Ditulis oleh Koskow
Ditulis untuk keperluan acara Artist Talk Jogja Book Fair 2026 (Rabu, 02 September 2026, pk. 15:30 – 17:30 WIB di Halaman Balai Yanpus DPAD DIY)

Tulisan ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, tangkapan saya tentang persampulan buku hari ini. Bagian kedua, tulisan hasil bercakap-cakap bersama Ong Harry Wahyu pada Kamis, 27 Agustus, malam, di kedai beliau di Nitiprayan, Yogyakarta. Dalam cakap-cakap tersebut hadir juga Fariduddin (desainer Rua Aksara, alumni DKV ISI Yogyakarta), dan Tegar (mahasiswa DKV ISI Yogyakarta, bekerja di lini Solusi Buku, dan sedang menyelesaikan tugas akhir kajian sampul buku tetralogi Pramoedya Ananta Toer). Bagian ketiga, penutup.
Bagian Pertama
Tema sampul bercerita mau saya tanggapi dengan menempatkan sampul buku sebagai cerita tersendiri. Jadi, bukan tentang hubungan sampul dengan isi buku, tetapi saat ini ada cerita apa tentang persampulan buku.
Komunikasi visual buku terasa semarak. Media sosial memberi warna bagaimana sebuah buku dipromosikan. Netizen diajak untuk turut memberi pilihan (polling) calon sampul sebuah buku di akun media sosial penerbit. Sewaktu saya mendapati unggahan polling semacam itu biasanya saya tidak turut memilih. Saya menanggapinya dengan mengajukan argumen di kolom komentar. Sejauh ini tanggapan saya diapresiasi baik. Mengapa saya memilih mengajukan argumen dibanding mengisi polling? Dalam beberapa unggahan semacam itu beberapa polling menyajikan dua atau tiga desain sampul yang berbeda warna atau komposisi. Jarang saya jumpai polling desain sampul yang berbeda simbol antar desain sampul yang di-polling-kan. Bagi saya, perbedaan simbol mampu memperlihatkan kapasitas berpikir desainernya, dan bagi saya ini lebih memikat. “Main mind”, meminjam kata-kata Ong Harry Wahyu. Ini cerita pertama.
Praktik desain sampul gaya personal masih berlangsung hingga saat ini. Dulu ada Ong Harry Wahyu, yang desain sampulnya hadir di banyak buku dan penerbit. Setelahnya ada Bambang Nurdiansah, Sukutangan, Wulang Sunu, dan belakangan hadir Arga Radikun. Tentu ada nama-nama lain di samping yang sudah saya sebutkan tadi. Di sisi lain, sebuah genre penerbitan sebuah penerbit konsisten mendesain sampul buku-buku terbitannya. Penerbit Moooi Pustaka, Penerbit Rua Aksara (di lini sastranya) memilih mendesain sampul dengan konsistensi gaya desain atau gaya visualnya. Desain sampul Moooi dan Rua tadi menjadi menarik karena di sana (1) gaya sudah ditentukan, selanjutnya (2) simbol apa yang akan ditampilkan dalam mengomunikasikan isi sebuah buku. Untuk desain sampul buku Rua tersebut ada desainer sampulnya, yakni Fariduddin.
Di ruang lain muncul desain sampul untuk terbitan serial. Wajah terbitan serial tadi sering ditampilkan dengan cara yang menarik di akun media sosial. Arga Radikun, desain sampul untuk buku-buku serialnya terkesan memikat lewat strategi yang diterapkan, satu diantaranya yakni dengan memilih menampilkan ornamen.
Gaya desain atau gaya visualnya (desainer hari ini menyebutnya sebagai art style) konsisten antara satu buku dengan yang lain dalam sebuah terbitan serial. Apa yang mau saya sampaikan tentang hal ini? Saya berpandangan bahwa desain yang konsisten menentukan gaya boleh jadi akan lebih matang dalam memikirkan simbol pada sampulnya. Termasuk desain serial tetralogi Pramoedya Ananta Toer karya Ong Harry Wahyu yang konsisten gaya visualnya, dan karena itu perhatian tertuju pada pemikiran ilustrasi seperti apa yang ditampilkan. Tentang ini perlu dicari tahu kejelasan pembuktiannya, dan yang jelas over gaya bisa mempersulit pencarian simbol. Ini cerita kedua.
Melengkapi perbincangan tentang desain serial, barangkali desain sampul buku seri sejarah kuliner Indonesia karya Fadly Rahman, juga seri tentang Paus Fransiskus (keduanya terbitan Gramedia) bisa menjadi contoh bagaimana desain buku-buku tersebut dirancang sebagai sebuah seri terbitan dan didisplay di media sosial. Singkatnya, media sosial menjadi ruang display buku, tak sebatas sampul, tetapi juga bagaimana sampul-sampul tadi dikemas. Desain sampul sudah menjalankan peran mengemas (melindungi isi-fisik buku), media sosial turut mengemas desain sampul. Seni kemas mengemas memberi warna kontestasi buku hari ini. Ini cerita ketiga.
Bagian Kedua
Bagian ini menuliskan cakap-cakap saya bersama Ong Harry wahyu, ditemani Fariduddin dan Tegar. Belum lama percakapan berlangsung, Ong sudah memberi warning bahwa desainer grafis hari ini perlu banyak dolan. Dolan di sini sebagai tanggapan atas berbagai kemudahan yang difasilitasi oleh AI pada kerja-kerja mendesain (sampul). Dolan bisa kita maknai dalam berbagai hal seperti 1) memperkaya pengalaman, 2) memperluas referensi, 3) bahan untuk menerjemahkan isi sebuah buku (intertekstual) termasuk untuk cara “menerjemahkan” isi sebuah buku dan menghindari penerjemahan isi buku secara harfiah. “Beli satu dapat dua”, tutur saya sewaktu Ong menyampaikan bahwa mendesain sampul dengan cara yang tidak harfiah agar pembeli mendapatkan sejumlah dua yakni isi buku dan isi pesan dalam sebuah desain sampul. Sebuah sampul tidak mengulang isi buku tapi memuat isi pikiran desainernya.
Keterangan: Bertamu & bercakap-cakap di kedai kopi “Mari Kangen” Ong Harry Wahyu (tengah dalam foto), Nitiprayan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis malam, 27 Agustus 2026. Foto: Tegar (Fariduddin kanan dalam foto, Koskow kiri dalam foto).
Perbincangan desain sampul buku bersama Ong senantiasa menempatkan desain dalam perspektif yang lebih luas. Perspektif yang sering dipilih yakni budaya. Dolan juga merupakan budaya, baik dalam arti harfiah maupun dalam arti lain seperti memperkaya kosa tanda. Maka itu kosa tanda dari pengalaman dolan bisa membangun semiotika desain sampul yang dekat, akrab, sukur-sukur vernakular. Kosa tanda seperti inilah yang khas manusia, bukan khas mesin. “Desainer kudu akeh dolan”, ucap Ong.
Dolan juga luas. Dolan bisa berarti dolan ke bidang lain seperti seni, pertunjukkan, arsitektur, dsb. Demikian juga dolan bacaan. Bacaan yang beragam turut memperluas wawasan bagi seorang desainer grafis untuk membangun kesetaraan diskusi bersama penulis atau bersama editor. Ringkasnya, dolan menjadi cara membangun narasi desain. Luasnya, pengalaman sebagai narasi untuk membangun konsep kreatif dan memperkaya perspektif. Dari sini kita bisa mengajukan sikap bahwa perangkat lunak, atau aplikasi, sebatas alat saja dan bukan pemecah masalah.
Bagian Ketiga
Sejak 2000-an saya mulai akrab dengan berbagai acara buku di Yogyakarta. Dari sekian acara tersebut pameran buku IKAPI menjadi pameran yang saya nanti-nantikan. Kini, saya mendapati lebih banyak lagi acara buku sampai-sampai saya merasa kesulitan untuk mendatangi acara-acara tersebut.
Saat ini bisa kita jumpai beragamnya wajah desain sampul buku, seolah semua nyaris ada. Dari yang menerapkan ilustrasi digital vektor, bitmap, 3D, fotografi-kolase, tipografian, hingga yang manualan bisa kita jumpai di toko buku dan saluran distribusi lain. Dari desain sampul penerbit yang tak memiliki identitas wajah konsisten hingga yang konsisten merawat wajahnya juga ada. Toh sejak dulu juga begitu, desain sampul itu beragam. Hal yang saya maksudkan yakni desain sampul yang mampu membangun perbincangan publik.
Saya masih mencari perbincangan tentang desain sampul buku. Perbincangan tersebut hanya berlangsung di kepala saya saja. Apalagi, sejak 2000an akhir saya menggeser perhatian pada desain tata letak isi buku yang, sepengalaman saya, kurang mendapat perhatian seperti halnya perbincangan tentang desain sampul buku. Singkatnya, saat segala sesuatunya tiba-tiba melimpah, saya justru merasa susah sekedar untuk mencari perbincangan desain di situ. Apakah ini tanda-tanda bahwa selera desainer berada di bawah selera masyarakat, tenggelam dalam rutinitas, sedang masyarakat belum tentu mudah dipahami, ataukah desainer tak terpikir atau tak berani untuk mencari sesuatu yang berbeda, menjadi yang pertama meski dipandang aneh?
Menutup tulisan ringkas ini, waktunya desain sampul buku perlu kita pikirkan ulang bargaining dirinya, baik terhadap penerbit maupun (selera) masyarakat. Di sisi lain jika kita terbiasa mendesain ala praktis maka itu bisa berpotensi menjadikan kita malas berpikir dan bersusah-susah. Boleh jadi tantangan perbincangan sampul buku saat ini ada di situ.
FX Widyatmoko, kerap disapa Koskow, mengajar di Program Studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Buku yang diterbitkan antara lain Merupa Buku (LKiS, 2009), Percakapan Huruf (Gramedia Pustaka Utama, 2021), Meruangkan Kosong (Kanisius, 2023), Titah Tatah – Desain Berseni Cetak (mandiri, bersama Aan Yuliyanto, 2024), Jurusan Printmaking (mandiri, 2026). Menulis di situs Desain Grafis Indonesia (dgi.or.id), berkarya printmaking bersama orang-orang di tindes art & friends, bermusik bersama kelompok musik MAMAHIMA. Tinggal di Bantul, Yogyakarta. Surel: koskowbuku@gmail.com.