Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Metamorfosis Ruang Kelas Sastra

Rp195.000

Selama ini, pelajaran sastra dilihat sebagai sesuatu yang fungsional. Sastra diajarkan agar murid pintar berbahasa, lulus ujian, atau mendapat nilai bagus. Itu tidak salah, tetetapi ada yang hilang. Yang hilang adalah getaran hidup diri murid sebagai manusia. Sastra kemudian menjadi kering, penuh istilah intrinsik, dan jauh dari keseharian siswa. Akibatnya, banyak anak bosan membaca cerpen atau puisi.
Dulu, membaca cerpen atau puisi terasa seperti diajak masuk ke dunia lain. Ada getaran, ada rasa penasaran, ada kehangatan saat menemukan kalimat yang persis menggambarkan perasaan. Tetapi hari ini, di banyak kelas, getaran itu hilang. Sastra berubah menjadi sekumpulan tugas. Murid menjadi mesin untuk mencari majas, menentukan latar, membedakan tokoh protagonis dan antagonis. Yang tadinya hidup, tiba-tiba mati.
Penyebabnya sederhana. Pembelajaran sastra sering dimulai dari hal yang paling jauh dari siswa. Bukan dari rasa, tetapi dari istilah. Bukan dari keterkejutan membaca sebuah kalimat, tetapi dari kewajiban menghafal unsur intrinsik. Akibatnya, sastra terasa seperti anatomi mayat. Semua bagiannya disebutkan satu per satu, tetapi napasnya tidak ada. Murid dapat menyebutkan apa itu alur mundur, tetapi tidak merasakan apa-apa saat membaca cerita yang menggunakan alur itu.

Metamorfosis Ruang Kelas Sastra

Rp195.000

Selama ini, pelajaran sastra dilihat sebagai sesuatu yang fungsional. Sastra diajarkan agar murid pintar berbahasa, lulus ujian, atau mendapat nilai bagus. Itu tidak salah, tetetapi ada yang hilang. Yang hilang adalah getaran hidup diri murid sebagai manusia. Sastra kemudian menjadi kering, penuh istilah intrinsik, dan jauh dari keseharian siswa. Akibatnya, banyak anak bosan membaca cerpen atau puisi.
Dulu, membaca cerpen atau puisi terasa seperti diajak masuk ke dunia lain. Ada getaran, ada rasa penasaran, ada kehangatan saat menemukan kalimat yang persis menggambarkan perasaan. Tetapi hari ini, di banyak kelas, getaran itu hilang. Sastra berubah menjadi sekumpulan tugas. Murid menjadi mesin untuk mencari majas, menentukan latar, membedakan tokoh protagonis dan antagonis. Yang tadinya hidup, tiba-tiba mati.
Penyebabnya sederhana. Pembelajaran sastra sering dimulai dari hal yang paling jauh dari siswa. Bukan dari rasa, tetapi dari istilah. Bukan dari keterkejutan membaca sebuah kalimat, tetapi dari kewajiban menghafal unsur intrinsik. Akibatnya, sastra terasa seperti anatomi mayat. Semua bagiannya disebutkan satu per satu, tetapi napasnya tidak ada. Murid dapat menyebutkan apa itu alur mundur, tetapi tidak merasakan apa-apa saat membaca cerita yang menggunakan alur itu.

  • Detail Buku
  • Tentang Penulis
  • Review Buku
  • Testimoni

Penulis Prof. Sutyatno

Penerjemah -

Dimensi14x21 cm

Tebal301

Cetakan-

ISBN/QRCBN-

Finishingsoft cover

Stok Tersedia

Data penulis belum ditambahkan. Silakan hubungkan kontributor pada produk ini.

Review Pembaca (0)

Belum ada review

Testimoni Pembeli (0)

Belum ada testimoni

Buku Terkait
Ayo pesan sekarang!