Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

MENGUBAH DISERTASI “RUANG KETIGA” MENJADI TULISAN POPULER

Ditulis oleh Hartono Rakiman*

Resensi buku ruang ketiga

SAYA ingin memulai diskusi tentang resensi buku Ruang Ketiga—yang berasal dari disertasi doktoral Jony Eko Yulianto di Massey University, Auckland, Selandia Baru—dengan mengaitkan fenomena academic echo chamber. Fenomena tersebut ditandai dengan kondisi di mana sirkulasi pengetahuan yang relatif terbatas di dalam komunitasnya sendiri. Sebuah studi berbasis altmetrics menunjukkan perkiraan kasar bahwa kurang dari 10 persen artikel ilmiah punya jejak di luar dunia akademik. Artinya, tulisan ilmiah itu sedikit sekali sampai di tengah-tengah masyarakat luas.

Buku Ruang Ketiga terbitan Rua Aksara (Februari 2026) ini berhasil menembus sekat echo chamber itu dan menjadi buku yang enak dibaca. Menurut pengakuan Jony Eko Yulianto, diperlukan waktu tiga tahun—sejak 2023 hingga 2026—dan mengalami enam kali revisi sebelum menjadi buku populer yang beredar di tangan pembaca. Di sana, ada peran penting sosok lima orang proofreader yang membantu penulis untuk membongkar menara gading tulisan ilmiah yang cenderung kaku dan dingin, berubah menjadi cair, hangat dan mampu menyentuh hati pembacanya. Kerja keras Jony Eko Yulianto, para proofreader, dan tentu saja penerbit buku ini patut mendapat apresiasi serta menjadi contoh tentang bagaimana sebuah karya ilmiah membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Buku Ruang Ketiga terbagi ke dalam sepuluh bab, dibuka dengan “Bab Satu” dengan cerita soal sambal terasi dan ditutup “Bab Sepuluh” dengan cerita soal koper yang berisi serpihan kenangan Albany untuk dibawa pulang merayakan keberagaman yang ada di Indonesia.

Jony Eko Yulianto dengan jujur dan terbuka membuka tulisan pada buku ini dengan obrolan soal sambal terasi sebagai obrolan sehari-hari dan intim dengan istrinya di ruang privat. Mereka berdua adalah pasangan beda etnis. Jony berdarah Jawa dan sang istri, Grace, berdarah Minahasa. Ini adalah prolog yang tepat sasaran dengan buku yang membahas soal ketegangan kehidupan pasangan beda etnis, utamanya etnis Tionghoa dan etnis Jawa. Dapat segera ditebak bahwa tulisan pada “Bab Satu” ini tak akan pernah dapat ditemukan pada tulisan asli disertasi Jony di Massey University.

Tema besar yang ditawarkan oleh buku Ruang Ketiga adalah tentang ruang alternatif, ruang negosiasi yang secara sadar dan terus menerus disepakati oleh kedua belah pihak yang memiliki latar belakang etnis, budaya, hingga keyakinan yang berbeda. Secara ilmiah, Ruang Ketiga merupakan adaptasi dari buah pemikiran Homi K. Bhabha yang menggambarkan pertukaran budaya yang muncul dalam konteks kolonial dan pascakolonial. Jika Homi K. Bhabha melihat pertukaran budaya secara makro, misalnya pop culture, Jony lebih cenderung memilih untuk mengambil pertukaran budaya dari sisi mikro, menyoroti kehidupan sehari-hari secara sederhana berupa pertautan budaya (cultural assemblage).

Dari sinilah, tulisan soal pertautan budaya menemukan relevansi sehari-hari dengan yang dialami pembaca buku ini. Meminjam jargon para pembaca Gen-Z sebagai tulisan yang relate dan engage dengan kehidupan mereka sehari-hari. Di sana, ada cerita tentang bagaimana benda-benda yang melingkupi kehidupan pasangan beda etnis sebagai medium negosiasi yang muncul dan bercerita, seperti lipstik, jilbab, uang, mobil, dan sebagainya.

Disertasi yang membahas tentang interaksi dua manusia—termasuk aktor lain di sekitarnya yang ikut memengaruhinya—semakin menemukan relevansinya ketika disertasi itu ditulis dengan sentuhan emosi daripada sekadar mengedepankan aspek kognitif ilmu pengetahuan.

Membaca seluruh rangkaian kesepuluh bab yang ada pada buku ini terasa seperti sedang membaca sebuah karya sastra, tanpa ada unsur menggurui apalagi seperti sedang membaca diktat ilmiah yang membuat pening kepala.

Proses bongkar ulang disertasi menjadi karya ilmiah populer membutuhkan kerja keras dan kebesaran hati penulisnya untuk menerima saran serta kritik dari para proofreader yang tahu betul apa yang ada di kepala para pembaca, terutama para pembaca gen Z yang cenderung lebih kritis. Peristiwa dan dialog sehari-hari yang menggambarkan bagaimana Ruang Ketiga dibentuk dari proses negosiasi, adaptasi, dan kompromi yang dilakukan secara terus menerus oleh para pelaku menjadi tulisan yang hidup ketika pembaca diajak mengikuti keseharian mereka. 

Pilihan untuk mengemas buku ini sebagai tulisan naratif dengan teknik storytelling akan terasa lebih hidup di kepala para pembaca, yang mampu menciptakan theatre of mind, daripada tulisan deskriptif yang kering.

Penerbit Rua Aksara yang cenderung memilih jalur tulisan-tulisan bergenre psikologi reflektif memiliki kontribusi yang besar dalam menumbuhkan ruang kreatif bagi tulisan-tulisan ilmiah menjadi tulisan ilmiah populer menyapa ramah para pembacanya.

Review buku ini sekaligus ingin menegaskan keyakinan bahwa dunia penerbitan buku belum mati. Buku akan tetap mampu menemukan pembaca setianya ketika mampu mengajak pembaca berdiskusi di kepala, menyapa dengan hangat dan menyentuh hati, serta mampu menciptakan theatre of mind. 

Diskusi penutup resensi buku ini menjadi semakin relevan ketika menyadari bahwa latar belakang pembaca buku gen Z cenderung memiliki beberapa karakter, yaitu attention span yang pendek, fokus yang selektif, suka sesuatu yang relevan dan personal, lebih suka sesuatu yang konkret dan dikemas secara storytelling, suka gaya bahasa yang santai dan conversational, serta peduli pada isu sosial. Dan lebih daripada itu, mereka ingin mendapatkan bacaan yang interaktif dan ingin dilibatkan. Jika beberapa poin di atas tidak muncul pada gaya tulisan yang ditawarkan, dapat dipastikan buku yang diterbitkan hanya diciptakan untuk dicetak, tetapi bukan untuk dibaca.


*Hartono Rakiman, penggerak literasi Rumah Baca https://rumahbaca.wordpress.com dan host Garasi Cerita https://www.youtube.com/@garasi-cerita

 Pemeriksa aksara: Mikha K.

Ayo pesan sekarang!