Ditulis oleh Adyatama Santoso*
Identitas Buku
Judul: Peran Imajinasi Dalam Seni: Pengantar membaca naskah adaptasi
Penulis: Yogie Pranowo
Penerbit: Rua Aksara
Cetakan: cetakan kedua, 2026
Dimensi: 15 x 23cm
Tebal: 282 Halaman
ISBN: 978-602-53121-6-8
Harga: Rp 100.000
============================================================
Cara Penulis Mengajak Kita Berimajinasi untuk Memahami Seni
SENI sering kali dipandang dari dua kutub yang ekstrem. Pertama, sebuah entitas “luhur” yang hanya bisa dijamah oleh mereka dengan keahlian khusus. Kedua, sekadar hiburan pelepas penat bagi masyarakat awam. Buku ini muncul untuk membedah kebuntuan tersebut. Berangkat dari tesis magister di bidang filsafat, sang penulis melakukan upaya ambisius untuk mendaratkan pemikiran fenomenologis Jean-Paul Sartre mengenai imajinasi ke dalam wilayah praksis seni, khususnya teater.
Melalui struktur yang sistematis, buku ini tidak hanya berbicara tentang “apa itu seni,” tetapi lebih dalam lagi mengenai “bagaimana seni bekerja dalam kesadaran manusia.” Dengan landasan psikologis dan fenomenologis, buku ini mengajak kita melihat bahwa karya seni bukanlah benda mati yang statis, melainkan sebuah analogon sebuah jembatan yang menghubungkan realitas fisik dengan dunia imajinatif.
Pada bab-bab awal, penulis meletakkan fondasi yang kokoh mengenai definisi imajinasi. Berbeda dengan pandangan umum yang menganggap imajinasi sebagai sekadar “lamunan”. Buku ini menegaskan bahwa imajinasi adalah keseluruhan kesadaran yang menyadari kebebasannya. Mengutip pemikiran yang senada dengan Bambang Sugiharto, seni dipandang sebagai aspek penting dalam kehidupan manusia, mulai dari hal teknis hingga yang paling metafisis.
Peran Besar Imajinasi dalam Seni
Menariknya, buku ini membawa kita pada sejarah singkat imajinasi dan menjawab pertanyaan krusial, mengapa imajinasi? Jawabannya terletak pada hakikat manusia sebagai subjek. Tanpa imajinasi, manusia hanya akan terkurung dalam aktualitas yang membosankan. Imajinasi adalah mesin yang memungkinkan manusia melakukan “pelampauan” terhadap yang riil.
Salah satu poin paling provokatif dalam buku ini adalah konsep karya seni sebagai irreality. Penulis menjelaskan bahwa ketika kita menatap sebuah lukisan atau menonton pertunjukan teater, yang kita lihat sebenarnya bukan sekadar tumpukan cat di atas kanvas atau aktor yang berkeringat di atas panggung. Objek-objek fisik tersebut hanyalah “materi” atau analogon.
Karya seni yang sesungguhnya ada pada ketidakhadirannya. Ia muncul saat kesadaran kita melampaui objek fisik tersebut menuju makna yang diimajinasikan. Inilah yang disebut sebagai dialektika kehadiran dan absensi. Sebuah karya seni hadir di hadapan kita, tetapi ia absen dari keberadaan riilnya karena ia adalah sebuah dunia imajiner. Konsep ini menuntut pembaca untuk berpikir secara kontemplatif mengenai batas-batas antara kenyataan dan persepsi.
Dalam salah satu isinya, buku ini membedah perbedaan tajam yang dibuat Sartre antara puisi dan prosa. Penulis menunjukkan betapa “beratnya” tanggung jawab seorang penulis prosa. Bagi Sartre, penyair menggunakan kata sebagai “benda” (things), bukan instrumen. Kata-kata dalam puisi kehilangan fungsionalitasnya untuk menunjuk makna langsung dan menjadi tujuan pada dirinya sendiri.
Sebaliknya, penulis prosa memiliki tugas moral untuk “menyingkap dunia.”. Kata-kata bagi penulis prosa adalah perpanjangan tubuh untuk menyentuh dan memaknai dunia. Di sini, buku ini menyentuh aspek politis dan etis dari kesenian. Penulis prosa tidak boleh tergoda oleh ketenaran atau keuntungan semata. Ia harus sadar bahwa melalui tulisannya, ia sedang membangun sebuah dunia yang akan dihidupi oleh pembacanya. Ini adalah sebuah bentuk “kutukan kebebasan” yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Setelah membawa pembaca berkelana di rimba teori yang padat, buku ini memberikan contoh konkret melalui Bab V yang membahas ulang naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett melalui kacamata Paul Ricoeur. Analisis ini menjadi jembatan yang sangat baik untuk memahami bagaimana teori imajinasi dan penafsiran bekerja pada sebuah karya sastra yang absurd.
Puncak dari upaya “mendaratkan” filsafat ini terlihat pada bagian akhir buku. Penulis menyertakan empat naskah adaptasi: Mr. Scrooge, Jaka Tarub, Kematian Caesar, dan Negeri Para Psikopat. Kehadiran naskah-naskah ini bukan sekadar lampiran, melainkan bukti konkret bagaimana imajinasi diterjemahkan ke dalam bentuk naskah yang siap dipentaskan. Naskah-naskah ini menjadi model bagi pendidik, remaja, dan pegiat seni untuk memahami bahwa seni itu dekat, relevan, dan bisa dipraktikkan.
Kontribusi Buku bagi Literatur Seni dan Filsafat
Harus diakui, buku ini bukanlah bacaan ringan yang bisa dilahap dalam sekali duduk. Penggunaan istilah-istilah filosofis seperti analogon, irreality, hingga pembahasan mengenai fenomenologi kesadaran membutuhkan konsentrasi tinggi. Struktur kalimatnya cenderung akademis dan “berat” serta mencerminkan asal-usulnya sebagai riset ilmiah. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Buku ini tidak meremehkan kecerdasan pembaca. Buku ini justru menantang pembaca untuk menaikkan level literasinya.
Contoh yang disertakan, seperti referensi ke lukisan Starry Night karya Van Gogh, membantu memberikan jangkar visual pada teori-teori yang abstrak. Tata letak daftar isi yang rapi juga memudahkan pembaca untuk memetakan alur berpikir penulis dari teori murni menuju aplikasi praktis.
Buku ini adalah kontribusi penting bagi khazanah literatur seni dan filsafat di Indonesia. Ia berhasil mengikis jarak antara pemikiran “menara gading” Jean-Paul Sartre dengan realitas panggung teater di Indonesia. Bagi mahasiswa seni, praktisi teater, atau siapa saja yang ingin memahami mengapa kita merasa “tergetar” saat melihat karya seni, buku ini menyediakan jawabannya secara metodis.
Secara keseluruhan, buku ini menegaskan bahwa menjadi seniman atau penikmat seni adalah sebuah tindakan eksistensial. Mempelajari imajinasi berarti mempelajari kebebasan kita sendiri sebagai manusia. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa di tengah dunia yang semakin virtual dan mekanis, imajinasi tetaplah menjadi benteng terakhir kemanusiaan kita untuk terus memaknai dan menyingkapkan dunia.