Ditulis oleh Marsten L Tarigan (Penulis buku puisi Sirih Petikan Sihir )
Disampaikan di acara Jakarta International Literary Festival 2025 pada tanggal 15 November

BAGI SAYA, puisi adalah sebuah perjalanan: perjalanan kosmos. Puisi bukan sekedar susunan kata-kata yang dianggap baik, menarik, dan indah. Puisi merupakan gerak spiritual dan epistemologis yang mencoba memahami bagaimana keterhubungan antara manusia dengan semesta. Dalam menulis puisi, saya selalu berangkat dari keyakinan bahwa kata-kata yang menjadikan puisi bukanlah sekadar ciptaan belaka. Puisi barangkali adalah perpanjangan dari kosomologi yang sudah ada dan melewati berbagai masa.
Di masa kontemporer ini, saya merasa berada di tengah-tengah persimpangan jalan: ada dunia modern yang terus-menerus menuntut dan warisan adat Batak Karo yang sarat akan simbol, mitos, dan ritual. Keberadaan ini menciptakan ketegangan sekaligus membuka ruang kreatif bagi saya. Dari sinilah puisi, saya lahir menjadi jembatan antara kosmologi dan dunia kontemporer. Fondasi imajiner seperti ini yang saya gunakan untuk menulis. Saya belajar bahwa dunia yang besar ini tidak hanya bisa dipandang sebagai objek material, tetapi juga sebagai lapisan kehidupan yang saling berkaitan. Dimensinya bukanlah dimensi yang statis, melainkan suatu wujud yang orientasi. Dengan demikian, saya dapat melihat bahwa melalui kosmologi masyarakat adat Batak Karo adalah teks yang terbuka dan puisi menjadi salah satu cara membaca serta menuliskannya kembali.
Motif menulis saya dalam mengerjakan buku kumpulan puisi Sirih, Petikan Sihir (Rua Aksara, 2025), lahir dari kebutuhan memahami, menjaga, dan menghidupkan tradisi dan adat-istiadat Batak Karo. Di tengah derasnya arus modernisasi, warisan adat Batak Karo berisiko direduksi menjadi sekadar cerita rakyat. Namun, bagi saya, warisan ini justru sebuah pengetahuan yang kaya dan menantang. Saya berusaha memberi ruang bagi pengetahuan ini untuk berbicara kembali, bukan dalam bahasa akademik yang kaku, tetapi dalam bentuk imajinasi yang diharapkan mampu membangun dialog bagi diri saya sendiri maupun pembaca.
Mengenai motif menulis ini, persoalan kosmologi tidak pernah lepas dari kesadaran saya. Kosmologi Batak Karo bukan sekadar latar budaya, melainkan pengetahuan yang menuntun saya melihat dunia. Dalam hal ini semesta saya pahami sebagai tiga lapisan yang saling berhubungan: Banua i Datas (dunia atas) , Banua i Tengah (dunia tengah) , Banua i Teruh (dunia bawah) dengan sosok penguasanya masing-masing. Hubungan itu tidak statis, melainkan dinamis dan penuh energi. Maka dalam puisi-puisi yang saya tulis, merekonstruksi dinamika itu selalu saya cobakan. Misalkan, jika saya menulis tentang upacara panen masyarakat adat Batak Karo. Saya membayangkan bahwa padi atau tumbuhan lainnya adalah titipan dari data Banua I pada Banua i Tengah untuk pijakannya yang ditentukan sehingga dapat menyerap energi dari Banua i Teruh dan menghasilkan hal-hal baik bagi manusia. Motif ini lahir dari pemikiran bahwa puisi merupakan medium yang memungkinkan bagi kosmologi untuk berbicara kembali. Hal ini juga memberikan pengetahuan mengenai pengalaman eksistensial yang nyata dalam bentuk estetika.
Selanjutnya yang menjadi motif saya dalam menulis adalah persoalan mitologi yang menjadi imajinasi puitik. Dalam berbagai mitologi masyarakat adat Batak Karo, banyak tersimpan mengenai narasi penciptaan, kisah tentang leluhur, serta legenda yang berkaitan dengan alam. Misalnya keberadaan gunung, bukit, dan lembah, bukan hanya sekedar persoalan geografis dan struktur alam, namun juga menjadi tempat sakral dan dianggap sebagai poros dari kosmos. Keberadaan ini juga sering dianggap sebagai jalur penghubung kehidupan dengan semangat dunia.
Dalam hal menulis, saya melihat mitologi ini sebagai sumber imajinasi puitik, tidak ada yang menganggap bahwa mitologi hanyalah cerita lama yang sudah selesai. Mitologi saya dudukkan sebagai narasi-narasi yang bekerja terus-menerus untuk menghasilkan lapisan makna yang memperkaya puisi. Misalnya, kata ‘gunung’ yang saya hadirkan dalam puisi tidak pernah bersifat netral, kata itu selalu membawa resonansi mitologi. Ketika saya ingin menulis tentang deforestasi di daerah Tanah Karo, saya tidak hanya menggambarkan kerusakan ekologi, tetapi juga hilangnya poros kosmos. Dengan demikian, mitologi dapat memiliki ruangnya lagi untuk berbicara dan memberi saya kekuatan simbolik untuk menuliskan isu-isu modern melalui lensa kosmologis.
Alam tanah Karo, dengan gunung-gunungnya, lembah, hutan, dan sungai bisa juga saya lakukan sebagai inspirasi kosmik. Alam tidak hanya saya tuliskan sebagai latar, tetap juga bagian dari struktur kosmos yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam.
Dalam menulis puisi, saya juga melihat bagaimana ritual adat Batak Karo sebagai struktur puisi. Ritual adat Batak Karo sering kali terdiri dari rangkaian doa, simbol, dan tindakan yang penuh makna. Bahasa ritual dengan metafora-metaforanya sering kali saya ambil menjadi inspirasi langsung bagi puisi saya. Misalnya ketika saya menulis puisi mengenai Erpangir Ku Lau , salah satu tradisi masyarakat adat Batak Karo. Dalam tradisi ini unsur air digunakan sebagai media penyucian. Saya mencoba menafsirkan ritual ini sebagai wujud dari metafora tentang bahasa itu sendiri. Dengan demikian, permasalahan ritual ini adalah upaya untuk menyerap struktur ritual ke dalam bentuk puisi. Saya mencoba meniru bentuk ritual dan menghidupkan kembali energi spiritualnya.
Berproses dalam menulis puisi berdasarkan kosmologi Batak Karo saya anggap sebagai bagian dari identitas. Sebagai bagian dari masyarakat Batak Karo, tentu tanggung jawab juga nelekat dalam diri saya untuk menjaga ingatan leluhur saya. Dengan demikian, puisi menjadi sarana bagi saya untuk merawat ingatan itu. Tidak hanya itu, saya juga berpikir bahwa ini bukan hanya tanggung jawab saya, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Saya ingin generasi selanjutnya dari masyarakat Batak Karo ikut merasakan resonansi kosmos leluhur mereka. Dalam hal ini, puisi saya berfungsi sebagai arsip untuk ingatan, pengalaman, pengetahuan, dalam bentuk yang bisa bertahan di luar ritual.
Motif lain yang juga penting bagi saya adalah resistensi terhadap modernitas yang seringkali mengabaikan kosmologi adat. Modernitas memiliki kecenderungan memandang kosmologi sebagai sesuatu yang usang, tidak rasional, atau hanya sekedar bagian dari masa lalu. Namun, bagi saya, melalui pembacaan ulang dan kritis, kosmologi masyarakat Batak Karo masih memungkinkan menjadi sesuatu yang relevan, bahkan penting, terutama dalam permasalahan menghadapi krisis ekologis dan krisis identitas.
Menulis puisi menjadi cara melawan dominasi wacana modern yang mengabaikan pengetahuan lokal. Puisi saya adalah bentuk upaya untuk menunjukkan bahwa pengetahuan adat bukan sekadar romantisme, tetapi juga sumber kebijaksanaan yang dapat menjadi jawaban tantangan zaman. Puisi juga saya fungsikan sebagai kritik terhadap modernitas yang merusak, sekaligus tawaran untuk kembali ke etika kosmologis.
Dalam proses kepenyairan kreatif, saya menulis berdasarkan kosmologi masyarakat Batak Karo yang tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia selalu berjumpa dengan bahasa lisan, mitos, legenda, dan praktik budaya yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat adat Batak Karo seperti masyarakat adat lainnya yang ada di Indonesia, memiliki kekayaan sastra lisan yang sangat kuat: asal-usul, dongeng tentang alam, pepatah dan peribahasa, sampai pada mantra yang digunakan dalam berbagai ritual. Semua ini menjadi teks yang terus-menerus saya dengarkan, serap, dan internalisasikan dalam pikiran.
Misalnya, dalam upacara atau ritual yang diadakan masyarakat Batak Karo, saya tidak hanya mendengar kata-kata ritual yang sarat makna kosmologis. Ada doa, ucapan, simbol makanan adat seperti ayam, babi, dan beras, yang semuanya menyimpan makna tentang hubungan manusia dengan kosmos. Keberadaan saya dalam peritiwa itu memberi saya semacam kamus imajinasi, gudang simbol yang dapat ditransformasikan menjadi bahasa puisi.
Selain itu, dongeng-dongeng masyarakat Batak Karo yang pernah disampaikan pada saya atau yang saya temukan, juga banyak berbicara mmengenai hubungan manusia dengan roh, roh leluhur, dunia alam. Dengan kata lain, saya selalu memulai dengan pertemuan dengan narasi-narasi lisan. Saya dengar, hafal, rekam, lalu memproses ulang. Proses kreatif saya dalam menulis puisi tidak hanya menyalin mitos, namun mentransformasikan mitos ke dalam bahasa yang lebih personal, reflektif, terkadang eksperimental, dan menjadi ruang negosiasi.
Selanjutnya setelah melompati teks lisan adalah transformasi pengetahuan adat ke dalam imaji dan diksi. Pengetahuan adat berfungsi untuk mempertahankan aturan kosmos secara ketat, puisi selanjutnya akan membuka kemungkinan tafsir baru. Maka dari itu, saya berusaha menemukan cara untuk mengalihkan simbol kosmologi ke dalam citraan yang dapat dihayati secara emosional.
Proses ini juga melibatkan pemilihan diksi yang diambil dari bahasa Batak Karo untuk disisipkan dalam puisi, meskipun terkadang hanya sebagai fragmen. Kehadiran kata-kata seperti ini membuat puisi saya tetap berpijak pada tradisi. Namun pada saat yang sama, membuka jalan bagi pembaca di luar masyarakat Batak Karo memasuki dunia kosmologis yang asing. Dalam hal ini, saya juga menyadari bahwa ada kemungkinan ketidakterbacaan terhadap puisi saya, namun saya mengambil risiko itu.
Dalam berproses kreatif, saya meyakini bahwa puisi dan pengetahuan merupakan sebuah dialektika. Puisi seringkali dianggap hanya sebagai seni estetis dan permainan bahasa. Namun, jika ditelisik lebih jauh, puisi adalah sebuah cara untuk mengetahui dunia bagi saya. Dalam konteks masyarakat Batak Karo, puisi dapat dipahami sebagai pengetahuan kultural: puisi menyimpan, mengolah, dan menyalurkan warisan kosmologis leluhur.
Bagi masyarakat Batak Karo, pengetahuan bukan hanya sesuatu yang tertulis dalam kitab atau bentuk teks lainnya, melainkan diturunkan melalui mitos, ritus, nyanyian, dongeng, dan lainnya. Dalam menulis puisi yang mengacu pada kosmologi Batak Karo, saya percaya bahwa saya sedang mengambil bagian dalam proses transmisi pengetahuan. Perbedaannya, terletak pada medium. Saya melakukannya dengan medium tulisan modern, bukan hanya melalui bahasa lisan. Dengan demikian, puisi membuka kemungkinan bagi pengetahuan itu tetap hidup sekaligus berubah. Puisi tidak membekukan kosmologi dalam bentuk doktrin, melainkan menghidupkannya dalam imajinasi. Puisi saya pandang sebagai wadah pengetahuan yang lentur: setia pada akar tradisi, namun tetap terbuka terhadap reinterpretasi.
Dalam tradisi ilmu pengetahuan modern, pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang objektif, rasional, dan tervalidasi. Namun, kosmologi Batak Karo menawarkan model pengetahuan yang berbasis pada mitos, pengalaman spiritual, dan hubungan kosmik. Ketika ditulis dengan landasan kosmologi ini, ada kesadaran tersendiri bahwa puisi dapat berperan juga sebagai alternatif pengetahuan. Dengan ini, puisi memberi ruang bagi ambiguitas, metafora, dan imajinasi. Alih-alih memisahkan subjek dan objek, puisi justru mempertemukan keduanya dalam ikatan emosional dan simbolik. Misalnya, ketika saya menulis ‘matahari telah mengukuhkan pandangan kami ke arah atas dan mengajarkan kami sejarah yang tak tertulis pada giras’. Kalimat itu mungkin tidak rasional, tetapi logis dalam kerangka kosmologi Batak Karo. Puisi ini telah membuka jalan untuk memahami dunia bukan hanya melalui fakta empiris, melainkan juga melalui rasa, mitos, dan spiritualitas.
Pada akhirnya, hubungan antara puisi dan pengetahuan masyarakat Batak Karo dapat saya pahami dalam kerangka kosmologi kehidupan. Puisi saya ikut proses menghidupkan kosmologi itu. Puisi saya menyimpan pengetahuan masyarakat Batak Karo dan mengaktifkannya kembali dalam kesadaran pembaca untuk merasakan kembali praktik kosmik.
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.