DI tengah perkembangan teknologi alat rekam, tulisan tetap menjadi hal penting karena memberikan pengalaman yang baru—imajinasi, keluasan makna, hingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru—dan dengan mencetaknya menjadi sebuah buku adalah sebuah upaya menjaga ingatan. Tulisan merupakan bagian dari peradaban, itu pasti. Dan buku merupakan usaha untuk menjaga ingatan-ingatan dari peradaban tersebut.
Mencetak buku tidak berhenti hanya menjaga ingatan-ingatan. Bagi penulis atau pembaca, mencetak buku juga dapat menjadi bagian dari metode pembelajaran. Sama halnya dengan pintu gerbang yang tidak jelas batasnya, proses membaca juga tak jelas kapan berakhirnya.
Bagi kamu yang memutuskan menulis, kemudian berniat untuk mencetaknya menjadi sebuah buku, kamu tidak hanya turut menjaga ingatan dan menyebarluaskan pengetahuan. Namun, kamu juga sedang berupaya untuk dapat meningkatkan personal branding, berbagi pengalaman dan pengetahuan, menambah portofolio, menambah penghasilan, hingga sebuah usaha dari investasi di masa depan di zaman serba mudah berkat teknologi, seperti saat ini.
Lalu, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mencetak buku? Dan bagaimana alur cetak buku tersebut? Berikut ini penjelasan teknisnya secara garis besar.
Naskah diterima dari pihak yang akan mencetak buku. Setelah itu, naskah akan diproses oleh bagian layouter untuk disetting atau disesuaikan dengan mesin cetak yang digunakan. Setelah proses setting selesai, layouter akan berkomunikasi dengan pihak operator untuk mencetak isi ataupun kover buku (jika menggunakan mesin cetak offset akan dilakukan plat terlebih dahulu. Ada plat berbahan baku kertas atau plat berbahan baku seng). Setelah keduanya selesai, kover buku akan dilaminasi terlebih dahulu sebelum memasuki proses binding atau penjilidan. Setelah laminasi, pemotongan kertas sesuai ukuran dilakukan dengang memberi ruang kertas yang dihitung untuk pengeleman. Setelah itu, penyusunan halaman dan kemudian penjilidan yang dilakukan dengan lem panas ataupun dengan steples (jika buku tipis). Setelah selesai dijilid, selanjutnya akan dirapikan sesuai ukuran buku yang tertera di halaman copyright atau sesuai permintaan awal. Kemudian, biasanya akan dicek terlebih dahulu atau yang biasa dikenal dengan quality check untuk memeriksa apakah urutan halaman aman, isi aman, atau penjilidan aman. Terakhir adalah sring atau wrapping, yaitu membungkus buku yang sudah selesai cetak dengan plastik. Buku yang sudah final akan siap dikemas untuk dikirim ke pemesan.

Nah, apakah sudah jelas tentang alur percetakan buku? Jika kamu sedang membutuhkan bantuan untuk mencetak buku, kamu bisa kontak kami untuk bekerja sama mewujudkan keinginanmu lho! [istiqbalul fitriya-red.]
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati