Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit
Rp78.000
Sebuah novel yang menceritakan kisah sekumpulan anak yang mencari orang tua mereka dengan cari memancing ikan di Kedung Mayit, tapi hanya seorang yang mendapatkannya, anak itu bernama Makmur. Sayangnya, menjelang menjelma “bapak-ibu”, kedua ikan itu hilang. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu apa yang dilakukan Makmur demi menemukan bapak ibunya?
——————————-
Hal yang unik dari novel ini adalah bagaimana Penulis mengawinkan folklore dengan peristiwa realis. Misalnya kisah tentang ikan-ikan di Kedung Mayit yang bisa menjelma menjadi manusia jika terkena pancingan. Hal-hal menyedihkan, seperti anak-anak piatu dan yatim yang berusaha memancing ikan di Kedung Mayit untuk mendapatkan ibu dan bapak, terasa lebih menyayat ketika diceritakan dengan cara seperti ini. Di tangan Penulis, tampaknya perkawinan semacam ini—folklore dan realis—bisa berjalan dengan langgeng.
Namun, rupanya Penulis tak berhenti di realis semata. Di beberapa tempat ia sisipkan hal-hal magis yang dituturkan oleh pengisah lancung. Misalnya ketika Silo berkata bahwa ada kupu-kupu yang bisa bicara dan suka mendongeng dan merupakan jelmaan neneknya yang menyuruhnya segera pergi dari rumah. Hal semacam ini juga bertebaran di beberapa tempat semisal perihal ibu dan nenek Tunggal yang menjelma merpati di saat menjelang ajal.
Di berbagai tempat, novel ini juga mengungkap beberapa kejadian bersejarah. Misalnya ketika Durjana ikut dalam perburuan anggota partai berlambang alat pertukangan dan pertanian. Atau ketika akhirnya tokoh-tokoh dalam novel ini menjadi korban dan pelaku kejadian penembakan misterius di tahun 1980-an. Walaupun begitu, peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut tak tampak sebagai tempelan semata, melainkan bersenyawa dengan begitu subtil. Tokoh-tokoh tak hanya menjadi wayang yang menjadi perpanjangan mulut si pencerita mengenai peristiwa bersejarah tersebut sebagaimana fiksi-fiksi sejarah lainnya, melainkan menjadi manusia seutuhnya yang berotak dan berdaging yang hidup pada masa itu.
Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit
Rp78.000
Sebuah novel yang menceritakan kisah sekumpulan anak yang mencari orang tua mereka dengan cari memancing ikan di Kedung Mayit, tapi hanya seorang yang mendapatkannya, anak itu bernama Makmur. Sayangnya, menjelang menjelma “bapak-ibu”, kedua ikan itu hilang. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu apa yang dilakukan Makmur demi menemukan bapak ibunya?
——————————-
Hal yang unik dari novel ini adalah bagaimana Penulis mengawinkan folklore dengan peristiwa realis. Misalnya kisah tentang ikan-ikan di Kedung Mayit yang bisa menjelma menjadi manusia jika terkena pancingan. Hal-hal menyedihkan, seperti anak-anak piatu dan yatim yang berusaha memancing ikan di Kedung Mayit untuk mendapatkan ibu dan bapak, terasa lebih menyayat ketika diceritakan dengan cara seperti ini. Di tangan Penulis, tampaknya perkawinan semacam ini—folklore dan realis—bisa berjalan dengan langgeng.
Namun, rupanya Penulis tak berhenti di realis semata. Di beberapa tempat ia sisipkan hal-hal magis yang dituturkan oleh pengisah lancung. Misalnya ketika Silo berkata bahwa ada kupu-kupu yang bisa bicara dan suka mendongeng dan merupakan jelmaan neneknya yang menyuruhnya segera pergi dari rumah. Hal semacam ini juga bertebaran di beberapa tempat semisal perihal ibu dan nenek Tunggal yang menjelma merpati di saat menjelang ajal.
Di berbagai tempat, novel ini juga mengungkap beberapa kejadian bersejarah. Misalnya ketika Durjana ikut dalam perburuan anggota partai berlambang alat pertukangan dan pertanian. Atau ketika akhirnya tokoh-tokoh dalam novel ini menjadi korban dan pelaku kejadian penembakan misterius di tahun 1980-an. Walaupun begitu, peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut tak tampak sebagai tempelan semata, melainkan bersenyawa dengan begitu subtil. Tokoh-tokoh tak hanya menjadi wayang yang menjadi perpanjangan mulut si pencerita mengenai peristiwa bersejarah tersebut sebagaimana fiksi-fiksi sejarah lainnya, melainkan menjadi manusia seutuhnya yang berotak dan berdaging yang hidup pada masa itu.
- Detail Buku
- Tentang Penulis
- Review Buku
- Testimoni
Penulis Dewanto Amin Sadono
Penerjemah -
Dimensi13x19 cm
Tebal198 halaman
CetakanCetakan Pertama, 2025
ISBN/QRCBN978-623-6650-60-8
Finishingsoft cover
Stok 18 pcs
Dewanto Amin Sadono
Seorang guru dan penulis yang beralamat di Kajen, Kabupaten Pekalongan. Cerpen-cerpennya menjadi juara utama tingkat nasional dan dimuat di Kompas id, Tempo, Solo Pos, Jawa Pos, Basabasi, dan beberapa media lain. Novel "Ikan-Ikan dan Kunang Kunang di Kedung Mayit" dinobatkan menjadi juara I pada Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022. Manuskrip Drama "Gentho" mendapat penghargaan Prasidatama 2023 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Novela Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya parda tahun 2024 mendapat penghargaan sebagai nomine buku sastra Kemendikbudristek.
Review Pembaca (0)
Belum ada review
Testimoni Pembeli (1)
“Novel ini adalah perkawinan sempurna antara realis dan magis dan folklore dan sejarah. Ini adalah senjata mematikan yang jarang diasah oleh penulis-penulis lainnya.”
Buku Terkait
-
Pesan via Whatsapp
DANUM
Rp155.000Rp150.000 -
Pesan via Whatsapp
Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai
Rp100.000Rp90.000 -
Pesan via Whatsapp
Jack & Si Gila
Rp105.000Rp90.000 -
Pesan via Whatsapp
Generasi Y
Rp67.000Rp58.000




