Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 1984. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (Esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (non fiksi, 2019). Puisi-puisinya pernah tersiar di Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Indo Pos, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Serambi Indonesia, Banjarmasin Post, Lampung Post, Riau Pos, Haluan Riau, Haluan Kepri, Batam Pos, Tanjungpinang Pos, Metro Riau, Harian Vokal, Sabili, Apajake, Inilah Koran, Kendari Pos, Riau Realita, Koran Riau. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau, Jejak Hang Tuah dalam Puisi, Banjarbaru’s Rainy Day Festival 1, Banjarbaru’s Rainy Day Festival 2, Puisi untuk Lombok, Negeri Langit (DNP 5), Samudera Kata Samudera Cinta, Rinai Hujan, Negeri Sawit, dll. Mendapat Penghargaan ACARYA SASTRA dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jakarta 2015 dan Penghargaan Pemangku Prestasi Seni (bidang Sastra) dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau 2016. Meraih juara pertama lomba cerpen Bahana UNRI, dan juara pertama lomba esai Fakultas Ilmu Budaya UNILAK. Kini tengah menyiapkan buku esai kedua. Tinggal di Selatpanjang, Riau.