Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Kebiasaan Membaca Kartini dan Bagaimana Ia Memilih Bacaan
1,072 kata • 5 menit baca

kebiasaan membaca kartini dan bagaimana ia memilih bacaan

Awal Tumbuhnya Kebiasaan Membaca Kartini

NAMA KARTINI pastilah sudah sangat akrab di telinga kita. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia yang berjuang untuk hak pendidikan dan kesetaraan perempuan. Ia lahir pada 21 April 1879 di Mayong, sebuah wilayah kecil yang termasuk dalam Karesidenan Jepara. Kartini merupakan putri dari Raden Mas Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Gelar Raden Ajeng yang melekat pada namanya menunjukkan latar belakang keluarga priyayi atau kalangan bangsawan tempat Kartini dibesarkan.

Sejak kecil, perkembangan fisik Kartini terbilang lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Pada usia sekitar delapan bulan, Kartini sudah mampu berjalan sendiri. Perkembangan fisik tersebut berjalan seiring dengan kecerdasannya yang mulai tampak sejak dini. Rasa ingin tahu yang tinggi menjadi salah satu ciri yang menonjol. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan Kartini yang gemar mencari tahu berbagai hal di sekitarnya.

Pada tahun 1885, Kartini mulai bersekolah di Europesche Lagere School (ELS), sebuah sekolah dasar khusus bagi anak-anak Eropa. Keputusan ini terbilang tidak lazim pada masa itu mengingat tradisi keluarga bangsawan cenderung membatasi ruang gerak anak perempuan, terutama untuk bersekolah bersama anak laki-laki di luar rumah.

ELS merupakan lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan Belanda-Indo. Kesempatan bagi anak pribumi untuk belajar di sana sangat terbatas. Umumnya, hanya diberikan kepada anak dari kalangan pejabat tinggi pemerintahan. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda sehingga Kartini memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa asing.

Di lingkungan sekolah, Kartini dikenal sebagai sosok yang luwes, ceria, serta memiliki kecerdasan yang menonjol. Ia dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik, bahkan menunjukkan kemampuan bersaing dengan siswa lain. Keberadaan Kartini di ELS menarik perhatian, terutama karena kemampuannya menggunakan bahasa Belanda dengan lancar. Kemampuan tersebut diperoleh melalui kebiasaan membaca buku dan surat kabar berbahasa Belanda serta latihan langsung dalam percakapan sehari-hari ketika bermain ataupun saat berinteraksi dengan tamu dari kalangan Belanda (Soeroto, 1982: 44).

Masa belajar di ELS menjadi periode yang berkesan bagi Kartini karena ia dapat membuka akses terhadap pengetahuan dan pengalaman baru. Meski demikian, pelajar pribumi kerap menghadapi perlakuan diskriminatif dari sebagian siswa dan pengajar Belanda yang memandang rendah. Namun, situasi tersebut tidak menyurutkan semangat belajar Kartini. Kondisi tersebut justru mendorongnya untuk terus berkembang dan menunjukkan prestasi yang mampu menyamai, bahkan melampaui siswa lainnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Europesche Lagere School (ELS), Kartini tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tradisi keluarga bangsawan pada masa itu mengharuskan anak perempuan memasuki masa pingitan sebagai persiapan menuju pernikahan. Dalam fase tersebut, ruang gerak menjadi terbatas dan aktivitas di luar rumah tidak lagi diperkenankan. Kondisi tersebut sempat memutus akses Kartini terhadap pendidikan formal meskipun keinginan untuk terus belajar tidak pernah padam. Dalam berbagai catatan sejarah, masa pingitan justru menjadi titik penting yang membentuk arah pemikiran Kartini, terutama melalui kegiatan membaca dan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Eropa.

Kesadaran tumbuh dalam diri Kartini bahwa meratapi keadaan saat berada pada masa pingitan tidak akan menyelesaikan persoalan. Arah pikirannya beralih pada usaha dan ketekunan. Masa pingitan yang membatasi ruang gerak berubah menjadi ruang belajar yang lebih intens. Buku, majalah, serta surat kabar menjadi teman utama yang membuka hubungan dengan dunia luar. Aktivitas tersebut menjadi sarana bagi Kartini untuk memahami berbagai gagasan yang sebelumnya sulit dijangkau.

Sikap Selektif Kartini dalam Memilih Bacaan

Ragam bacaan membuka jendela baru dalam pikirannya. Tema yang hadir sangat beragam, mulai dari pendidikan, budaya, hingga kehidupan sosial di Eropa. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut memperluas cara pandang serta memperkaya pemahaman Kartini terhadap kenyataan yang dihadapi.

Kartini tidak menjalani hubungan dengan bacaan secara pasif. Setiap halaman yang ditemui dipertimbangkan dengan cermat oleh Kartini. Kemampuan menilai berkembang seiring kebiasaan tersebut. Tidak semua tulisan mendapatkan tempat. Kartini menunjukkan sikap kritis terhadap bacaan yang menghadirkan pandangan sempit atau tidak sejalan dengan nilai yang diyakini.

Ketika berhadapan dengan tulisan yang menempatkan perempuan dalam posisi terbatas, Kartini menunjukkan respons kritis yang tampak dalam surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Gagasan dalam buku dibandingkan oleh Kartini dengan pengalaman hidup serta nilai yang diyakini. Ia memperlihatkan pembahasan mengenai pendidikan perempuan dan struktur sosial yang dianalisis dengan matang.

Kartini kerap kembali pada bacaan yang memberi wawasan baru dan memperluas cara pandang. Buku yang dianggap penting dibaca berulang kali oleh Kartini. Buku-buku tersebut disimpan dengan rapi sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat diakses. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa Kartini menempatkan kualitas isi sebagai dasar utama dalam menentukan bacaan.

Pengalaman hidup benar-benar memberi pengaruh besar terhadap cara berpikir Kartini. Lingkungan yang diisi oleh orang-orang dewasa menghadirkan banyak cerita tentang kehidupan nyata. Kartini menyerap pengetahuan dari percakapan sehari-hari yang melengkapi informasi dari buku.

Kartini juga membiasakan diri untuk mencatat gagasan yang dianggap penting. Setiap ide yang menarik perhatian dituliskan kembali dalam catatan pribadi. Catatan tersebut berisi nilai kehidupan, cara bersikap, serta pandangan yang ingin dipahami lebih jauh. Kebiasaan tersebut menunjukkan adanya proses pengolahan pengetahuan secara aktif.

Buku Bacaan Kartini yang Membentuk Cara Berpikir

Kartini berhadapan dengan banyak karya yang berisi gagasan besar tentang kehidupan, perempuan, serta struktur sosial. Beberapa karya yang dibaca Kartini tercatat dalam berbagai sumber sejarah, salah satunya adalah Max Havelaar serta Minnebrieven karya Multatuli. Buku tersebut berisi kritik terhadap praktik kolonial di Hindia Belanda dan membuka kesadaran tentang ketidakadilan sosial. Kartini menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan yang diangkat dalam karya tersebut karena berhubungan dengan realitas yang dihadapi masyarakat saat itu.

Karya lain yang disebut adalah Hilda van Suylenburg karya Cécile de Jong van Beek en Donk. Buku tersebut membahas pendidikan perempuan dan gagasan emansipasi. Dalam kajian sejarah, karya tersebut sering dikaitkan dengan perkembangan pemikiran Kartini mengenai posisi perempuan dalam masyarakat.

Selain itu, Kartini juga membaca berbagai tulisan yang beredar melalui majalah dan surat kabar berbahasa Belanda. Media seperti De Hollandsche Lelie menjadi salah satu sumber bacaan yang memperkenalkan isu perempuan, pendidikan, dan perkembangan sosial di Eropa. Soeroto (1982) mencatat bahwa kebiasaan membaca majalah dan surat kabar tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan Kartini.

Sikap Kartini terhadap bacaan tidak menunjukkan penerimaan tanpa pertimbangan. Dalam surat-suratnya, Kartini menyampaikan pandangan kritis terhadap gagasan yang tidak sesuai dengan nilai yang diyakini. Tulisan yang menghadirkan pandangan sempit terhadap perempuan atau membatasi ruang gerak perempuan mendapat tanggapan kritis dalam pemikiran Kartini. Sikap tersebut menunjukkan adanya proses seleksi terhadap isi bacaan.

Sebaliknya, buku yang memberikan wawasan baru dan membuka cara pandang yang lebih luas mendapat perhatian lebih. Kartini membaca, sekaligus menimbang isi bacaan sebagai bagian dari pembentukan cara berpikir. Kebiasaan membaca tetap hadir dalam keseharian Kartini sebagai bagian dari aktivitas belajar. Buku, surat kabar, dan majalah menjadi sumber yang terus digunakan untuk memahami berbagai gagasan yang diperolehnya.


Sumber referensi:
Repositori Institusi Kemendikdasmen https://share.google/Gm5iiJZcDBIzStZCA
https://republika.co.id/berita/selarung/tuturan/19/04/23/pqenqa282-bukubuku-yang-menginspirasi-kartini

Pemeriksa aksara: Mikha K.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayo pesan sekarang!