Ditulis oleh Setyaningsih*
1/
SEBUAH BUKU dalam kehidupan awalku sebagai pembaca rasanya masih impresif, bukan karena buku itu hadir dalam bentuk cetaknya semata, tapi ada suatu momen yang menjadikan kenangan itu tetap lekat. Saat itu, aku sedang berakhir pekan di rumah simbah di sebuah desa wilayah Simo. Sepupuku yang seumuran denganku datang membawa buku-buku bacaan bercap “Milik Negara/Tidak Diperdagangkan”. Aku tidak ingat berapa tepatnya jumlah buku yang dibawanya. Namun, satu buku berjudul Elang Bercincin Emas memantik perhatianku. Di teras simbah, aku meringkuk di atas kursi bersama buku itu. Guyuran hujan tanpa angin masih berlangsung, aku semakin terserap ke dalam cerita.
Aku tidak tahu pasti bagaimana aku benar-benar menyelesaikan satu buku itu. Bahkan, aku tidak bisa mengingat siapa penulisnya (aku masih belum menemukan buku itu meski telah mengoleksi dan menyisir ratusan buku bacaan anak dari proyek pengadaan buku Inpres). Hal itu berjalan begitu saja pada hari biasa pula. Aku bisa memastikan bahwa hujan tidak mengingatkanku pada melankolia kisah kasih masa muda atau puisi-puisi Sapardi. Permulaan perjumpaan dengan buku biasanya memuat ekspektasi yang keren dan terasa tidak nyata. Bagiku, permulaan itu hadir dalam rutinitas biasa, tampak sebagai satu dari sekian kebetulan yang membuka jalan menuju keputusan-keputusan setelahnya untuk tetap menjadi pembaca atau tidak.
Aku tidak tumbuh dalam tradisi keaksaraan yang menempatkan membaca buku sama lumrahnya dengan makan nasi, membeli baju Lebaran, belanja sembako, atau bahkan membeli buku tulis setiap tahun ajaran baru. Selain kitab suci yang tentu menjadi “buku wajib” usai sembahyang magrib, memang ada beberapa buku beraksara latin di rumah, terutama buku-buku bertema agama milik bapak. Sekalipun bapak bukan tipe orang tua yang meminta anak-anaknya rajin membaca apalagi secara spontan siap pulang-pergi ke Singapura (seperti salah satu orang tua seleb Indonesia) hanya untuk membeli buku.
Tubuh bapak yang membaca masih kuingat. Terkadang, ia akan duduk di dingklik, mencari sinar matahari di samping rumah untuk menerangi halaman bukunya. Di ruang tamu, bapak paling sering terlihat diam dan tidak melakukan apa-apa—betah dan baik-baik saja. Lagi-lagi, dari melihat rutinitas kecil yang biasa ini, aku belajar memahami betapa asyiknya “tidak melakukan apa-apa”. Di antara buku-buku bapak, kisah nabi dan Walisongo yang paling berkesan. Tentu, alih-alih memersepsikan buku itu dalam bingkai spriritual atau teladan iman, aku menghadapi keduanya sama seperti menghadapi cerita fantasi atau dongeng peri. Imajinasi memanduku menerima ketidakmasukakalan, sekaligus keajaiban.
Memang, di rumah kami hampir tidak ada pengasuhan keaksaraan yang manis: dibacakan buku sebelum tidur, hadiah buku cerita, atau rutin ke toko buku. Namun, ketika mulai memasuki sekolah dasar dan belajar membaca, ibulah yang mengajariku mengeja di sela-sela melakukan pekerjaan domestik. Setiap kata yang terucap dan kalimat yang terangkai seperti memendarkan dunia sekitarku. Rasanya melegakan, seperti angin sejuk saat membuka jendela atau sinar menerpa begitu pintu dibuka.
Selain kenangan tentang mengeja itu, aku sangat suka mendengar cerita masa kecil ibu di desa—sawah, singkong, kerbau, ciblon di sungai, teman-teman sekolah, Pasar Simo, mencuri telur ayam, dapur, baju Lebaran, dan simbah. Kami bisa berlama-lama rebahan di kasur demi memasuki semesta ibu. Cerita-cerita itu tidak selalu menyenangkan, pasti ada sedihnya. Suara ibuku bisa dibilang buku pertama sebelum aku lancar membaca dan berkelana dari buku ke buku.
Lalu, suatu momen kesialan yang menguntungkan terjadi suatu hari. Seorang sales berhasil membujuk bapak membeli seperangkat telepon kabel dengan bonus satu set cerita klasik dunia terbitan Duta Sarapan Express Internasional, Jakarta. Total ada lima buku (Rapunzel, Rumpelstiltskin, Penjahit Kecil yang Berani, Pangeran Kodok, dan Putri Salju) bersampul tebal dengan ilustrasi berwarna.
Buku berukuran 11,5 x 16,5 cm itu benar-benar rejeki nomplok bagi anak yang terbatas akses ke buku-buku baru atau bacaan menarik. Tidak terhitung berapa kali aku membaca buku-buku yang masih tersimpan di rumah sampai sekarang itu. Aku juga tidak tahu berapa tepatnya bapak membayar untuk telepon kabel yang tidak pernah kami pasang.
Mungkin keterbatasan itulah yang juga membuatku sangat menghargai cerita-cerita di buku pelajaran Bahasa Indonesia. Di masa sekolah dasar, setiap kali buku Bahasa Indonesia dibagikan, aku sudah langsung melahap habis cerita-cerita di setiap bab. Apalagi di masa sekolah, aku tidak berjumpa buku-buku petualangan badas Djokolelono, Dwianto Setyawan, Bung Smas, atau Kembangmanggis.
Begitu diajak mengerjakan proyek berjalan “Seri Klasik Semasa Kecil” bersama Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2024, aku menciptakan kenangan baru alih-alih memanggil kenangan dari masa lalu. Suatu kehormatan memasuki kembali karya para penulis yang bersinar di masanya, sekaligus menemukan kembali para pembaca yang menyimpan kenangan pembacaan itu sejak kanak-kanak.
Dan entah apakah ini terdengar baik, aku berterima kasih pada buku-buku bacaan Inpres yang dikirim ke sekolahku di pinggiran Boyolali. Sekalipun sangat disayangkan, sekolah tidak punya perpustakaan. Buku-buku ditaruh di ruang kelas dan sialnya tidak boleh dipinjam. Hanya di waktu istirahat yang singkat, buku-buku itu memungkinkan dibaca. Inilah salah satu hal yang sering kusesali ketika dewasa bahwa dulu aku tidak cukup berani untuk menjadi pencuri buku.
2/
Memasuki sekolah menengah pertama di Kota Solo jelas membuka akses lebih luas ke sumber-sumber buku: perpustakaan sekolah, persewaan komik, pasar buku bekas, dan toko buku. Pada 2002, aku bersekolah di salah satu madrasah tsanawiyah negeri. Di perpustakaan sekolah inilah, aku menebus paceklik buku melalui roman-roman Balai Pustaka dan penulis Pujangga Baru.
Sebelumnya, kakak perempuanku lebih dulu mengenalkanku pada salah satu buku Nur Sutan Iskandar, Salah Pilih, ketika aku masih kelas 6. Sampul buku yang menampakkan dua sosok tanpa wajah masih kuingat. Aku sangat antusias menghadapi roman berbahasa Indonesia tinggi. Buku itulah yang membawaku memasuki bentara sastra klasik Indonesia. Hal ini secara langsung juga membawa manfaat dalam arti harfiah; nilai-nilai pelajaran Bahasa Indonesia (dengan sedikit sastra) yang baik. Satu dari sedikit hal yang membuatku bangga mengingat kembali masa remaja.
Jika aku mengingat kembali biografi membaca Motinggo Busye—tentu dalam konteks berbeda—rasanya ada semacam emosionalitas yang serupa betapa berharga buku-buku bagi seorang pembaca muda. Pada 1942 ketika “Mobil Boekoe” Balai Pustaka tiba di kota kelahiran Busye, Koepangkota, mobil itu ditinggalkan karena serangan Nippon.
Tentu bukan keberuntungan bagi Indonesia yang belum sepenuhnya terlepas dari kolonialisme dan menjelas pendudukan lain, tapi Busye mengenang (Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka, 1992), “keluarga kami mendapat warisan dari tubuh mobil itu: kipas, kaca, spion, aki, ban. Peristiwa yang tak sengaja ini membuat saya berhutang budi karena isi mobil itu benar-benar “completed”, mulai dari cerita Sunda Ciung Wanara hingga Filsafat Barat ataupun karya-karya terjemahan Haji Agus Salim dan Bung Hatta.”
Dari perpustakaan sekolah, aku mendapat bacaan yang bisa dibilang serius. Persewaan komik dan buku di dekat sekolah menawarkan sebaliknya: ringan dan ngepop. Dengan uang saku yang tidak banyak, aku menjadi penyewa tekun Detective Conan (Gosho Aoyama), Doraemon (Fujiko F. Fujio), Ikkyu San, atau serial petualangan Lima Sekawan (Enid Blyton). Buku-buku inilah yang sering menyelamatkanku dari kebosanan mematikan pelajaran-pelajaran tertentu. Diam-diam aku menarik buku dari dalam laci atau menyelipkan komik di tengah buku pelajaran yang lebar.
Lagi-lagi jika suatu kebetulan, aku tetap tidak menampik hal-hal misterius yang bekerja atasnya. Salah seorang teman sekelasku yang nantinya mengantarku pada novel Harry Potter mengajakku ke pasar buku lawas Gladak dan TB Gramedia Solo untuk kali pertama. Di Gramedia dengan lantainya yang mengilap, barang-barang cantik nonbuku di lantai satu, dan ketenangan yang terdengar asing, aku mengalami kegugupan spasial.
Bentang buku dan tumpukan komik di lantai dua langsung menyergap meski tidak mudah beradaptasi dengan nuansa yang sangat baru ini. Jika perpustakaan sekolah mengajariku menjadi peminjam dan persewaan buku melatihku menyewa buku, di dua tempat baru yang terasa kontradiktif ini aku sadar bahwa paceklik bacaan bagi jiwaku sepertinya tidak akan tuntas.
Dari pasar buku Gladak, aku membeli novel-novel bekas (seingatku novel remaja populer ataupun islami), majalah Bobo bekas seharga 1.500 rupiah, dan komik. Di Gramedia, aku membeli buku baru pertamaku dengan uang THR—novel remaja islami, masih tersimpan di rak buku sampai sekarang.
Bagiku, buku itu menyimpan lebih dari sebuah kenangan sekalipun terasa receh. Apalagi dibandingkan referensi para remaja di kelas-kelas menulis yang kuampu belum lama ini, rasanya sulit untuk tidak merasa iri. Di usia amat muda, mereka tumbuh dengan membaca Dunia Sophie (Jostein Gaarder), Animal Farm (George Orwell), Little Women (Louisa May Alcott), To Kill a Mockingbird (Harper Lee), dan bahkan Madilog (Tan Malaka).
Namun, tanpa mengenal dulu buku-buku “receh yang baik”, aku tidak akan bertumbuh sebagai pembaca yang seperti sekarang ini.
3/
Belakangan ketika menulis esai-esai tentang buku dan pembaca; dari emosionalitas membaca sampai rating buku, aku kira ini bagian dari cara mencatat pengalaman dan renungan personalku, sekaligus bagaimana aku menyimak cerita para pembaca lainnya. Membaca selalu akan menjadi urusan privat.
Kritikus budaya Neil Postman dalam buku Selamatkan Anak-Anak (2009) menulis, “Sang pembaca bertawang dalam pikirannya sendiri. Dari abad keenam belas sampai sekarang apa yang paling diinginkan seorang pembaca dari orang lain adalah kesendirian, atau, jika bukan itu, ketenangan. Dalam membaca, baik penulis dan pembaca memasuki semacam konspirasi menentang kehadiran dan kesadaran sosial. Membaca merupakan, dalam sebuah ungkapan, sebuah tindakan antisosial.”
Membaca berarti siap mengadapi pergulatan sunyi diri dan terkadang itu memang melelahkan. Sampai muncul fenomena membaca hening bersama dengan sangat sengaja. Orang-orang membaca untuk diri sendiri, tapi tidak mau sendirian. Di sini, kesendirian disangkal dan ingin dihadapi sekaligus.
Jika dipikir-pikir, membaca hening bersama sepertinya tidak akan berhasil untukku. Aku menyukai kesendirian, seperti Matilda-nya Roald Dahl menyukai sore yang tenang dengan buku dan secangkir cokelat panas. Lalu, saat menemukan buku klasik, aku merasakan secuil ambisi Brauer membangun koleksi agungnya dalam Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez, 2016) tanpa berani membayangkan kegilaan mendirikan rumah dengan buku-buku dalam arti benar-benar harfiah.
Menarik juga memiliki “kemampuan cenayang untuk menebak minat pelanggannya” seperti pengantar buku bernama Carl dalam The Door-to-Door Bookstore (Carsten Henn, 2023). Seandainya aku terlempar ke fiksi distopia Fahrenheit 451 (Ray Bradbury, 2013), jelas tidak akan mudah memilih satu penulis-buku (saja) untuk dihidupkan kembali.
Siapakah pembaca dalam imperium teks? Begitu sebuah buku terbit, pembacanya nyaris selalu anonim (sekalipun internet melahirkan aplikasi pembaca dan media sosial menokohkan pembaca). Penulis selalu bernama. Filsuf Roland Barthes mengatakan bahwa sastra paling mementingkan pengarang sebagai manusia pribadi (Kematian Sang Pengarang, 2018).
Citra sastra dalam kebudayaan (cetak) kontemporer memusat pada pengarang (pribadi, sejarah, selera, kritik). Maka demi menetapkan teks, “kelahiran pembaca harus diimbangi oleh kematian sang pengarang.” Pembaca mungkin bukan siapa-siapa dan tetap anonim, tapi mereka ada dalam biografi perjalanan para buku dan pengarang.
Dari sebuah buku, lalu kebetulan demi kebetulan, aku meninggalkan dunia sekitar dengan sadar demi kesendirian dengan buku. Bahkan, terkadang terasa tidak penting lagi apakah dunia sedang bergerak, terdiam, atau menghilang. Bahwa buku-buku yang mengepung dan membentengi diriku sekarang ini hanyalah sebagian kecil dari keindahan pengetahuan yang berpendar di dunia ini. Dan sekalipun terlihat sebagai satu kebetulan di antara kebetulan lainnya, kebetulan semacam itu pun masih perlu racikan usaha, keberuntungan, energi, kesenangan. Perjalanan seorang pembaca ini belum dan sepertinya tidak akan pernah selesai.
Pemeriksa aksara: Mikha K.
*Setyaningsih, menulis esai, resensi, dan terkadang cerita anak. la menyukai es teh dan berjalan kaki. Buku kumpulan esai yang telah terbit: Melulu Buku (2016), Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016), dan dua jilid Kitab Cerita (2019 dan 2021). Bukunya yang diterbitkan Rua Aksara berjudul: “Virus dan Kutu di Jendela Dunia: Esai-Esai Bahasa” (2025). Terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2021 dan Balige Writers Festival 2024. Berkenalan boleh melalui IG @langitabjad.