Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Sirih Petikan Sihir (Sepilihan Puisi)

Rp55.000

Sirih Petikan Sihir merupakan karya yang menghadirkan nuansa puitis, magis, dan simbolik dengan menggabungkan unsur tradisi, mitos, serta refleksi batin dalam bentuk tulisan yang tidak sepenuhnya linear. Buku ini menyajikan rangkaian prosa pendek atau puisi yang menggali makna simbol-simbol budaya, seperti “sirih”, yang dapat dimaknai sebagai lambang akar tradisi, relasi, serta media komunikasi batin manusia. Sementara itu, unsur “sihir” dalam buku ini tidak selalu merujuk pada hal mistis secara harfiah, melainkan pada kekuatan tak kasat mata seperti emosi, ingatan, dan pengalaman batin yang sulit dijelaskan secara rasional.

Melalui gaya bahasa yang metaforis dan simbolik, penulis menghadirkan suasana hening, kontemplatif, dan kadang terasa seperti mantra atau doa. Buku ini tidak menawarkan alur cerita yang jelas atau jawaban yang pasti, melainkan mengajak pembaca untuk merasakan dan menafsirkan sendiri makna di balik setiap tulisan. Secara keseluruhan, karya ini menempatkan diri sebagai bacaan yang lebih menekankan pengalaman batin dan perenungan, sehingga cocok bagi pembaca yang tertarik pada sastra reflektif, simbolik, serta memiliki kedekatan dengan nilai-nilai tradisi dan spiritualitas.


Tag:

Sirih Petikan Sihir (Sepilihan Puisi)

Rp55.000

Sirih Petikan Sihir merupakan karya yang menghadirkan nuansa puitis, magis, dan simbolik dengan menggabungkan unsur tradisi, mitos, serta refleksi batin dalam bentuk tulisan yang tidak sepenuhnya linear. Buku ini menyajikan rangkaian prosa pendek atau puisi yang menggali makna simbol-simbol budaya, seperti “sirih”, yang dapat dimaknai sebagai lambang akar tradisi, relasi, serta media komunikasi batin manusia. Sementara itu, unsur “sihir” dalam buku ini tidak selalu merujuk pada hal mistis secara harfiah, melainkan pada kekuatan tak kasat mata seperti emosi, ingatan, dan pengalaman batin yang sulit dijelaskan secara rasional.

Melalui gaya bahasa yang metaforis dan simbolik, penulis menghadirkan suasana hening, kontemplatif, dan kadang terasa seperti mantra atau doa. Buku ini tidak menawarkan alur cerita yang jelas atau jawaban yang pasti, melainkan mengajak pembaca untuk merasakan dan menafsirkan sendiri makna di balik setiap tulisan. Secara keseluruhan, karya ini menempatkan diri sebagai bacaan yang lebih menekankan pengalaman batin dan perenungan, sehingga cocok bagi pembaca yang tertarik pada sastra reflektif, simbolik, serta memiliki kedekatan dengan nilai-nilai tradisi dan spiritualitas.


  • Detail Buku
  • Tentang Penulis
  • Review Buku
  • Testimoni

Penulis Marsten L. Tarigan

Penerjemah -

Dimensi12,5 x 18cm

Tebal70 halaman

CetakanCetakan Pertama, 2025

ISBN/QRCBN978-623-6650-54-7

Finishingsoft cover

Stok 10 pcs

Marsten L. Tarigan

Lahir di Pematang Siantar Februari 1991. Saat ini berdomisili di kota Manokwari-Papua Barat. Bergiat di Komunitas Kandang Singa dan Prfrmne.rar. Buku kumpulan puisinya berjudul Mengupak Api yang Hampir Padam (Frasa Media, 2016). Puisi-puisinya pernah terbit di media massa seperti Kompas, Koran Tempo, majalah sastra Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, majalah Ratanaras, Sumut Pos, borobudurwriters.id dan berbagai media massa lainnya lokal maupun nasional.

Review Pembaca (0)

Belum ada review

Testimoni Pembeli (3)

“Perjalanan waktu ke akar Budaya Karo. Puisi Marsten secara empiris menggambarkan pandangan hidup masyarakat Karo yang dikaitkan dengan kepercayaan tentang ketuhanan dan leluhur. Keyakinan tersebut masih relevan dengan perjuangan mempertahankan tradisi Batak Karo dalam hidup sehari-hari.”

Murni Surbakti - Penyanyi dan Musisi Jazz

“Cerita tentang Karo (etnik) adalah rangkaian kata yang dihimpun Marsten L. Tarigan menjadi mantera kepada para Nini dengan lantunan rengget yang tersusun rapi mendedahkan perjalanan Karo. Dengan cerdas, Marsten membuka selubung puisi dengan sirih; sakral dan takzim kepada khalayak. Karo dan Marsten adalah dua entitas yang tidak berada pada ruang vakum, melainkan dialektika bunyi, huruf yang dilafazkan secara bersamaan layaknya Singindungi-Sianakki. Kelak, puisi \"Sirih, Petikan Sihir\" adalah anagram yang membentuk wacana baru atas Karo.”

Ibnu Avena Matondang - Antropolog

“Puisi-puisi Marsten yang bertemakan religi masyarakat Karo di masa lampau yang disebut Pemena. Kepercayaan itu sekarang menjadi bagian dari budaya Karo, dinarasikan  Marsten dengan bahasa yang menawan. Lewat puisi-puisi ini generasi Karo yang hidup pada zaman sekarang disuguhkan mosaik budaya Karo yang pada masanya pernah menjadi pandangan masyarakat Karo yang kuat, dihayati, dan dijalankan sepenuh hati. Marsten menghadirkannya kembali dengan suasana yang imajinatif dan mendalam.”

Simson Ginting - Redaktur Majalah Katantaras
Buku Terkait
Ayo pesan sekarang!
add_action('wp_footer', function() { ?>