
Jane Friedman, seorang yang menghabiskan seluruh kariernya di industri penerbitan, memberikan pandangannya bahwa dalam 10 tahun terakhir, dunia penerbitan tidak begitu revolusioner. Tidak terdapat perubahan-perubahan mendadak yang menggebrak.
Perubahan yang ada tidak sebesar 10 tahun sebelumnya—banyak pendatang baru dalam penerbitan, adanya konsolidasi yang terus berlangsung, atau terdapat pertempuran politik. Industri penerbitan sejak tahun 2015 beroperasi dengan cara yang pada dasarnya sama.
Namun, terdapat item-item perubahan dalam satu dekade terakhir yang penting. Diprediksi, item-item perubahan ini dapat bertahan lama dalam industri penerbitan menurut Jane Friedman. Berikut item-item perubahan yang dimaksud.
Buku Audio telah menjadi Saluran Penjualan Utama
Buku audio telah berkembang menjadi salah satu saluran penjualan utama dalam industri penerbitan. Sepuluh tahun lalu, banyak pihak memprediksi bahwa buku elektronik akan mengungguli buku cetak untuk sejumlah kategori. Meskipun penjualan buku elektronik bertanggung jawab terhadap penurunan pasar buku fisik secara massal, pendapatan buku audio berhasil melampaui pendapatan ebook bagi penerbit tradisional serta beberapa penulis dari penerbitan mandiri.
Laporan Tahunan 2024 dari Association of American Publishers menunjukkan bahwa audio digital menyumbang 11,3 persen dari total penjualan (berdasarkan nilai dolar), sementara buku elektronik berada di angka 10,8 persen. Pada tahun yang sama, penjualan buku audio untuk pertama kalinya melampaui angka 1 miliar dolar AS. Hal tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada awal kemunculan buku audio sekitar tahun 2015, pertumbuhan buku audio sempat dianggap sebagai tren sementara yang diperkirakan akan melambat. Namun, perkembangan industri menunjukkan sebaliknya. Penerbit baru seperti Podium Publishing membangun model bisnisnya dengan berfokus pada format audio. Masuknya Spotify ke pasar, yang kemudian menantang dominasi Audible, turut mendorong ekspansi pasar secara signifikan tanpa menggerus penjualan yang sudah ada.
Buku Cetak Belum Punah, tetapi Lanskap Media Telah Berubah Drastis
Dibandingkan surat kabar, majalah, dan media daring, industri penerbitan buku relatif lebih terlindungi dari krisis struktural. Meski demikian, penerbit tradisional selama bertahun-tahun mengandalkan ekosistem media yang kini melemah untuk memperoleh kritik, liputan, dan visibilitas bagi penulis serta buku.
Bahkan media yang masih menyediakan ruang ulasan buku, seperti The New York Times, secara terbuka menyatakan bahwa ulasan buku tidak lagi mendorong penjualan sebagaimana sebelumnya. Dampaknya, penerbit dan penulis mulai mencari jalur alternatif untuk menjangkau pembaca.
Perhatian kemudian beralih ke komunitas pembaca dan influencer di berbagai medium, terutama melalui media sosial seperti TikTok. Dalam konteks ini, ulasan dan peringkat pembaca di platform ritel daring—khususnya Amazon—menjadi semakin penting dalam membentuk keputusan pembelian. Meskipun kritik sastra tetap memiliki nilai, pengaruhnya kini terbatas pada segmen tertentu. Seiring perubahan tersebut, penerbit juga mulai berinvestasi dalam strategi direct-to-consumer, termasuk membangun basis pembaca melalui newsletter dan mengembangkan kanal e-commerce sendiri.
Penjualan Langsung Semakin Penting bagi Penulis dan Penerbit
Selama bertahun-tahun, dominasi Amazon dalam penjualan buku terasa hampir tidak tergoyahkan. Namun, munculnya penulis dan penerbit yang membangun hubungan langsung dengan pembaca menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu platform bukan lagi menjadi satu-satunya jalan.
Pertumbuhan pendanaan bersama (crowdfunding) menjadi salah satu jalur yang semakin diperhitungkan, terutama setelah kesuksesan penulis buku terlaris Brandon Sanderson pada 2022 dengan kampanye Kickstarter terbesar dalam sejarah penerbitan. Selain itu, meningkatnya acara tatap muka membuka peluang baru bagi penjualan langsung, terutama untuk edisi terbatas dan mewah.
Pada 2024, startup seperti Beventi hadir untuk mendukung penjualan berbasis sistem pemesanan awal (pre-order) dalam konteks acara penulis. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa memprioritaskan penjualan melalui Amazon kini lebih bersifat pilihan strategis daripada keharusan. Bagi penulis yang mampu memperluas aktivitas kreatifnya melampaui penjualan buku—termasuk melalui tulisan berlangganan—tersedia peluang penghasilan tambahan melalui platform seperti Patreon dan Substack.
Kemitraan Hybrid dan Kolaboratif Terus Berkembang
Sejak awal 2010-an, jalur penerbitan yang tersedia bagi penulis mengalami diversifikasi yang signifikan. Pertumbuhan jalur non-tradisional sejak 2015 menandai perubahan besar dalam cara buku diterbitkan dan didistribusikan.
Salah satu bentuk yang kini semakin mapan adalah penerbitan hibrida, yaitu model di mana penulis membayar biaya penerbitan, tetapi memperoleh nilai yang biasanya ditawarkan oleh penerbit tradisional, seperti standar editorial dan distribusi industri. Model ini sebenarnya bukan hal baru dan telah ada sejak abad ke-19. Namun, penerbit hibrida masa kini mengklaim memberikan dukungan yang lebih menyeluruh bagi kesuksesan buku, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada banyak faktor dan tidak pernah dijamin.
Di sisi lain, kolaborasi antara penerbit tradisional dan penulis independen yang telah sukses secara mandiri juga semakin meningkat. Beberapa penerbit membentuk cetakan khusus untuk bekerja sama dengan penulis swaterbit, di mana penulis mempertahankan hak digital—seperti buku elektronik dan audio—sementara penerbit menangani distribusi cetak, pemasaran, dan publikasi ritel. Dari sudut pandang industri, pendekatan ini menunjukkan potensi keuntungan bagi kedua belah pihak.
Meski teknologi digital terus berkembang, dunia penerbitan buku sejak sekitar 2015 tidak mengalami perubahan yang benar-benar revolusioner. Salah satu penyebab utamanya adalah ketahanan buku cetak yang masih sangat kuat, baik secara ekonomi maupun kultural. Pertumbuhan ebook dan audiobook memang nyata, tetapi belum cukup untuk menggantikan dominasi buku fisik secara menyeluruh. Di sisi lain, harga ebook juga relatif tidak jauh berbeda dari buku cetak. Hal ini diakibatkan oleh model bisnis dan kebijakan harga penerbit yang membuat peralihan ke format digital tidak seagresif yang dulu diperkirakan.
Selain itu, struktur industri penerbitan cenderung bertahan pada pola lama. Penerbit besar masih mengandalkan model bisnis konvensional yang berhati-hati, berfokus pada judul berisiko rendah dengan potensi pasar besar, serta mempertahankan sistem produksi dan distribusi yang relatif tradisional. Digitalisasi memang menghadirkan format baru, tetapi tidak serta-merta membongkar struktur kekuasaan lama dalam industri. Alih-alih menciptakan revolusi, platform digital justru memunculkan fragmentasi pasar dan persoalan discoverability, dimana banyaknya pilihan membuat buku semakin sulit ditemukan oleh pembaca.
*Sumber Referensi
https://janefriedman.com/how-publishing-has-changed-since-2015/ https://publishdrive.com/amp/why-publishing-houses-need-to-understand-book-trends
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.