juga bisa hadir untuk merayakan kesedihan. Kue menjadi hal yang lebih berharga. Lewat kue, Indi dapat mengenang Lei yang tidak dapat lagi menemuinya karena Lei lebih memilih istrinya. Lewat kue, Indi dapat bercerita apa yang sedang dirasakannya. “Setiap malam Indi duduk di pinggir jendela untuk berbicara pada sepotong kue kuningnya.” (hlm. 79).
/dalam Madre/
Madre sendiri bercerita tentang Tansen yang mendapatkan warisan berupa biang roti yang bernama Madre. Sama seperti saat Ben memperlakukan kopi dalam Filosofi Kopi, Tansen pun memperlakukan Madre demikian. Madre mengantarkan Tansen menemukan arti keluarga yang sesungguhnya. Mempertemukannya dengan seorang gadis dan jatuh cinta. Sejak awal penceritaan hingga akhir, Madre tidak pernah lepas memberi nyawa dalam cerita.
/dalam Aroma Karsa/
Aroma Karsa adalah buku terbaru Dewi Lestari. Buku setebal 700 halaman itu bercerita tentang penebusan wasiat neneknya Raras Prayagung. Raras mempertaruhkan seumur hidup untuk menemukan Puspa Karsa. Walaupun Aroma Karsa digadang-gadang memberikan pembaruan dengan melibatkan indra penciuman dalam penceritaannya, tetapi benda tidak lepas dari sana. Seperti parfum puspa ananta dan objek buruan, yaitu Puspa Karsa. “Bukan cuma wujudnya yang menjadi teka-teki, pula dipercaya bahwa tidak ada yang bisa mendeteksi aroma Puspa Karsa, terkecuali orang-orang pilihan. Puspa Karsa adalah tanaman yang punya kehendak dan bisa mengendalikan kehendak.” (hlm. 10)
Puspa Karsa sendiri diceritakan seperti anggrek. Sebelum menemukan wujud asli Puspa Karsa, tanaman anggrek sudah terlebih dulu banyak diceritakan. Raras adalah kolektor bunga anggrek, bahkan saat dia membujuk salah satu ahli tanaman untuk ikut ekspedisi puspa karsa, dia memberikan iming-iming anggrek sebagai imbalan. “Tanpa batang dan daun, bunga itu langsung tersambung ke akar. Fisiknya menyerupai anggrek yang memiliki tiga kelopak dan dua mahkota.” (hlm. 647)
Selain benda-benda di atas, kita bisa menemukan lebih banyak, dinding bercorak cicak, segelas air putih di dalam buku Restoverso. Benda-benda elektronik di Supernova. Di buku Perahu Kertas, tentu kau sudah dapat menebak benda apa dalam buku itu dan masih banyak lagi.
Bila dilihat kembali, benda-benda yang Dewi Lestari hadirkan menyatu dengan tokoh dan alur cerita. Bukan hanya tempelan. Benda-benda itu seperti menjadi tokoh juga. Tidak bisa dihilangkan. Benda menjadi salah satu kekuatan Dewi Lestari dalam tulisannya.