Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Ulasan Buku “Adakah Kebahagiaan dalam Rencana Genetik Kita?” oleh Kurnia Hidayati

Judul: Adakah Kebahagiaan dalam Rencana Genetik Kita? Emosi sebagai Rancangan Evolusioner
Penulis: Afthonul Afif
Penerbit: Rua Aksara
Tebal: 260 Halaman
Cetakan: Oktober 2025
===========================

Seperti apakah rupa kebahagiaan? Mengapa banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya? Apakah ditunjukkan dengan ekspresi ceria setiap saat, padahal hati dan perasaannya sedang tidak baik-baik saja? Seakan-akan keceriaan adalah sebuah puncak keberhasilan dan sedih adalah kekurangan.

Lalu bagaimanakah kebahagiaan dalam kehidupan manusia? Serta bagaimanakah rasa bahagia itu bekerja?

Semuanya dibahas dalam buku karya Afthonul Afif, seorang psikolog klinis lulusan UGM. Buku ini berisi kumpulan tulisan yang berdasarkan pada kajian dan filsafat.

Banyak ilmu baru yang aku dapatkan dalam buku ini. Tentang bagaimana rasa jengkel, kesepian di tengah keramaian, perasaan hampa, hingga rasa senang dalam penderitaan orang lain. Awalnya aku mengira buku ini akan seperti buku self improvement biasa. Ternyata tidak. Isi di dalamnya “daging” semua.

Aku cukup lama menyelesaikan buku ini. Bagi orang awam sepertiku, aku tidak bisa secara cepat atau bahkan sekali duduk. Butuh konsentrasi untuk paham dan perenungan tiap selesai satu tulisan. Tak terhitung berapa bagian yang aku tandai. Sepertinya banyak sekali yang penting.

Tulisan berjudul Kenikmatan dan Ketidakkekalan adalah tulisan yang paling aku suka. Apalagi adanya kalimat yang viral akhir-akhir ini. Tentang seseorang yang menikmati sesuatu karena terbatas. Orang yang menikmati weekend adalah orang yang sehari-hari bekerja. Dalam buku ini dijelaskan pula bahwa, “ada hal-hal yang kita nikmati justru karena ketidakekalannya”, seperti pelangi yang hanya muncul sejenak, aroma kopi yang menguar sementara, dan sebagainya.

Ternyata kebahagiaan lebih terasa bermakna karena tidak permanen. Senang sedih terjadi silih berganti. Justru di situlah letak keindahannya. Kehidupan menjadi lebih seimbang. Begitu pula dengan emosi manusia. Ada jengkel, sedih, malu, yang sering dikira sebagai sebuah kelemahan. Ternyata tidak. Emosi tersebut adalah sebuah alarm untuk bisa merespons apa yang terjadi di luar diri manusia. Sehingga mampu bertahan dalam interaksi sosial.

Membaca buku ini tak hanya menambah pengetahuan baru, tetapi juga membantuku lebih mengenali diri, serta semakin takjub dengan cara Tuhan menciptakan manusia sejak zaman purba. Manusia diciptakan lengkap dengan emosi yang ia miliki sebagai bagian dari mekanisme diri untuk beradaptasi.

=========================

* Kurnia Hidayati, seorang guru di SMPN 6 Batang yang juga aktif sebagai penulis. Buku puisi tunggalnya berjudul Senandika Pemantik Api terbit tahun 2015.

*Ulasan ini telah dipublikasikan melalui instagram miliknya yaitu @katakurnia

Ayo pesan sekarang!