Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Perpustakaan Keliling: Jendelaku Mengelilingi Dunia melalui Halaman-Halaman Buku
786 kata • 4 menit baca

🎧 Dengarkan artikel ini:

Ditulis oleh Yasinta Maulida Azzahra*

Perpustakaan Keliling: Jendelaku Mengelilingi Dunia melalui Halaman-Halaman Buku

SAAT masih kecil, bisa dibilang aku memiliki keterbatasan untuk mengakses buku bacaan karena pada masa itu ekonomi keluargaku sedang kurang baik. Selain itu, tidak banyak keluargaku yang tertarik dengan dunia membaca. Jadi, membeli buku bacaan bukan hal yang sepertinya penting—pada masa itu. Di rumah, sebenarnya ada beberapa buku. Namun, buku-buku itu tidak dapat aku baca karena bukan untuk anak seusiaku.

Buku-buku itu milik tante yang saat itu juga telah merantau ke Jakarta. Buku-buku itu terlihat lama dan usang. Aku pernah mencoba membacanya karena penasaran, seperti apa sih buku-buku orang dewasa? Namun, ternyata isinya tidak dapat kumengerti dan rasanya tidak menarik untukku. Hanya ada tulisan-tulisan panjang tanpa gambar—membosankan.

Aku masih ingat sekali—saat itu kelas 4 SD. Suatu hari, teman-temanku ramai membicarakan tentang majalah Bobo. Lantas, beberapa hari kemudian, beberapa temanku ada yang membawanya ke sekolah. Sambil menunjukkan isi di dalamnya, mereka juga dengan bangga menceritakan bagaimana saat orang tua mereka membelikan majalah itu. Saat itu, aku ikut berkerumun mengelilingi majalah Bobo yang diletakkan di atas meja.

Aku merasa sangat tertarik karena tampilannya warna-warni dan ada banyak sekali gambar. Namun, aku hanya dapat merasa kagum saja tanpa bisa memilikinya. Setelah hari itu, aku terkadang membayangkan betapa serunya jika aku dapat membaca halaman demi halaman di majalah Bobo itu.

Kupikir, itu semua memang hanya akan menjadi angan-anganku saja. Namun, sebuah hal baik datang tanpa pernah terpikirkan olehku. Perpustakaan keliling. Aku tidak terlalu ingat kapan persisnya perpustakaan keliling itu datang untuk pertama kalinya ke sekolahku. Namun, yang aku ingat, perpustakaan keliling tersebut datang setiap seminggu sekali di hari Jumat. Aku juga masih ingat dengan jelas mobil putih itu mangkal di jalanan samping sekolah dengan membawa buku-buku bacaan yang tersusun rapi di dalamnya.

Sejak kedatangan perpustakaan keliling ke sekolah, aku tidak berpikir dua kali untuk mendaftarkan diri menjadi anggota tetap. Kenapa tidak? Aku dapat meminjam buku secara gratis setiap seminggu sekali dengan maksimal dua buku pinjaman. Bahkan, aku pernah berani bernegosiasi supaya dapat meminjam tiga buku—walaupun ditolak. Baiklah tidak apa-apa, dua buku sebenarnya sudah sangat cukup untukku. Saat itu, aku hanya merasa sangat bersemangat sehingga rasanya ingin membaca semua buku yang mereka bawa.

Hal yang membuatku lebih antusias menunggu kedatangan perpustakaan keliling adalah karena sesekali aku cukup beruntung menemukan majalah Bobo di koleksi rak yang mereka bawa turun ke pinggir jalan. Itu rak khusus berisi majalah dan semacamnya. Jika mengingat momen itu, hatiku kembali merasa hangat dan senang karena akhirnya aku bisa membaca majalah yang pernah kupikir hanya akan menjadi angan-angan masa kecilku saja.

Dari majalah Bobo, aku mendapatkan banyak inspirasi untuk menggambar karena ada banyak sekali gambar menarik di dalamnya. Aku sampai-sampai pernah memiliki keinginan untuk mengirimkan hasil gambarku ke majalah Bobo supaya dapat dimuat, tetapi itu tidak pernah terwujud karena saat itu aku tidak terlalu paham bagaimana caranya. Lagi dan lagi, tidak apa-apa, aku tetap senang dan bersyukur karena setidaknya aku pernah membaca majalah Bobo.

Selain majalah Bobo, aku juga paling sering meminjam buku ensiklopedia. Buku-buku itu berat dan tebal, tapi itulah yang menarik perhatianku. Sampulnya yang lebih tebal dari buku lain, kertasnya yang mengilap dengan gambar-gambar tak kalah menarik di dalamnya, juga informasi yang tidak pernah diajarkan di sekolah, itulah yang membuatku semakin menyukainya. Dari buku-buku ensiklopedia, aku dapat membaca tentang luar angkasa, binatang-binatang unik, keajaiban bawah laut, fakta unik tentang tubuh manusia, dan banyak hal lain yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui.

Pulang sekolah saat hari Jumat terasa begitu menyenangkan sejak kehadiran perpustakaan keliling. Aku berjalan kaki menuju rumah dengan tidak sabaran—terkadang, aku sudah membuka halamannya sambil terus melangkahkan kakiku. Saat sudah tiba di rumah, aku sudah tidak ingat untuk berganti pakaian ataupun makan. Yang kulakukan justru langsung berbaring di sofa panjang dan mulai membaca halaman demi halaman buku yang telah aku pinjam. Saat itu, rasanya seperti sedang membuka jendela ke dunia yang lebih jauh dan luas.

Dari sanalah, perasaan sukaku terhadap buku perlahan tumbuh semakin besar. Perpustakaan keliling yang sederhana itu menjadi awal dari perjalananku mengenal lebih jauh tentang dunia membaca. Meskipun saat itu aku tidak memiliki banyak buku sendiri, pengalaman saat meminjam dan membaca buku dari perpustakaan keliling itu sudah cukup untuk membuatku semakin jatuh cinta dan memiliki keinginan untuk memiliki banyak buku-buku bacaan di masa mendatang.

Dari perpustakaan keliling, aku belajar bahwa meski langkahku terbatas, imajinasiku dapat membawaku mengelilingi dunia melalui halaman-halaman buku. Sejak saat itu, kesukaanku pada dunia membaca terus berlanjut hingga aku remaja, menginjak usia dewasa, dan kuharap tetap bertahan hingga di hari-hari esok, bahkan saat aku tua.

 *Yasinta Maulida Azzahra, lulusan Sastra Indonesia yang tertarik pada dunia bahasa. Ia juga memiliki bakat dan minat pada dunia seni sejak kecil. Menurutnya bahasa dan seni adalah perpaduan yang tepat untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman yang telah dilaluinya.

Pemeriksa aksara: Mikha

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayo pesan sekarang!