Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Limbah Buku dalam Industri Percetakan: Dampak Lingkungan dan Solusi Berkelanjutan

ilustrasi limbah buku dalam industri percetakan

Dampak yang Ditimbulkan dari Limbah Buku dalam Industri Percetakan

MELIHAT buku terpajang rapi di setiap rak yang ada di toko buku pasti terasa sangat menyenangkan. Buku-buku tersebut biasanya didistribusikan dari penerbit dengan masing-masing judul dicetak dengan jumlah eksemplar yang telah ditentukan. Penerbit mayor, misalnya, akan mencetak minimal 1.000 eksemplar untuk setiap judul. Jumlah tersebut kemudian akan didistribusikan ke toko-toko buku yang telah menjalin kerja sama. Normalnya, target penjualan dengan jumlah tersebut dapat tercapai dalam 3-6 bulan. Namun, apakah setiap judul dengan jumlah cetakan tersebut dapat terjual habis sesuai dengan target normal?

Kenyataannya, tidak semua buku dapat mencapai hal tersebut. Apalagi untuk sejumlah judul buku yang kurang populer atau pembahasan yang sepi peminat. Rasanya akan sulit bagi buku-buku tersebut mencapai targetnya. Tidak hanya membutuhkan waktu beberapa bulan lebih lama, bahkan bisa bertahun-tahun buku tersebut masih tersedia stoknya dari cetakan pertama. Alhasil, buku-buku tersebut bisa berakhir menjadi limbah buku dalam industri percetakan.

Menurut Words Rated dalam Chicago Review of Books, setiap tahun lebih dari 160.000 truk bermuatan buku yang belum dibaca terbuang sia-sia. Hal tersebut membuat 10 juta pohon yang digunakan untuk memproduksinya menjadi terbuang sia-sia. Lebih lanjut lagi, dijelaskan bahwa kertas menyumbang 26% limbah di tempat pembuangan sampah di seluruh dunia. Selain itu, tinta yang digunakan untuk mencetak buku dari buku anak-anak yang dicetak berwarna dengan kertas mengkilap dan buku bersampul keras yang tidak terjual habis juga berpeluang mencemari udara, air, dan tanah.

Bukankah hal tersebut memperlihatkan bahwa kita memiliki masalah limbah buku dalam industri percetakan? Pohon yang ditebang untuk produksi buku adalah bentuk gangguan terhadap ekosistem. Segala jenis makhluk hidup yang menggantungkan kehidupan mereka menjadi kehilangan ruang menemukan makanan dan tempat berlindung. Setiap pohon yang ditebang juga melepaskan karbon dioksida dan gas rumah kaca ke atmosfer yang membuat terganggunya karbon alami pohon.

Menurut Danny McLoughlin, penerbitan buku merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca industri terbesar ketiga.

Barangkali, kita sering berpikir karena membaca buku adalah kegiatan positif dan memiliki banyak manfaat, kita jadi mengabaikan beberapa hal yang bisa menjadi bahaya bagi lingkungan yang ditimbulkannya. Salah satunya adalah berasal dari konsumsi berlebihan terhadap buku. Bagi para pecinta buku—sering atau tidak—pasti pernah terlintas di pikiran untuk memiliki atau menciptakan perpustakaan pribadi. Lengkap dengan rak-rak yang menempel di dinding dan dipenuhi buku-buku dari penulis favorit.

Untuk mewujudkannya, satu per satu buku mulai dibeli sebagai langkah awal. Hingga pada akhirnya, terdapat kesempatan melakukan pembelian buku-buku dalam jumlah yang besar. Belum lagi jika sedang ada potongan harga yang sangat bagus. Hal tersebut bisa menjadi salah satu penyumbang pembelian berlebihan yang dapat menimbulkan penumpukan barang karena buku yang dibeli dengan jumlah banyak sekaligus biasanya tidak langsung dibaca dalam satu waktu, bukan?

Bahan lain dari limbah buku dalam industri percetakan juga disumbang melalui pengoperasian dan pemeliharaan kantor, gudang, serta bangunan lainnya. Dalam pengoperasian dan pemeliharaan tersebut, tidak dapat dipungkiri memerlukan energi yang bisa menghasilkan jejak karbon.

Hal Lain yang Termasuk Penyumbang Limbah Buku dalam Industri Percetakan

Pada pembahasan di atas, buku yang dicetak dan tidak terjual kemudian berakhir dibuang dan kertas serta tinta sisa produksi jelas merupakan limbah buku dalam industri percetakan. Selain hal tersebut, terdapat beberapa hal dalam proses pendistribusian kepada pembaca—terutama pembelian online—juga menghasilkan limbah yang sebaiknya perlu dikurangi.

Limbah lainnya tersebut berupa plastik wrapping atau plastik yang biasa digunakan untuk menyegel buku setelah dicetak agar buku menjadi terlindungi dari kerusakan fisik (goresan, debu, kotoran, dan kelembapan selama penyimpanan atau pengiriman). Ketika membeli buku secara online, buku biasanya dikemas menggunakan plastik atau kertas berwarna yang mudah kusut. Belum lagi aksesoris atau pernak-pernik yang diberikan sebagai bonus. Barang-barang tersebut sering kali berakhir di pembuangan sampah. Menurut Lucy Kogler, penulis tetap Lit Hub, dalam tulisan berjudul The Publishing Industry Has a Serious Waste Problem and It Needs to Stop Now, aksesoris atau pernak-pernik tersebut tidak memiliki nilai intrinsik. Hanya sebuah nilai tambah yang ilusif.

Lucy Kogler juga memberikan pandangannya terhadap sampul pelindung pada buku. Ia menganggap hal tersebut tidak efisien dalam mempresentasikan buku. Penyebabnya adalah dalam produksi sampul pelindung dapat menimbulkan pemborosan bahan yang cukup besar.

Solusi Berkelanjutan yang Dapat Diterapkan untuk Mengurangi Limbah Buku dalam Industri Percetakan

Kita memang tidak bisa mengurangi secara langsung dan keseluruhan limbah buku dalam industri percetakan. Meski begitu, terdapat beberapa solusi berkelanjutan yang dapat diterapkan agar limbah yang dihasilkan berkurang meski sedikit demi sedikit.

Beberapa penerbit, seperti John Wiley & Sons, Hachette, HarperCollins, Penguin Random House, Simon & Schuster, Scholastic, dan Pearson Education, telah melakukan transformasi bahan baku dengan menggunakan kertas berkelanjutan dan alternatif. Kelompok penerbit tersebut telah bergerak ke arah penggunaan kertas bersertifikat, seperti FSC dan SFI, bahkan meningkatkan proporsi bahan daur ulang.

Solusi berkelanjutan yang mereka lakukan, yaitu sebagai berikut.

  • Meningkatkan penggunaan kertas daur ulang pascakonsumsi hingga 100% secara bertahap.

  • Mengembangkan bahan alternatif nonkayu, seperti serat tebu, rami, atau bambu.

  • Mengurangi gramatur kertas (kertas ringan) tanpa menurunkan kualitas.

  • Mendorong standar industri global untuk sertifikasi bahan baku wajib.

Kelompok penerbit, seperti John Wiley & Sons, Macmillan, Penguin Random House, dan McGraw Hill, melakukan dekarbonisasi operasi dan energi. Mereka telah mengarah pada netral karbon, penggunaan energi terbarukan, dan efisiensi bangunan. Solusi berkelanjutan yang mereka terapkan, yaitu sebagai berikut.

  • Transisi penuh ke energi terbarukan di percetakan dan kantor.

  • Menerapkan standar bangunan hijau (LEED).

  • Mengurangi jejak fisik (ruang kantor/gudang) melalui digitalisasi.

  • Offset karbon melalui program lingkungan (misalnya reboisasi).

  • Mengurangi deforestasi (kontributor 46% emisi), sekaligus menekan limbah produksi sejak hulu.

Kelompok penerbit HarperCollins, McGraw Hill, Scholastic, dan Simon & Schuster melakukan optimalisasi limbah dan daur ulang. Mereka telah mencapai tingkat daur ulang tinggi, termasuk limbah kertas dan kemasan. Solusi berkelanjutan yang diterapkan sebagai berikut,

  • Menerapkan zero waste policy di percetakan dan gudang.

  • Menggunakan kembali limbah kertas sebagai bahan pengemasan (shredded paper).

  • Menghapus plastik laminasi pada sampul buku.

  • Menggunakan tinta berbasis nabati dan nontoksik.

Ada pula penerbit Pearson Education yang melakukan percepatan transformasi digital, didukung tren industri global, yang terbukti menurunkan emisi dari produksi fisik. Solusi berkelanjutan dari penerbit yang satu ini, yaitu sebagai berikut.

  • Mendorong distribusi e-book dan audiobook sebagai pelengkap, bukan pengganti total.

  • Mengoptimalkan satu perangkat digital untuk penggunaan jangka panjang.

  • Mengintegrasikan model hybrid: cetak + digital.

Produksi berlebih menjadi sumber utama limbah buku karena banyak stok tidak terjual. Solusi berkelanjutan lainnya yang bisa diterapkan, yaitu efisiensi produksi yang dapat dilakukan dengan cetak sesuai kebutuhan. Penerbit bisa menerapkan print-on-demand (cetak sesuai permintaan), mengurangi oplah awal dan menggunakan sistem cetak bertahap, dan memanfaatkan data penjualan real-time untuk prediksi produksi yang lebih akurat.

Reformasi distribusi dan logistik juga perlu diterapkan. Perlu kita ketahui bahwa distribusi menyumbang sekitar 14% emisi gas rumah kaca. Solusi berkelanjutan dalam menangani hal ini, yaitu penerbit bisa bekerja sama dengan percetakan lokal untuk mengurangi jarak distribusi, mengoptimalkan ukuran dan bahan kemasan (hindari kertas tebal berlebih), menggunakan material pengemasan ramah lingkungan, seperti selulosa atau rami, dan mendesain kemasan yang kuat untuk mengurangi kerusakan buku saat pengiriman.

Biaya tinggi, ketersediaan bahan terbatas, dan teknologi yang belum merata merupakan masalah utama dalam mengurangi limbah industri penerbitan. Karena itu, perlu adanya kolaborasi industri dan inovasi teknologi. Solusi berkelanjutan yang bisa dilakukan penerbit, yaitu investasi bersama dalam riset bahan daur ulang dan teknologi cetak hijau, berkolaborasi antara penerbit, percetakan, dan regulator. Memanfaatkan insentif pemerintah untuk produksi berkelanjutan dan standarisasi global dalam manufaktur buku ramah lingkungan.

Hasil yang akan didapatkan dari menerapkan solusi berkelanjutan tersebut, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengurangi limbah buku tidak terjual yang sering berakhir di gudang atau tempat pembuangan.

  2. Menekan emisi dari operasional dan infrastruktur yang selama ini luput dari perhatian.

  3. Mengurangi limbah akhir, sekaligus meningkatkan siklus hidup material buku.

  4. Menekan emisi transportasi, sekaligus mengurangi limbah dari buku rusak.

  5. Mengurangi ketergantungan pada produksi massal buku fisik.

  6. Mengatasi hambatan struktural yang selama ini menghambat perubahan skala besar.

  7. Mengurangi permintaan produksi baru yang tidak perlu.

Selain pihak penerbit, penulis juga dapat memberikan sumbangsih dalam mengurangi limbah. Misalnya, J.K. Rowling pada tahun 2003 memberikan syarat agar salinan buku yang diproduksi menggunakan bahan berkelanjutan atau daur ulang.

Konsumen dan ekosistem membaca juga memiliki peran yang cukup penting dalam mengurangi limbah buku dari industri percetakan ini. Solusi berkelanjutan yang dapat dilakukan adalah mendorong penggunaan perpustakaan dan buku bekas, memperpanjang umur pakai buku melalui sirkulasi, dan edukasi pembaca tentang jejak karbon buku.

Solusi pengurangan limbah buku tidaklah bisa berdiri sendiri pada satu tahap produksi. Pendekatan yang efektif harus mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari bahan baku, produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Pola yang terlihat dari berbagai penerbit besar menunjukkan bahwa masa depan industri percetakan buku akan bergantung pada tiga hal utama, yaitu efisiensi produksi, inovasi material, dan transformasi sistem distribusi.

Tanpa kolaborasi menyeluruh, upaya individu hanya akan berdampak terbatas. Namun, dengan strategi terintegrasi, industri ini tetap dapat berkembang tanpa memperparah krisis lingkungan.


Sumber referensi:
https://chireviewofbooks.com/2023/12/07/book-waste-the-dangers-of-publishing-and-the-ethical-consumption-of-books/
https://publishyourpurpose.com/blog/environmental-impact-book-publishing/
https://lithub.com/the-publishing-industry-has-a-serious-waste-problem-and-it-needs-to-stop-now/
https://wordsrated.com/impact-of-book-publishing-on-environment/

Pemeriksa aksara: Mikha

Ayo pesan sekarang!
add_action('wp_footer', function() { ?>