Ditulis oleh Sonya Tammimadya*
Judul: Psikologi Jawa: Konseptualisasi Kawruh Jiwa Suryomentaram
Penulis: Darmanto Jatman
Penerbit: Rua Aksara
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: 176 halaman
Cetakan Pertama: 2021
Cetakan Kedua: 2023
ISBN: 978-623-6650-15-8
Harga: Rp81.000
===========================================================
Pengalaman Awal Membaca: Psikologi yang Reflektif dan Membumi
MEMBACA buku Psikologi Jawa: Konseptualisasi Kawruh Jiwa Suryomentaram memberikan pengalaman yang berbeda dari kebanyakan buku psikologi yang pernah saya baca sebelumnya. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah merasakan bahwa buku ini tidak sekadar menyajikan teori, tetapi juga mengajak pembaca untuk masuk ke dalam proses refleksi diri yang cukup mendalam. Penulis menghadirkan gagasan psikologi bukan sebagai sesuatu yang jauh dan rumit, melainkan sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama melalui perspektif budaya Jawa yang terasa akrab namun sering kali luput dari perhatian.
Hal yang pertama kali menarik perhatian saya adalah bagaimana buku ini mencoba mengangkat konsep Kawruh Jiwa dari Ki Ageng Suryomentaram ke dalam kerangka yang lebih sistematis dan ilmiah. Saya melihat adanya upaya serius untuk menjembatani antara pengetahuan lokal dengan pendekatan akademik modern. Biasanya, konsep-konsep seperti ini hanya dipandang sebagai ajaran tradisional atau filsafat hidup. Namun, melalui buku ini, saya merasa bahwa Kawruh Jiwa memiliki kedalaman yang tidak kalah dengan teori-teori psikologi Barat. Bahkan, dalam beberapa bagian, saya justru merasa pendekatan ini lebih “membumi” karena berangkat dari pengalaman hidup yang nyata.
Mawas Diri: Latihan Melihat Diri Secara Jernih
Salah satu konsep yang paling membekas bagi saya adalah tentang rasa dan karep (keinginan). Buku ini menjelaskan bahwa sebagian besar pengalaman emosional manusia sebenarnya berakar dari keinginan-keinginan yang kita miliki. Ketika keinginan tersebut terpenuhi, kita merasa senang. Sebaliknya, ketika tidak terpenuhi, kita merasa kecewa, marah, atau sedih. Awalnya, konsep ini terdengar sederhana, tetapi semakin saya renungkan, semakin saya menyadari betapa relevannya dengan kehidupan sehari-hari saya. Saya mulai mengingat berbagai situasi di mana saya merasa tidak nyaman, dan ternyata memang ada keinginan tertentu yang tidak terpenuhi di baliknya.
Dari sini, saya merasa buku ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga semacam alat untuk membaca diri sendiri. Saya jadi lebih peka terhadap apa yang saya rasakan, sekaligus lebih kritis dalam melihat sumber dari perasaan tersebut. Hal ini membuat pengalaman membaca menjadi lebih personal karena saya tidak hanya memahami isi buku. Saya juga secara tidak langsung “berdialog” dengan diri saya sendiri.
Konsep mawas diri yang dibahas dalam buku ini juga memberikan kesan yang cukup mendalam. Penulis menjelaskan bahwa mawas diri adalah kemampuan untuk mengamati diri sendiri secara jernih tanpa langsung memberikan penilaian. Bagi saya, ini adalah hal yang cukup menantang. Selama ini, saya sering kali secara otomatis menilai apa yang saya rasakan sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Namun, melalui buku ini, saya diajak untuk melihat perasaan tersebut apa adanya terlebih dahulu, sebelum memberi label apa pun.
Saya menyadari bahwa praktik mawas diri ini bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan kejujuran untuk benar-benar melihat diri sendiri tanpa bias. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Dengan memahami diri secara lebih objektif, saya merasa memiliki kesempatan untuk tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh emosi atau keinginan. Ada semacam jarak yang tercipta antara “saya” dengan apa yang saya rasakan, sehingga saya bisa merespons dengan lebih tenang.
Kekuatan Perspektif Budaya Jawa dalam Buku Psikologi Jawa
Buku ini juga mengubah cara pandang saya tentang kebahagiaan. Selama ini, saya mungkin—seperti banyak orang lainnya—cenderung mengaitkan kebahagiaan dengan hal-hal di luar diri, seperti pencapaian, pengakuan, atau hubungan dengan orang lain. Namun, melalui penjelasan dalam buku ini, saya mulai memahami bahwa kebahagiaan lebih berkaitan dengan bagaimana kita mengelola keinginan kita sendiri. Semakin besar ketergantungan kita pada keinginan-keinginan tersebut, semakin besar pula potensi kita untuk merasa tidak bahagia.
Pemikiran ini terasa cukup “menyentil” karena secara tidak langsung mengajak saya untuk mengevaluasi kembali apa yang selama ini saya anggap penting. Saya mulai mempertanyakan apakah keinginan-keinginan yang saya miliki benar-benar diperlukan, atau justru menjadi sumber ketidaktenangan dalam diri saya. Refleksi semacam ini membuat pengalaman membaca buku ini terasa lebih dari sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga menjadi proses kontemplatif.
Karena membahas psikologi dari sudut pandang Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram, buku ini juga dipenuhi dengan berbagai istilah dalam bahasa Jawa. Bagi pembaca yang kurang familiar dengan bahasa Jawa, hal ini mungkin akan menjadi tantangan tersendiri dan membuat beberapa bagian terasa sulit dipahami. Namun, hal tersebut sebenarnya sudah diantisipasi dengan baik oleh penulis. Di bagian belakang buku, terdapat halaman “Glosari Jawa” yang memuat penjelasan dari istilah-istilah yang digunakan. Keberadaan glosarium ini sangat membantu saya dalam memahami konteks dan makna istilah, sehingga proses membaca tetap bisa berjalan dengan nyaman.
Dari segi penyajian, saya juga melihat bahwa buku ini memiliki alur pembahasan yang cukup runtut dan sistematis. Penulis menyusun konsep-konsep yang ada secara bertahap, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan pemikiran dengan lebih jelas. Selain itu, penggunaan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membantu saya untuk lebih mudah memahami konsep yang sebenarnya cukup abstrak. Hal ini membuat isi buku terasa lebih hidup dan tidak terlalu kaku, sehingga tetap menarik untuk diikuti hingga akhir.
Meskipun demikian, saya juga merasa bahwa buku ini akan lebih mudah dipahami oleh pembaca yang sudah memiliki sedikit latar belakang dalam bidang psikologi atau filsafat. Bagi pembaca umum, beberapa istilah atau konsep mungkin terasa cukup abstrak. Akan tetapi, jika dibaca dengan perlahan dan disertai dengan refleksi pribadi, buku ini tetap bisa dinikmati dan memberikan banyak insight yang berharga.
Hal lain yang saya apresiasi dari buku ini adalah fokusnya yang konsisten dalam membahas psikologi dari sudut pandang budaya Jawa. Buku ini tidak mencoba membandingkan atau mengaitkannya secara luas dengan berbagai pendekatan lain, melainkan benar-benar mendalami konsep Kawruh Jiwa sebagai sebuah sistem pemahaman yang utuh. Bagi saya, hal ini justru menjadi kekuatan tersendiri karena pembahasan terasa lebih mendalam dan tidak melebar ke mana-mana. Dengan fokus tersebut, pembaca diajak untuk benar-benar memahami bagaimana manusia dipandang melalui perspektif budaya Jawa secara lebih spesifik dan mendalam.
Secara keseluruhan, membaca buku ini memberikan pengalaman yang reflektif sekaligus membuka wawasan baru bagi saya. Buku ini tidak hanya membantu saya memahami konsep-konsep psikologi dari sudut pandang yang berbeda, tetapi juga mendorong saya untuk lebih mengenal diri sendiri. Saya merasa bahwa buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin memperdalam pemahaman tentang diri, terutama melalui pendekatan yang lebih dekat dengan budaya kita sendiri.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa memahami diri bukanlah proses yang instan. Buku ini mengajarkan bahwa langkah awalnya bisa dimulai dari hal yang sederhana: menyadari apa yang kita rasakan, memahami dari mana asalnya, dan perlahan-lahan belajar untuk tidak sepenuhnya dikuasai oleh keinginan. Bagi saya, itulah nilai paling berharga yang saya dapatkan setelah membaca buku ini.