Buku Referensi, Representasi Kearifan Pangan Lokal dalam Cerpen Indonesia Mutakhir
Rp110.000
Buku ini berangkat dari pemahaman bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga bagian dari pengetahuan, tradisi, identitas, nilai sosial, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Pengetahuan tentang cara memperoleh, mengolah, menyimpan, dan mengonsumsi pangan terbentuk melalui pengalaman masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui perspektif sastra terapan, buku ini mengkaji dua belas cerpen kontemporer yang merepresentasikan berbagai pengetahuan dan praktik pangan lokal. Upaya mengenali kembali kearifan pangan lokal menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim, krisis pangan, perkembangan industri pangan, dan perubahan pola konsumsi.
Generasi X, Y, Z, dan Alpha kini hidup dalam lingkungan pangan yang semakin terbuka terhadap produk global, termasuk makanan cepat saji. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang beragam, seperti pecel Jember, lontong petis Lumajang, nasi sodu Situbondo, kue gemblong, kuliner berbasis singkong Lampung, bubur pedas Sumatera Utara, serta kuah pliek u dan timphan dari Aceh.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkenalkan dan mendokumentasikan pangan lokal, terutama kepada generasi muda, agar pengetahuan dan identitas budaya yang menyertainya tetap dikenal dan dapat diwariskan. Sastra dapat menjadi salah satu medium untuk mengenalkan kekayaan tersebut. Cerpen tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis,
tetapi juga merekam praktik pangan, tradisi, hubungan sosial, nilai budaya, dan pengetahuan masyarakat tentang lingkungannya. Pengetahuan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber inspirasi bagi usaha kuliner berbasis lokal melalui kreativitas dan inovasi, sehingga pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Buku Referensi, Representasi Kearifan Pangan Lokal dalam Cerpen Indonesia Mutakhir
Rp110.000
Buku ini berangkat dari pemahaman bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga bagian dari pengetahuan, tradisi, identitas, nilai sosial, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Pengetahuan tentang cara memperoleh, mengolah, menyimpan, dan mengonsumsi pangan terbentuk melalui pengalaman masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui perspektif sastra terapan, buku ini mengkaji dua belas cerpen kontemporer yang merepresentasikan berbagai pengetahuan dan praktik pangan lokal. Upaya mengenali kembali kearifan pangan lokal menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim, krisis pangan, perkembangan industri pangan, dan perubahan pola konsumsi.
Generasi X, Y, Z, dan Alpha kini hidup dalam lingkungan pangan yang semakin terbuka terhadap produk global, termasuk makanan cepat saji. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang beragam, seperti pecel Jember, lontong petis Lumajang, nasi sodu Situbondo, kue gemblong, kuliner berbasis singkong Lampung, bubur pedas Sumatera Utara, serta kuah pliek u dan timphan dari Aceh.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkenalkan dan mendokumentasikan pangan lokal, terutama kepada generasi muda, agar pengetahuan dan identitas budaya yang menyertainya tetap dikenal dan dapat diwariskan. Sastra dapat menjadi salah satu medium untuk mengenalkan kekayaan tersebut. Cerpen tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis,
tetapi juga merekam praktik pangan, tradisi, hubungan sosial, nilai budaya, dan pengetahuan masyarakat tentang lingkungannya. Pengetahuan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber inspirasi bagi usaha kuliner berbasis lokal melalui kreativitas dan inovasi, sehingga pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan penguatan ekonomi masyarakat.
- Detail Buku
- Tentang Penulis
- Review Buku
- Testimoni
Penulis Titik Indarti, Setya Yuwana Sudikan, Achmad Rizal Taufiqi
Penerjemah -
Dimensi14x21 cm
Tebal170
CetakanCetakan Pertama, 2026
ISBN/QRCBN-
Finishingsoft cover
Stok Tersedia
Data penulis belum ditambahkan. Silakan hubungkan kontributor pada produk ini.
Review Pembaca (0)
Belum ada review
Testimoni Pembeli (0)
Belum ada testimoni
