Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Aguri

Rp56.250

Berisi tiga cerita yang dipilih dari cerpennya yang berjudul Seven Japanese Tales terjemahan Howard Hibbett. Tiga cerita itu adalah Aguri; Teror; dan Potret Shunkin. Ketiganya memiliki warna yang hampir identik yaitu penghambaan dan ketakutan. Dalam racikan khas prosa Tanizaki, di sini kita dapat menemukan bagaimana tokoh seperti Okada ataupun Sasuke begitu terikat pada sosok wanita dan rela menderitra dan menganggapnya kenikmatan—sebagaimana cerita-cerita terkenal Tanizaki lainnya seperti Naomi dan The Key. buku ini cocok dinikmati sebagai cerminan diri sendiri yang mencintai atau dicinta.

 

Aguri

Rp56.250

Berisi tiga cerita yang dipilih dari cerpennya yang berjudul Seven Japanese Tales terjemahan Howard Hibbett. Tiga cerita itu adalah Aguri; Teror; dan Potret Shunkin. Ketiganya memiliki warna yang hampir identik yaitu penghambaan dan ketakutan. Dalam racikan khas prosa Tanizaki, di sini kita dapat menemukan bagaimana tokoh seperti Okada ataupun Sasuke begitu terikat pada sosok wanita dan rela menderitra dan menganggapnya kenikmatan—sebagaimana cerita-cerita terkenal Tanizaki lainnya seperti Naomi dan The Key. buku ini cocok dinikmati sebagai cerminan diri sendiri yang mencintai atau dicinta.

 

  • Detail Buku
  • Tentang Penulis
  • Review Buku
  • Testimoni

Penulis Junichiro Tanizaki

Penerjemah Bagus Dwi Hananto

Dimensi11x18cm

Tebalviii + 172 halaman

CetakanTahun: 2020

ISBN/QRCBN978-623-7258-92-6

Finishingsoft cover

Stok 8 pcs

Junichiro Tanizaki

Lahir di Tokyo tahun 1886. Merupakan pengarang terdepan akhir Meiji, Taisho, sampai era Showa dan ditahbiskan sebagai salah satu pengarang modern terbesar Jepang. Memulai debutnya pada 1909 dengan menerbitkan sebuah drama satu babak. la tinggal di Tokyo sampai pindah ke Kyoto pada 1923. Tanizaki mulai dikenal setelah kepindahannya ke Kyoto akibat gempa bumi dahsyat Kanto. Gempa yang menghancurkan banyak tempat bersejarah dan kawasan permukiman di Tokyo menyebabkan minat dirinya berubah. Dari kecintaan terhadap Barat dan modernitas, Tanizaki beralih kepada estetisisme Jepang, terutama kebudayaan Kansai. Novel pertamanya yang ditulis pascagempa adalah Naomi (1924-1925). Novel itu disambut baik oleh pembaca, bercerita tentang perempuan remaja yang dipaksa terbaratkan oleh walinya yang begitu terobsesi padanya. Novel Quicksand (1928-1929) mengisahkan hubungan sejenis dua wanita modern dari kalangan atas Osaka. Dan karya berikutnya adalah Some Prefer Nettles (1928-1929) tentang penemuan jati diri bertahap seorang lelaki asal Tokyo yang tinggal di sekitar Osaka, sehubungan dengan pengaruh Barat. Kebangkitan kembali minat Tanizaki dalam sastra Jepang terpantik pada penerjemahan Hikayat Genji ke bahasa modern di tengah berlangsungnya Perang Pasifik. la juga menulis novel yang di kemudian hari menjadi adikarya, yaitu Sasameyuki yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Makioka Sisters (1943-1948). Tanizaki meninggal dunia pada 1965. Setelah itu, untuk menghormati kepengarangannya, dibuatlah Penghargaan Tanizaki bagi karya fiksi dan drama.

Review Pembaca (0)

Belum ada review

Testimoni Pembeli (0)

Belum ada testimoni

Buku Terkait
Ayo pesan sekarang!
add_action('wp_footer', function() { ?>