“BUKU lebih berharga daripada harta benda” adalah quote yang paling lengket di ingatan hingga kini. Quote tersebut berasal dari seorang pengarang kelahiran Argentina, tetapi memilih bermastautin di negara Uruguay, Carlos Maria Dominiquez. Saking berharganya buku, penulis lain yang berasal dari Argentina, Jorge Luis Borges, memimpikan surga yang indah dengan dipenuhi buku-buku. Ya, buku-buku.
Barangkali, Dominguez dan Borges terlalu hiperbolis dalam mendewakan buku, tapi semua orang toh tahu dan meyakini jika buku-buku yang dibaca adalah pintu menuju ruang pengetahuan tanpa batas, memantik pemikiran-pemikiran yang terlelap, atau jendela dunia untuk melihat ragam “keajaiban”.
Sama halnya ilmu pengetahuan, buku-buku juga berkembang. Tidak hanya ragam isi yang berkembang seiring masifnya ilmu pengetahuan, buku-buku juga berkembang dari segi fungsi, jenis, atau bahkan melampui itu. Kategorisasi kemudian diperlukan untuk mempermudah mempelajarinya sebab keterbatasan ingatan manusia.
Kategorisasi atau genre merupakan jenis teks yang berfungsi untuk menjadi rujukan agar suatu teks dapat dibuat menjadi lebih efektif. Teori genre memandang bahwa bentuk-bentuk teks merupakan hasil dari proses dan produk sosial. Sebagai proses sosial, genre memiliki fungsi-fungsi komunikasi untuk menjelaskan, mendeskripsikan, memaparkan, meyakinkan, dan menceritakan. Mahsun (dalam Teks Pembelajaran Bahasa Indonesia, 2014) menyebutkan bahwa tiap-tiap genre digunakan untuk beragam keperluan sesuai dengan konteks situasinya sebab genre merupakan produk sosial.
Menurut sudut pandang isinya, genre atau ragam buku dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: genre sastra dan genre ilmiah. Buku-buku sastra kemudian memiliki subgenre yang beragam mulai dari fiksi, puisi, cerita dan lain-lain, sedangkan buku-buku ilmiah biasanya dikelompokkan pada buku-buku hasil penelitian, faktual, tanggapan, dan masih banyak lagi.
Buku Sastra
Secara umum, sastra merupakan cabang karya seni yang bermedium bahasa. Sastra merupakan salah satu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Buku sastra merupakan ragam buku yang berisi “karya imajinatif”—to create something—yang menggunakan pilihan kata, kalimat, dan gaya bahasa secara bebas, bermakna konotatif, menyentuh rasa, menimbulkan kesan kuat dan indah dalam batin pembaca.
Aristoteles menyebut bahwa buku-buku yang memuat karya sastra setidaknya memiliki dua fungsi utama: Dulce et Utile. Dulce atau sweet berarti menyenangkan dengan adanya unsur keindahan (estetika) dan hiburan di dalamnya, sementara Utile atau useful yang berarti berguna dan isinya bersifat mendidik.
Contoh buku-buku sastra adalah puisi, novel, cerpen, naskah drama atau lakon, novela, dan lain-lain.
Buku Ilmiah
Berbeda dengan buku-buku sastra, buku ilmiah merupakan ragam buku yang berisi tentang pengetahuan-pengetahuan yang berdasarkan pada fakta dan bersifat objektif menggunakan bahasa ilmu (tata bahasa dan ejaan baku), bermakna denotatif, terdapat aturan kebahasaan yang ketat, menyentuh pikiran, dan menimbulkan kesan logis dalam batin pembaca.
Buku-buku ilmiah diciptakan, selain untuk menambah pengetahuan dan wawasan, tetapi juga sebagai bahan rujukan dari berbagai kegiatan ilmiah, sebagai sarana eduksi untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran pada suatu hasil penelitian atau disiplin tertentu, dan juga sebagai penguat dari data-data penelitian faktual terhadap suatu hal.
Contoh buku-buku ilmiah adalah skripsi, tesis, autibiografi, biografi, teks panduan, modul, esai ilmiah, laporan hasil penelitian ilmiah, dan lain-lain.
Demikian penjelasan mengenai genre perbukuan. Buat kamu yang ingin membaca buku-buku sastra ataupun buku-buku ilmiah, kami siap memberikan rekomendasi terbaik. Atau, jika kamu juga berminat untuk membuat buku sastra atau buku ilmiah, kami sangat senang untuk memfasilitasi karyamu.
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati