SETIAP tahun pada tanggal 23 April menjadi perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Perayaan ini pertama kali diselenggarakan di Barcelona pada 23 April 1996 bersamaan dengan adanya Kongres Penerbit Internasional ke-25 dan menandai peringatan ke-100 IPA (International Publishers Association atau Asosiasi Penerbit Internasional). Pada perayaan pertama, hampir seribu penerbit turut memeriahkan acara beserta tamu undangan dari 47 negara.
Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia sendiri berakar dari tradisi La Diada de Sant Jordi di Catalunya, di mana masyarakat saling memberikan buku dan bunga mawar setiap tanggal 23 April. Tradisi ini kemudian menginspirasi penetapan hari tersebut sebagai perayaan global oleh UNESCO.
Tokoh Penting di Balik Penetapan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia
Penetapan tersebut diawali pada November 1995 oleh Federico Mayor—seorang ilmuwan, cendekiawan, politisi, diplomat, dan penyair Spanyol—yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal UNESCO (1987—1999) yang mengirim surat kepada Pere Vicens, presiden Asosiasi Penerbit Spanyol (La Federación de Gremios de Editores de España). Federico Mayor memberitahukan bahwa UNESCO telah memutuskan dan menetapkan bahwa 23 April akan menjadi Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia.
Tanggal 23 April juga menjadi tanggal simbolis yang kuat dalam dunia sastra. Dipilihnya 23 April sebagai perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia karena beberapa penulis terkemuka seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega wafat pada tanggal ini. UNESCO memilih tanggal ini sebagai bentuk penghormatan global terhadap buku dan para penulis tersebut, sekaligus mendorong masyarakat luas untuk lebih sering mengakses dan menikmati bacaan.
Di dalam suratnya, Federico Mayor memberikan penjelasan bahwa inisiatif yang diusulkan oleh pemerintah Spanyol terkait Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia sebenarnya berasal dari para penerbit.
Peran serta Tujuan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia
Sebagai bagian dari perayaan, UNESCO bersama organisasi internasional yang mewakili sektor penerbitan, toko buku, dan perpustakaan menetapkan satu kota sebagai Kota Buku Dunia setiap tahunnya.
Kota Buku Dunia pertama kali diberikan kepada Madrid pada tahun 2001. Kota terpilih diberi tanggung jawab untuk melanjutkan semangat perayaan melalui berbagai program dan inisiatif selama satu tahun penuh. Kegiatan yang dilakukan seperti mempromosikan buku dan mengadakan kegiatan membaca untuk semua kelompok usia dan seluruh lapisan masyarakat, baik di negara tuan rumah maupun di luarnya.
Hingga kini, UNESCO telah menunjuk 26 ibu kota Buku Dunia. Dimulai dari Madrid, Spanyol, pada tahun 2001. Pada tahun 2026, kota Rabat, Maroko telah dipilih sebagai Kota Buku Dunia.
Mempromosikan kegiatan membaca, penerbitan, dan hak cipta menjadi fokus pada hari tersebut. Segala hal yang berkaitan dengan buku baik itu menulis, membaca, menerjemahkan, dan menerbitkan adalah bagian dari hal-hal yang dirayakan pada Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia.
Selain itu, momen tersebut juga menyoroti betapa pentingnya adanya seorang pencipta dan hak-hak pencipta agar penciptaan sastra yang dihasilkan dapat terlindungi. Sudah seharusnya pula kita menyadari bahwa tanpa penulis, editor, peneliti, ilmuwan, dan pencipta, karya-karya hebat tidak akan pernah ada dan sampai di tangan kita.
Dengan adanya peringatan Hak Cipta Sedunia ini, dapat dipastikan bahwa penulis dan pencipta mendapatkan pengakuan hak cipta atas karyanya. Karya yang diakui secara sah dan terlindungi dengan kuat secara hukum.
UNESCO berupaya keras mendorong kreativitas, keberagaman, serta akses pengetahuan yang lebih merata dengan memberikan perlindungan untuk buku dan hak cipta. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program, mulai dari Jaringan Kota Kreatif Sastra, penguatan literasi, pemanfaatan pembelajaran digital, hingga dukungan terhadap akses terbuka untuk ilmu pengetahuan dan sumber pendidikan.
Program-program tersebut dapat semakin kuat jika selalu melibatkan banyak pihak seperti penulis, penerbit, guru, pustakawan, lembaga publik dan swasta, organisasi kemanusiaan, hingga media. Perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia telah berkembang menjadi gerakan global yang menjangkau jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Adanya perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia ini diharapkan agar kita selalu menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan aktivitas membaca. Peringatan ini diselenggarakan di berbagai penjuru dunia sebagai bentuk apresiasi terhadap peran buku. Karena buku telah menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sekaligus menjadi jembatan lintas generasi dan budaya.
Sumber referensi:
https://www.unesco.org/en/articles/2024-world-book-and-copyright-day-lets-read-books-today
https://www.unesco.org/en/days/world-book-and-copyright
https://internationalpublishers.org/world-book-copyright-day-the-origin/
https://www.cenl.org/dive-into-a-world-of-knowledge-and-imagination-happy-world-book-and-copyright-day/
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.