Ditulis oleh Adyatma Santoso*
DI ZAMAN yang serba digital, buku sering kali dipandang sebagai relik yang tua dan usang. Buku kerap kali kalah saing oleh kepraktisan e-book dan kecepatan media sosial. Namun bagi saya, buku tetaplah sebuah alat. Ia bukan hanya tumpukan kertas yang dijilid menjadi satu, melainkan sebuah tempat imajinasi dan kreativitas berpadu. Di dalam lembarannya, ilmu tidak hanya tertulis, ia menetap dan menunggu untuk ditemukan kembali.
Buku merupakan hak bagi semua orang, tetapi bukan kewajiban bagi semua orang untuk membacanya.
Buku adalah tempat di mana hanya orang-orang terpilihlah yang akan menemukan keistimewaannya.
Dan saya merupakan salah satu dari miliaran orang di dunia yang dapat menemukan keindahan dan keistimewaan dari buku.
Buku yang sangat berkesan dan sangat saya resapi adalah The Great Fairy Ritual. Sebuah buku kumpulan prosa dan puisi yang ditulis oleh Kraie. Buku tersebut berisi rintihan, kenangan, dan refleksi diri dari sang penulis. Satu yang saya ingat, buku tersebut benar benar menghanyutkan saya ke dalam perasaan Kraie, sang penulis. Dari contoh tersebut, buku dapat menghanyutkan perasaan seseorang, memengaruhi emosi dan imajinasi. Begitulah, sebuah buku dapat mengilhami manusia dengan berbagai pilihan kata, diksi, dan emosi yang terkandung di dalamnya.
Hal yang membuat The Great Fairy Ritual membekas di benak saya adalah cara ia dapat mengekspresikan dan menerjemahkan pencarian jati dirinya dan keresahannya ke dalam prosa dan puisi yang sedemikian rupa dibentuk menjadi sebuah buku yang indah dan dapat menyentuh jiwa saya sebagai pembaca.
Berbeda dengan buku puisi pada umumnya yang sering kali terjebak dalam kepadatan kalimat yang rumit, Kraie memilih simplisitas. Setiap puisi terdiri dari kumpulan kata yang singkat, tetapi sarat akan makna yang sangat dalam. Di sinilah, saya belajar menghargai sebuah ruang kosong. Ilustrasi sederhana yang mendampingi setiap baitnya bukan sekadar hiasan, mereka adalah pemandu visual yang membantu imajinasi saya untuk bernapas.
Simplisitas pada zaman ini adalah sebuah kemewahan. Di zaman di mana informasi datang secara bertubi-tubi dan berisik, buku tersebut menawarkan keheningan. Setiap goresan tintanya adalah sebuah undangan bagi saya sebagai pembaca untuk ikut mengisi ruang kosong tersebut dengan refleksi pribadi saya sendiri.
Namun, buku tidak selalu menjadi tempat percetakan imajinasi, ia juga dapat menjadi tempat untuk kita mencari ilmu dan menambah wawasan tentang apa yang terjadi di masa lalu, fenomena yang terjadi di masa kini, dan bahkan prediksi akan masa depan yang masih menjadi misteri. Buku bukan hanya kumpulan kertas yang ditumpuk menjadi satu, tetapi suatu kumpulan wawasan, pemikiran, dan teori yang diterjemahkan lewat tulisan.
Ruang eksplorasi saya bersama buku tidak berhenti di buku fiksi yang emosional. Jika buku puisi, seperti karya Kraie, adalah sarana untuk merasakan, buku-buku nonfiksi adalah sarana bagi saya untuk memahami dan belajar. Buku tidak selalu menjadi tempat percetakan imajinasi, ia juga merupakan menara pandang di mana kita bisa membedah fenomena masa kini, melacak jejak sejarah di masa lalu, hingga mencoba mengintip prediksi masa depan yang masih menjadi misteri.
Membaca buku nonfiksi, baik itu tentang filsafat, sains, maupun sejarah, memberikan saya ketajaman logika yang berbeda. Di sini, buku berperan sebagai sebuah gudang wawasan yang diterjemahkan lewat tulisan. Jika dalam puisi saya mencari keindahan karya dan kedalaman makna, saya mencari fondasi berpikir dalam narasi nonfiksi. Buku-buku ini memaksa saya untuk tidak hanya menjadi penonton kehidupan, tetapi menjadi pengamat yang kritis terhadap realita yang terjadi di sekitar saya.
Melalui lembaran-lembaran yang kaya akan data dan argumen, saya menyadari bahwa buku adalah satu satu teknologi yang memungkinkan kita untuk berdialog dengan pikiran orang-orang hebat yang jauh nan di sana atau bahkan yang sudah tiada. Ia abadi karena ilmu di dalamnya tak tergerus oleh waktu. Di sinilah, Aku dan Buku menjadi sebuah hubungan yang fungsional dan mutual. Buku memberikan saya alat untuk membedah dunia dan saya memberikan buku tersebut ruang untuk hidup kembali di dalam setiap keputusan dan pandangan hidup saya.
Pada akhirnya, baik itu rintihan puisi yang menyentuh hati maupun deretan fakta yang membuka cakrawala pikiran, semua buku itu tidak pernah benar-benar pergi setelah halaman terakhirnya ditutup. Mereka menetap dan mengendap, membentuk sebuah struktur bangunan yang kokoh di dalam ingatan saya. Di sana, setiap buku saling berbisik dan melengkapi, menciptakan standar bagi saya dalam memandang kehidupan.
Hubungan antara Aku dan Buku bukan sekadar tentang apa yang saya baca, melainkan tentang bagaimana setiap kata yang saya serap perlahan mengubah cara saya berpikir dan merasa. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan instan, saya memilih untuk tetap setia pada benda usang ini sebab hanya di balik sampul buku, saya dapat benar-benar menemukan kebebasan untuk menjelajahi lautan ilmu dan luapan emosi.
*Adyatama Santoso, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman. Memiliki minat pada bidang bahasa, literasi, dan penulisan. Selama masa studinya, ia aktif mengembangkan kemampuan dalam membaca, menganalisis, serta menulis berbagai jenis teks. Melalui studi di bidang sastra Inggris, ia berupaya memperluas wawasan mengenai bahasa dan karya sastra dari berbagai perspektif.
Pemeriksa aksara: Mikha K.