Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Dari Hutan ke Hati Anak:Membaca Nilai Kehidupan dalam “Sayembara Sang Raja Kera,Buah Kejujuran, dan Gagak-Gagak”
1,028 kata • 5 menit baca

🎧 Dengarkan artikel ini:

oleh Maya Lestari Gf*

Kera, gagak, dan landak. Siapa nyana ketiga hewan ini dapat mengajarkan hal-hal seperti kejujuran dan kedermawanan? Itulah yang diceritakan dalam fabel “Sayembara Sang Raja Kera, Buah Kejujuran, dan Gagak-Gagak” karya Polanco S. Achri. Fabel ini berisi lima cerita yang membawa pembaca ke dunia yang dihuni kera, gagak, landak, dan berbagai binatang lain. Namun, sesungguhnya yang sedang dibicarakan adalah manusia: tentang keserakahan dan kemurahan hati, kejujuran, pertolongan yang datang dari arah yang tak disangka, kehilangan, serta bagaimana seseorang belajar bersyukur atas apa yang dimilikinya.

Fabel sejak awal memang mempunyai paradoks yang menarik. Binatang berbicara, berpikir, membuat keputusan, bahkan memiliki kerajaan seperti manusia. Dengan cara ini, sebuah fabel dapat membicarakan manusia tanpa harus menunjuk manusia secara langsung. Kera bisa menjadi raja, gagak bisa menjadi pengganggu, dan binatang-binatang kecil boleh menjadi pihak yang tertindas. Namun di balik bulu, paruh, cakar, dan liarnya rimba raya, pembaca bisa menemukan sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk menang, takut kehilangan, kebutuhan untuk diakui, dan harapan untuk diperlakukan dengan baik.

Cerita pertama, yakni Sayembara Sang Raja Kera, menarik terutama karena menghadirkan persoalan kekuasaan dan kepemimpinan. Raja Kera tidak sekadar ditempatkan sebagai tokoh yang memiliki kedudukan, tetapi menjadi pusat dari persoalan yang mempertemukan berbagai tokoh. Sayembara memberi mekanisme untuk menguji tokoh-tokohnya: siapa yang curang, siapa yang jujur, siapa yang memiliki kecerdikan. Di sini fabel bekerja dengan cara yang klasik: peristiwa menjadi ujian terhadap watak.

Sementara itu cerita kedua, Buah Kejujuran, menggunakan hubungan yang lebih langsung antara tindakan dan dampaknya. Kejujuran hadir sebagai sesuatu yang dialami tokoh. Dalam cerita anak, pola semacam ini memang cenderung disukai karena anak dapat melihat bahwa nilai moral bukan sesuatu yang abstrak. Ia mempunyai akibat dalam kehidupan. Pertolongan Tidak Terduga menawarkan lapisan yang sedikit berbeda. Cerita ini menarik karena gagasan pertolongan justru diletakkan pada sesuatu yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dalam kehidupan, orang yang menolong kita tidak selalu orang yang kita kenal, dan bantuan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Fabel ini berkembang dari fenomena tersebut. Dalam cerita ini, tokoh mengalami kesulitan, kemudian hadir pihak lain yang membantu. Ada semacam pembalikan keadaan, dimana yang semula lemah, ternyata dapat menjadi penolong. Yang semula mampu ternyata akhirnya tetap butuh orang lain. Cerita ini mengandung pelajaran sosial: tidak ada makhluk yang sepenuhnya berdiri sendiri.

Linlin dan Pelajaran Bersyukur bergerak pada wilayah yang lebih reflektif. Linlin diceritakan sebagai landak yang cemburu pada burung-burung. Ia menyesali, kenapa dirinya tidak bisa terbang dan tidak punya bulu-bulu seindah burung-burung di hutan. Linlin tumbuh menjadi landak yang butuh validasi hewan lain, sehingga ia lupa pada keberadaan dirinya sendiri. Cerpen ini menarik didiskusikan bersama anak-anak yang masih belajar menemukan tempatnya di dunia ini.

Adapun kisah Sang Raja Kera dan Gagak-Gagak kembali menghadirkan Raja Kera dan penasihatnya, Monmon. Jika dua cerita yang menggunakan tokoh Raja Kera ini ditempatkan berdekatan secara konseptual, tampak adanya upaya membangun sosok yang bukan sekadar tokoh sekali muncul, melainkan figur yang dapat membawa persoalan berbeda dari satu cerita ke cerita lain. Dalam cerita ini, persoalan dengan gagak-gagak memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu berarti kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu sendirian. Seorang raja sekalipun dapat berada dalam situasi yang membuatnya harus mempertimbangkan keberadaan pihak lain. Cerita ini memberi pelajaran berharga bagi anak, bahwa kepemimpinan sebenarnya bukan soal siapa yang terkuat, tapi bagaimana seseorang mengambil keputusan dan memperlakukan makhluk lain.

Perspektif Sastra Anak

Ditinjau dari perspektif sastra anak, kumpulan fabel ini memperlihatkan kecenderungan yang kuat pada pada pembentukan nilai. Kelima cerita menggunakan dunia hewan sebagai ruang untuk membincangkan persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia. Tokoh-tokoh hewan memberi jarak imajinatif yang memungkinkan anak berhadapan dengan persoalan moral tanpa merasa sedang diberi pelajaran secara langsung.

Yang menarik, kelima cerita tidak berhenti pada satu nilai moral yang berdiri sendiri. Ada benang merah berupa hubungan antartokoh. Tokoh-tokohnya mengalami situasi ketika mereka harus memilih antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain. Hal ini terlihat antara lain dalam Buah Kejujuran, Pertolongan Tidak Terduga, serta Sang Raja Kera dan Gagak-Gagak.

Dari sisi penokohan, ada potensi karakter dibentuk melalui persoalan yang mereka hadapi. Linlin, misalnya, menjadi menarik bukan semata-mata karena ia seekor landak, melainkan karena ia mengalami ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri dan kemudian memperoleh pengalaman yang mengubah cara pandangnya. Persoalan semacam ini sangat relevan dalam sastra anak karena anak sedang berada dalam proses mengenali diri, membandingkan dirinya dengan orang lain, sekaligus belajar menerima kelebihan dan kekurangannya. Dengan menjadikan pengalaman Linlin sebagai sumber perubahan, cerita memiliki kemungkinan menghadirkan nilai penerimaan diri.

Pada aspek alur, kelima fabel menggunakan pola yang relatif konvensional: tokoh menghadapi masalah, mengalami konflik, menemukan penyelesaian, lalu memperoleh pembelajaran. Pola semacam ini umum ditemukan dalam cerita anak karena hubungan sebab-akibatnya mudah dikenali. Anak dapat memahami bahwa tindakan tertentu menghasilkan konsekuensi tertentu. Akan tetapi, secara sastra, pola tersebut juga membuat cerita cenderung dapat diprediksi. Kekuatan cerita anak tidak harus terletak pada kerumitan alurnya, tetapi dapat muncul melalui kejutan, ironi, konflik batin, humor, atau perubahan yang tidak sepenuhnya diduga pembaca. Unsur-unsur tersebut masih dapat diperbesar untuk membuat fabel lebih hidup.

Persoalan paling penting dalam kumpulan ini, menurut saya, adalah ketegangan antara fungsi mendidik dan fungsi bersastra. Buku ini sangat jelas ingin mengajarkan sesuatu kepada pembacanya. Sastra anak memang secara umum cenderung membawa nilai-nilai tertentu. Namun, yang terpenting, bagaimana nilai tersebut dihadirkan. Dalam beberapa bagian, cerita cenderung mengarahkan pembaca secara eksplisit kepada pelajaran yang harus diperoleh tokoh. Ketika setelah konflik selesai narator menjelaskan secara langsung bahwa tokoh telah belajar tentang kejujuran, bersyukur, atau kebaikan. Ruang interpretasi pembaca menjadi lebih sempit.

Secara keseluruhan, fabel ini memiliki fondasi yang kuat sebagai bacaan sastra anak berbasis nilai. Kekuatannya ada pada kemampuan mengubah persoalan abstrak menjadi pengalaman konkret melalui tindakan tokoh. Ke depannya, jika memungkinkan untuk dieksplorasi lebih lanjut, cerita bisa memberi ruang lebih banyak kepada anak untuk merasakan, menafsirkan, dan menemukan makna. Pesan tidak harus selalu berada di ujung cerita sebagai kesimpulan. Ia dapat bersembunyi dalam pilihan tokoh, konflik, dialog, kejutan, bahkan dalam gambar. Dengan begitu, anak tidak semata mendapat sebuah nasihat, tetapi juga mendapat pengalaman estetik dan refleksi tentang dirinya sendiri.

Yogyakarta, 5 September 2026

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayo pesan sekarang!