Ditulis oleh Bintang Brilian*
SAYA mulai berkenalan akrab dengan dunia literasi melalui satu buku dengan judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodoamat karya Mark Manson. Buku ini menjadi gerbang bagi saya dalam membaca dunia yang luas. Buku ini mengingatkan saya dengan karakter Squidward Tentacles dalam serial kartun Spongebob Squarepants. Awalnya, saya membeli buku bekas tersebut karena hanya tertarik dengan judulnya saja dan belum tertarik untuk membuka apalagi membacanya. Setelah saya mencoba untuk membacanya dan menyelesaikan buku tersebut, saya mulai ketagihan untuk membaca dan membeli buku-buku lain.
Filosofi Teras karya Henry Manampiring merupakan buku kedua yang saya baca. Buku ini menjadi salah satu buku yang bisa merubah arah hidup saya melalui cara pikir stoikisme yang masih coba saya terapkan di kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Dikotomi kendali adalah salah satu poin dari buku tersebut yang menurut saya merupakan kunci dari stoic dalam meraih kebahagiaan sejati. “Hidup di Antara Orang yang Menyebalkan” (bab 7) merupakan salah satu bab yang relate dengan yang saya rasakan saat itu hingga sekarang.
Menerapkan stoik dalam kehidupan saya sehari-hari ternyata dapat memberikan dampak yang tidak sedikit bagi saya pribadi. Selain itu, buku Filosofi Teras juga menjadi obat psikologi ampuh bagi saya. Setelah menyelesaikan Filosofi Teras, saya lanjut membaca buku The Compass karya Henry Manampiring. Buku ini isinya tidak jauh beda dengan Filosofi Teras yang membahas tentang keugaharian dan keutamaan dalam hidup.
Tidak cukup hanya dengan tiga buku, saya kembali membeli beberapa buku lagi dengan judul Bicara Itu Ada Seninya, The Principles of Power, dan The Art of Living. Oke, enggak usah terlalu ndakik-ndakik untuk membahas tentang pengalaman saya membaca tiga buku itu. Namun, ada salah satu kutipan dari buku The Principles of Power yang berhasil menampar dan menyadarkan saya di saat-saat itu. Kutipannya berbunyi, “Kadang-kadang, mengambil langkah mundur atau berpindah ke arah lain adalah pilihan yang lebih bijaksana daripada bertahan dalam situasi yang tidak menguntungkan atau menyakitkan.” (hlm. 172).
Untuk memperbaiki pola hidup saya pada saat itu, saya membaca buku Atomic Habits karya James Clear. Saya pun mencoba untuk mulai menerapkan poin-poin dalam buku tersebut, seperti mengurangi penggunaan HP dan mulai hidup sehat dengan rutin olahraga. “Jadikan terlihat, jadikan menarik, jadikan mudah, jadikan memuaskan” merupakan empat hukum perubahan perilaku yang coba saya terapkan saat itu. Saya juga memberi challenge ke diri saya sendiri dengan aturan memberi reward ketika saya berhasil menyelesaikannya dan memberi punishment ketika saya gagal menyelesaikannya.
Setelah itu, saya mulai tertarik untuk membaca buku-buku Tan Malaka mulai dari Madilog hingga Aksi Massa. Madilog merupakan buku favorit saya walaupun saya tidak berhasil menyelesaikannya. Pemikiran Tan Malaka pada zaman itu yang bahkan masih relate dengan keadaan sekarang yang membuat saya kagum dengan sosok Tan Malaka tersebut. Tinggal di sebuah lingkungan yang mayoritas penduduknya masih berkutat dalam kepercayaan logika mistika dan masih percaya terhadap takhayul, hantu, serta ilmu hitam membuat saya berpikir bahwa semua hal itu sebenarnya bisa dijelaskan dengan ilmu. Ketika seseorang tidak bisa menjelaskan sesuatu secara ilmu, mereka akan mengaitkan sesuatu dengan hal mistis.
Hal itu juga yang membuat saya berpikir bahwa kita hidup di bangsa yang bangga menciptakan QRIS, tetapi masih percaya dengan pesugihan Gunung Kawi.
Tak cukup dengan buku-buku tersebut, saya mulai menjelajahi buku-buku tentang keuangan dan investasi yang mana hal tersebut berkaitan dengan prodi saya sendiri, yaitu manajemen. Awalnya, saya tertarik dengan buku Psychology of Money karya Morgan Housel dan buku Warren Buffett karya Adrian V. Bancroft yang membuat saya melek akan investasi. Salah satu kutipan favorit saya dari buku Psychology of Money adalah “Jika kamu bergantung hanya pada gaji pokokmu untuk bertahan hidup, maka kamu akan bekerja sampai kamu mati.”
Kalimat tersebut jika saya simpulkan maka menjadi berinvestasilah sebisa mungkin. Merasa kurang dan tertarik dalam membaca buku tentang keuangan, saya menyempatkan hadir dalam bazar buku di Perpustakaan Daerah Yogyakarta waktu itu. Saya membeli buku keuangan The Financial Statement yang terinspirasi dari buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham yang dikenal sebagai “Bapak Investasi Dunia”.
Dari buku itu, saya mulai tertarik mendalami tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Melalui jurnal-jurnal yang ditampilkan di lembaran-lembaran buku tersebut, entah mengapa hal tersebut sangat kontradiktif sekali dengan diri saya pada saat berkuliah dulu yang sangat membenci mata kuliah akuntansi.
Animal Farm dan 1984 karya George Orwell bisa dibilang buku fiksi pertama dan kedua saya selama berliterasi. Ternyata, membaca buku fiksi tak seburuk yang saya pikirkan. Saat membaca dua buku itu, saya merasa karangan George Orwell tersebut sangat relate dengan keadaan dunia hari ini hingga masa depan. Dibalut dengan kisah peternakan, George Orwell mengisahkan persaingan antara kaum kapitalis, borjuis, dan proletar. Dari kepemimpinan totalitarian hingga feodalisme, dituliskan dalam halaman per halaman hingga lembar per lembar. Sejak membaca dua karyanya tersebut, saya jadi mengidolakan sosok George Orwell ini.
Akhirnya, kita telah sampai pada penghujung bagian tulisan ini. Untuk saat ini, saya sedang membaca buku karya Farid Gaban yang berjudul Reset Indonesia. Saya membeli buku ini karena saya sangat penasaran dengan isinya yang sempat ramai diperbincangkan publik. Walaupun saya belum selesai membacanya, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan dengan memunculkan sebuah pertanyaan.
Pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya yaitu, apakah air keran di Indonesia bisa diminum secara langsung? Karena sesempit pengetahuan saya, terdapat 50 negara di dunia yang memiliki kualitas air yang sangat bersih sehingga dapat langsung diminum dari keran ataupun dari sumber airnya. Tentu saja, Indonesia tidak termasuk dari 50 negara tersebut.
Ada salah satu kutipan buku yang membuat saya berhenti sejenak yaitu, “Indonesia yang konon katanya pernah menguasai wilayah Timor Leste hanya memiliki kualitas air di angka 24,5%, sedangkan Timor Leste yang notabene nya menjadi negara yang memisahkan diri dari Indonesia (anggap saja bekas jajahan) memiliki kualitas air di angka 26% atau berada diatas Indonesia.”
Pertanyaan terakhir yang terlintas di kepala saya saat itu dan sekaligus menjadi kalimat penutup tulisan ini, kita ini sebenarnya sedang membangun atau merusak? Menuju negara maju atau malah menjadi negara mundur?
Pemeriksa aksara: Mikha