Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia

Resensi oleh Handoko Widagdo *


Judul: Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia
Penulis: Miguel Angelo Jonathan
Tahun Terbit: 2020
Penerbit: Rua Aksara
Tebal: viii + 130
ISBN: 978-623-7258-59-9

————————————————

MEMBACA karya Miguel Angelo Jonathan (MAJ) ini kita diajak untuk memikirkan keterbelengguan manusia dan sekaligus kreativitas dalam mengatasi permasalahan hidup. Buku ini membuat 9 cerpen karya MAJ. Cerpen-cerpen tersebut berkisah tentang hal-hal yang tak biasa yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Namun, meskipun hal-hal tersebut adalah hal-hal yang tidak biasa dihadapi manusia, kenyataannya memang ada dan bisa saja terjadi. Itulah keunggulan MAJ dalam mengolah bahan cerita pendeknya.

Saya ingin mengulas dua cerpen yang menarik. Cerpen kedua ini menarik bagi saya karena mengajak saya memikirkan kembali bagaimana manusia merespons masalah yang dihadapinya. Cerpen pertama adalah “Siluman Ular dari Rawa Atarja.” Sedangkan cerpen kedua, adalah “Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia.” Cerpen kedua ini sekaligus dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini.

Tema keterbelengguan manusia muncul dalam cerpen “Siluman Ular dari Rawa Atarja.” Cerpen ini berkisah tentang masa lalu sebuah kota. Sebelum menjadi kota, wilayah ini adalah kerajaan ular. Situ Mito begitu kuat dipegang oleh para warganya, meski sudah menjadi sebuah metropolitan. Mitos itu menjadi landasan dalam tindakan-tindakan warga dalam mengatasi masalah munculnya binatang dari dalam kloset WC umum. Warga merasa bahwa binatang yang muncul di kloset WC umum itu adalah ular-ular yang marah karena wilayahnya telah dikotori manusia. Tindakan-tindakan itu menjadi tidak masuk akal karena didasarkan pada sebuah mitos. Padahal kasus sebenarnya adalah sebuah ketidaksengajaan seorang anak yang membuang  lele kecil ke dalam kloset.

Pikiran manusia memang sering berdasar pada hal yang masuk akal, tetapi bagaimana jika tindakannya dalam melakukan sesuatu itu tidak masuk akal? Misalnya, mitos dan hal-hal lain yang tak masuk akal ini sering menghalangi manusia untuk memeriksa tindakannya yang lebih rasional.

Cerpen kedua berjudul “Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia”. Cerpen ini menggambarkan seorang prajurit muda yang harus mempertahankan sebuah benteng di Batavia, Hollandia. Sersan Hans Madelijn harus mempertahankan benteng bobrok karena ia mendapat tugas dari Jan Pietersoon Coen, Sang Gubernur. Jan yang selama ini tinggal di benteng tersebut harus pergi karena mengurus urusan lain. Kepemimpinan atas benteng tersebut diberikan kepada Sersan Hans.

Hans tidak memiliki cukup tentara dan amunisi untuk menghadapi serangan tentara Mataram. Ketika amunisi telah habis, Hans menggunakan tinja untuk melawan prajurit Mataram. Idenya yang di luar nalar ini justru membuatnya berhasil mempertahankan benteng.

Cara di luar kebiasaan ini juga muncul dalam cerpen “Membakar Monyet Demi Sang Naga.” Cerpen ini berkisah tentang penggunaan monyet yang dipasangi mesiu untuk menyerang kapal Inggris yang sedang berperang dengan bangsa Han di Tiongkok. Monyet-monyet yang melompat ke sana ke mari berhasil membakar kapal lawan yang tak akan rusak jika ditembak dengan Meriam.

Dari cerpen ini saya berpikir kembali bahwa sering kali cara-cara yang  out of the box  bisa sangat efektif dalam memecahkan masalah. Sayangnya, ide-ide yang di luar kenormalan ini hanya muncul saat kita sudah terjepit. Padahal jika cara-cara ini memikirkan dari awal, maka jalan keluar bagi persoalan atau permasalahan bisa dilakukan dengan lebih baik.

Cerpen-cerpen lain yang dikumpulkan dalam buku ini pada umumnya menceritakan tentang hal-hal yang aneh tetapi bisa saja terjadi. Cerpen pertama “Hanuwele” mengisahkan betapa seorang peneliti Jerman terjebak dengan mitos seorang perempuan pribumi yang bisa mengeluarkan batu-batu Permata. Bukankah seharusnya seorang peneliti, apalagi dari Eropa, berpikiran logis dan rasional? Nyatanya tidak demikian.

Cerpen “Raja Mangkarak” dan “Kontradiksi Zangi dan Bagaimana Dia Akhirnya Mati”. Kedua cerpen ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin diktator tidak menghasilkan apa-apa. Mangkarak mengingatkan saya kepada seorang pemimpin yang meninggalkan banyak proyek mangkrak yang tak selesai, meski sudah memerintah cukup lama. Sedangkan, Zangi adalah seorang pemimpin yang kerpibadiannya kontradiktif. Ia suka foya-foya, tetapi  hidupnya sangat sederhana. Ia adalah seorang pemimpin yang kejam, tetapi dalam hatinya kecilnya sangat welas asih. Kepribadiannya yang kontradiktif inilah yang membuatnya dibunuh oleh seorang budak. Apakah kita sebagai manusia harus hanya memilih salah satu kepribadian saja?

“Hanya Kecil Gerbang” menggambarkan bahwa sering kali hal kecil justru yang membuat kita kalah. Raynor sang prajurit lupa menutup pintu kecil saat ia berjaga. Melalui pintu kecil inilah, tentara musuh bisa masuk dan mengalahkan pasukan yang ada di dalam kota.

“Aul” berkisah tentang seorang guru silat asal Sunda yang akhirnya menjadi serigala. “Hou Yi dan Pembunuh Sembilan Saudara” berkisah tentang seorang pemuda bernama Hou Yi yang berhasil membunuh 9 matahari. Ia menjadi terkenal dan hidup tenteram. Namun, Hau Yi akhirnya harus bersedih karena istrinya meminum ramuan keabadian dan melesat dan menempel di Bulan.

Kesembilan cerpen ini memang mengajak kita untuk memikirkan kembali jalan hidup kita sebagai manusia.

 

Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.
*Peresensi merupakan penulis Indonesiana. Resensi ini pernah dipublikasikan di indonesiana.id.

Ayo pesan sekarang!