Ditulis oleh Sonya Tammimadya*
MANUSIA merupakan makhluk yang tumbuh seiring bertambahnya usia. Namun, karakter dan kepribadian tidak serta-merta terbentuk hanya dari angka usia itu sendiri. Keduanya terbentuk dari orang-orang yang pernah ditemui, pengalaman yang dijalani, serta pengetahuan yang diserap sepanjang perjalanan hidup. Bagiku, buku merupakan salah satu aspek yang membentuk serta menjadi ruang tempat aku belajar melihat dunia dengan cara yang lebih luas.
Lahir sebagai anak bungsu dengan usia yang terpaut jauh dari saudara dan orang tua yang sibuk bekerja, aku mau tak mau hidup dalam kesepian dan membentuk duniaku sendiri. Namun, di tengah sunyi itu, aku termasuk anak yang beruntung. Di tengah rasa kesepian yang kerap hadir sejak kecil, keluargaku dikelilingi oleh buku-buku.
Rak buku berbahan kayu yang menempel di salah satu dinding rumah menjadi saksi tumbuh kembangku, menjadi teman yang menemaniku di kala bosan. Sejak kecil, ibuku sering membelikanku buku. Dari komik tentang tokoh-tokoh dunia hingga buku pengetahuan bergambar untuk anak-anak, setiap halaman memperkenalkanku pada cerita, tempat, dan sosok yang belum pernah kutemui.
Melalui gambar dan potongan kisah itu, aku mengenal dunia di luar rumah dan lingkaran kecil hidupku. Buku-buku tersebut tidak hanya memberiku hiburan, tetapi juga rasa haus akan kelanjutan cerita di setiap halamannya. Tanpa kusadari saat itu, kebiasaan membaca bukan lagi sekadar pengisi waktu, ia menjadi pelarianku setiap kali aku merasa jenuh dengan dunia nyata.
Seiring bertambahnya usia, hubunganku dengan buku pun ikut berubah. Jika semasa kecil aku membaca dengan bantuan gambar dan alur sederhana, imajinasiku saat itu masih terbatas. Aku menikmati cerita, tetapi belum sepenuhnya mampu membayangkan bagaimana rupa tempat atau karakter yang ada di dalamnya. Memasuki usia remaja, hal itu perlahan berubah. Setiap kali membaca buku, aku seolah melihat langsung dunia yang disusun oleh kalimat-kalimatnya. Aku dapat membayangkan wajah para tokohnya dan suasana tempat tinggal mereka, bahkan merasakan ketegangan atau keheningan yang menyelimuti setiap adegan.
Dalam beberapa momen, aku merasa seperti bisa mendengar suara yang lahir dari dialog-dialog di halaman buku. Membaca pun terasa seperti menonton film di bioskop: tanpa layar dan tanpa suara nyata, tetapi penuh gambar di kepala. Menariknya, setiap kali aku selesai membaca sebuah buku, sering kali muncul perasaan seolah aku pernah “menonton” cerita itu sebelumnya. Padahal, semua adegan tersebut lahir dari imajinasiku sendiri, dibentuk oleh kata-kata yang kuterjemahkan menjadi gambar dan perasaan.
Salah satu pengalaman membaca yang paling membekas bagiku adalah saat membaca novel Rindu karya Tere Liye. Novel tersebut tidak hanya memberiku cerita, tetapi juga perasaan sejenis nostalgia yang aneh, seolah aku pernah hidup di masa itu. Setiap halaman membawaku ke perjalanan panjang ibadah haji menggunakan kapal, berbulan-bulan lamanya mengarungi laut, singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain.
Aku seakan ikut berada di atas kapal itu, merasakan waktu yang berjalan lambat, jarak yang jauh, dan rindu yang menumpuk di dada para penumpangnya. Di dalam perjalanan kapal Blitar Holland, aku bertemu, melalui bacaan, dengan begitu banyak karakter dari latar belakang yang berbeda. Masing-masing membawa kisah, luka, harapan, dan beban perasaan yang tidak selalu terucap. Dari merekalah, aku belajar bahwa setiap orang memiliki perjalanan batin yang tidak kasat mata.
Novel tersebut mengajarkanku tentang mengikhlaskan: tentang bagaimana melepaskan masa lalu, menerima kehilangan, dan berdamai dengan perasaan yang selama ini dipendam. Ada keheningan-keheningan tertentu dalam cerita yang justru bersuara paling keras menggema di kepalaku saat membacanya.
Bagian yang paling kuingat dan aku sukai adalah ketika kapal tersebut diserang perompak. Ketegangan yang dibangun terasa begitu nyata hingga aku membaca dengan napas tertahan. Namun, yang paling membekas bukanlah serangannya, melainkan bagaimana para penumpang, orang-orang biasa dengan ketakutan dan keterbatasan masing-masing, bersatu dan mengumpulkan keberanian untuk membalikkan keadaan.
Di sana, aku melihat bahwa keberanian tidak selalu lahir dari sosok yang kuat, tetapi dari kebersamaan dan keyakinan untuk saling menjaga. Setelah menutup buku itu, aku merasa seperti baru saja “pulang” dari sebuah perjalanan panjang, perjalanan yang tidak hanya melintasi lautan, tetapi juga menyusuri perasaan manusia.
Pengalaman membaca lain yang tak kalah membekas adalah saat aku membaca novel Re: dan peRempuan karya Maman Suherman. Novel tersebut unik karena hadir dalam dua bagian dengan dua judul berbeda. Bagian pertama, Re:, mengisahkan kehidupan Re: yang kelam dan penuh luka. Sementara bagian kedua, peRempuan, berpusat pada Melur, anak perempuan Re: yang lahir di luar pernikahan dan tumbuh dengan beban sejarah yang tidak pernah ia pilih sendiri.
Membaca novel tersebut memberiku pengalaman yang jauh berbeda dari bacaan-bacaanku sebelumnya. Kisahnya berani mengangkat isu-isu sensitif, seperti sisi gelap dunia pelacuran di Jakarta pada tahun 1989, sebuah realitas yang jarang dibicarakan secara terbuka. Lewat narasi yang jujur dan apa adanya, aku diajak menyusuri kehidupan yang keras, penuh stigma, dan sering kali luput dari empati. Tidak ada romantisasi berlebihan; yang ada hanyalah manusia dengan pilihan-pilihan sulit dan konsekuensi yang harus ditanggung seumur hidup.
Hal yang membuat novel tersebut semakin menghantam perasaanku adalah kenyataan bahwa kisah tersebut berangkat dari pengalaman nyata sang penulis sendiri. Mengetahui hal itu membuat setiap kalimat terasa lebih berat, lebih dekat, dan lebih manusiawi. Aku tidak lagi membaca sekadar sebagai penikmat cerita, tetapi sebagai saksi dari sebuah pengakuan. Dari novel tersebut, aku belajar bahwa buku tidak selalu hadir untuk menghibur, kadang, ia datang untuk mengganggu, memaksa pembacanya melihat realitas yang tidak nyaman, dan membuka ruang empati terhadap mereka yang sering disisihkan.
Pada akhirnya, buku-buku yang hadir dalam hidupku tidak sekadar menjadi bacaan yang selesai saat halaman terakhir ditutup. Ia tinggal, menetap, dan ikut membentuk caraku memandang dunia. Di antara halaman-halaman itu, aku belajar bahwa setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, sebagaimana setiap manusia memiliki latar dan perjalanan yang tidak selalu terlihat.
Membaca membuatku lebih peka, lebih sabar, dan lebih berani memahami hal-hal yang sebelumnya terasa asing. Buku tidak menawarkan jawaban mutlak, tetapi membuka kemungkinan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
*Sonya Tammimadya merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris. Ia memiliki minat besar pada dunia buku dan perfilman, khususnya dalam memahami cerita, karakter, dan pesan yang disampaikan melalui karya-karya tersebut. Ketertarikannya pada literasi membuatnya senang membaca, menulis, dan mengulas berbagai karya sastra maupun film.
Pemeriksa aksara: Mikha K.