Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Metafisika: Titik Temu Sains dan Agama

Ditulis oleh M.S. Arifin (Penulis buku Investigasi Metafisis: Tuhan, Dunia, dan Manusia dalam Tinjauan Ontologi Kesempurnaan)

DALAM sejarah pemikiran Islam, warisan filsafat dari Yunani menyumbangkan tegangan urat nadi di antara para ulama dan pemikir. Filsafat Yunani hadir bak gelombang ombak yang tak terbendung, membentur batu karang tradisi keislaman dua abad setelah Nabi Muhammad mangkat. Dalam upaya penerjemahan besar-besaran di era Abbasiyyah awal, alam pikiran Yunani tak bisa tidak berpengaruh bagi terbentuknya aliran poros alternatif. Semenjak era Muktazilah dan Asy’ariyah, warisan Yunani selalu dicurigai kendati di waktu yang sama juga digunakan. Puncaknya ketika Al-Ghazali menulis “Tahafut al-Falasifah”. Bagi Al-Ghazali, warisan Yunani itu perlu diklasifikasi sebelum ditanggapi: (1) matematika (riyadliyyat) berisi kebenaran yang tak perlu digugat; (2) logika (manthiqiyyat) mayoritas isinya benar, sedikit sekali kekeliruannya; (3) fisika (thabi’iyyat) berisi campuran antara kebenaran dan kekeliruan; dan (4) metafisika (ilahiyyat) mayoritas berisi kekeliruan dan minim sekali kebenarannya. Semenjak klasifikasi atas keilmuan Yunani yang dilakukan oleh Al-Ghazali ini, umat Islam semakin tahu mana yang harus diterima dan mana yang harus ditolak dari warisan kaum Pagan itu.

Ketegangan paling kentara antara warisan Yunani dan pemikiran Islam terletak di jantung yang paling krusial: ketuhanan. Wahyu agama (dalam hal ini Al-Quran dan hadis) hadir untuk menegaskan tentang masalah ketuhanan yang ajarannya terbakukan lewat disiplin ilmu akidah atau ilmu kalam. Dalam agama samawi, terkhusus Islam, alam semesta digambarkan sebagai ciptaan (makhluk). Tuhan adalah pencipta yang keberadaan-Nya niscaya dan qadim (abadi a parte ante). Atas kehendak dan kuasa-Nya, alam semesta tercipta. Karena alam semesta adalah ciptaan, ia tidak mungkin bersifat niscaya dan qadim; pasti ia bersifat mungkin dan baharu (hadits). Metafisika Yunani yang sampai ke dunia Islam memiliki teori yang berbeda. Alam digambarkan sebagai akibat dari penyebab pertama (filsafat Peripatetik) atau alam diilustrasikan sebagai limpahan (emanasi) dari Akal Pertama (filsafat Neo-Platonisme). Oleh warisan Yunani, alam dipahami sebagai wujud yang niscaya kendati keniscayaannya karena yang lain (wajib al-wujud lighairihi). Karena keberadaannya niscaya, alam semesta harus qadim bersama dengan qadim-nya Tuhan. Inilah persinggungan paling menegangkan antara akidah Islam dan filsafat Yunani yang menuntut Al-Ghazali untuk mengkafirkan siapa saja orang yang mengatakan bahwa alam semesta itu qadim. Metafisika akhirnya diidentikkan sebagai warisan yang harus ditolak karena berseberangan dengan akidah.

Di belahan bumi yang lain, sekitar tujuh abad setelah kematian Al-Ghazali, Immanuel Kant hadir untuk mempertanyakan keabsahan fondasi metafisika. Kant gelisah dengan metafisika yang dibawa oleh tradisi rasionalisme sebelum dirinya. Sekaligus, di waktu yang sama, ia ingin menjawab beberapa filsuf empirisisme yang menolak klam-klaim metafisis.

Melalui kritik akal budi murni, Kant sampai kepada kesimpulan bahwa metafisika tidak bisa membuat klaim yang melampaui keterbatasan pengetahuan apriori.

Bagaimana hal itu terjadi? Metafisika sebelum Kant (Descartes, Leibniz, Wolff) sering membuat klaim tanpa mempertanyakan dari mana klaim itu dibasiskan. Kant menyelidiki klaim-klaim itu dan menemukan bahwa pengetahuan metafisis bertalian dengan jenis putusan sintesis apriori. Jika metafisika ingin menjadi sebuah disiplin ilmu yang mapan, sebagaimana fisika atau ilmu alam, metafisika harus memiliki karakter penilaian atau putusan. Namun, segera setelah Kant mengkategorikan jenis putusan metafisis yang diambil dari sintesis apriori, Kant menyatakan bahwa analisis transendental tentang pengetahuan, baik melalui estetika, kategori, maupun dialektika gagal di hadapan objek-objek metafisis. Seluruh objek itu melampaui pengalaman dan, di waktu yang sama, berada di luar kategori transendental di mana pengetahuan ditata dan dibasiskan.

Metafisika yang diusahakan oleh Kant untuk menjadi ilmu yang meyakinkan, menemui jalan buntu akibat analisis transendental itu sendiri. Rasio transendental nyatanya tidak bisa menambah pengetahuan karena ia hanya berfungsi secara regulatif. Sementara itu, ide-ide rasio murni tidak bisa mengakses objek-objeknya karena ia menambang pengetahuan dari intelek. Intelek selalu terkait dengan data indrawi. Rasio menjadikan intelek sebagai mediasi antara dirinya dan objek pengindraan. Dengan begitu, jika metafisika itu ingin menjadi ilmu pengetahuan, ia harus memiliki objek yang berhubungan dengan idea transendental, yakni ide jiwa, idea dunia, dan idea Tuhan. Namun, rasio tidak bisa mengakses ketiga idea ini melalui pengalaman. Dengan demikian, metafisika tak mungkin menjadi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, seperti yang sudah maklum, melalui akal budi murni, Kant tak berhasil membuktikan adanya jiwa dan Tuhan. Baginya, tak mungkin membuktikan adanya jiwa dan Tuhan melalui akal murni. Maka, akhirnya, Kant melangkah ke akal budi praktis dan menempatkan jiwa dan Tuhan sebagai postulat bagi moralitas. Di sini, Kant melangkah dari kategori transendental ke kategori imperatif; dari pengetahuan teoretis ke pengetahuan praktis.

Baik Al-Ghazali maupun Kant, keduanya sama-sama menegaskan tentang batas rasio. Al-Ghazali menegaskan tentang butuhnya rasio terhadap wahyu untuk sampai kepada makrifat Tuhan. Kant menegaskan kemungkinan absahnya membicarakan Tuhan dalam terang moralitas dan etika. Kedua sosok ini menandai pergeseran arah pemikiran di masa setelahnya. Setelah Al-Ghazali, metafisika ketuhanan dalam ilmu kalam tidak harus sampai kepada kesimpulan khas Yunani, tetapi hanya menggunakan titik tolak yang boleh jadi ujungnya sangat berseberangan. Maka, ilmu kalam yang lahir setelah Al-Ghazali menemukan titik kulminasinya pada tokoh-tokoh, seperti Ar-Razi, Al-Amidi, Al-Iji, At-Taftazani, Al-Jurjani, di mana mereka memasukkan konten-konten metafisika murni, seperti ilmu kategori dan pembahasan wujud (al-umur al-amah) untuk mengantarkan kepada masalah ketuhanan. Di samping itu, setelah Kant, metafisika ketuhanan menjadi tidak mungkin lagi dibicarakan. Filsafat positivisme menjadi mungkin untuk dilahirkan karena tidak lagi terbebani oleh klaim-klaim metafisis yang tidak bisa dibuktikan, baik melalui pengalaman maupun akal budi murni. Akibatnya, ilmu-ilmu partikular merasa tidak lagi perlu mendasarkan keabsahan klaimnya dari metafisika. Dengan begitu, metafisika seolah menjadi ratu tanpa kerajaan.

Di titik krusial inilah, buku Investigasi Metafisis lahir. Agama dan sains detik ini sama-sama mengklaim bisa berjalan tanpa metafisika. Itulah sebabnya kedua disiplin ini tampak saling sikut untuk berebut legitimasi. Detik ini, kedua disiplin itu dikerucutkan sekadar mewakili kaum teis dan ateis. Mereka berdebat soal apakah Tuhan itu ada atau tidak. Padahal, ketika mereka berdebat soal Tuhan, mereka sedang menyeberangi wilayah mereka masing-masing. Wilayah itu adalah wilayah filsafat, atau jika dipadatkan, wilayah metafisika murni. Membuktikan atau menyangkal adanya Tuhan adalah wilayah implikasi metafisis, bukan agama an sich atau sains an sich. Seorang teis yang berusaha membuktikan adanya Tuhan, ia telah lepas dari tarikan gravitasi teks suci agama dan begitu juga seorang saintis yang menyangkal keberadaan Tuhan, sesungguhnya telah lepas dari korpus variabel induksi saintifik. Keduanya menyeberangi wilayah yang saya sebut sebagai “implikasi metafisis”.

Pertama, sampai kapan pun sains tidak akan menemukan Tuhan melalui metodenya. Dan sains tak akan bisa mendeteksi asal muasal semesta secara tuntas. Hal ini kembali kepada dua alasan yang diungkapkan oleh Robert Spitzer, yaitu (i) tidak seperti filsafat dan metafisika, secara deduktif, sains tidak bisa membuktikan adanya Tuhan. Hal itu lantaran sains berurusan dengan fenomena dan hukum alam semesta. Tuhan bukanlah objek fenomenal, sebagaimana alam semesta dan (ii) sains adalah disiplin ilmu yang empiris dan induktif. Empiris karena hukum ditemukan lewat anteseden (peristiwa dalam benda material) dan induktif karena penyimpulan akhir didasarkan pada penemuan-penemuan partikular. Lalu, jika sains yang mempelajari alam semesta tak akan bisa menemukan Tuhan lewat studinya, berarti Tuhan sama sekali tak bisa dibuktikan?

Robert J. Spitzer dalam bukunya “New Proofs for the Existence of God” menyatakan bahwa implikasi metafisis-lah yang bisa menjembatani penemuan ilmiah tentang alam semesta dan asal usul metafisisnya.

Bagaimanakah implikasi metafisinya? Salah satu implikasi metafisis yang disebut oleh Spitzer adalah ungkapan Parmenides, “Dari ketiadaan, hanya akan muncul ketiadaan (from nothing, only nothing comes).” Dari situlah, kemudian didapatkan dua premis. Premis pertama diambil dari fisika/sains, sedang yang kedua dari metafisika. Spitzer berkata:

“(1) Jika ada kemungkinan yang masuk akal tentang alam semesta (sebelumnya tidak ada realitas fisik apa pun) dan (2) jika secara apriori benar bahwa “dari ketiadaan, hanya muncul ketiadaan”, kemungkinan besar bahwa alam semesta berasal dari sesuatu yang bukan realitas fisik. Ini biasa disebut sebagai “penyebab transenden alam semesta (realitas fisik)” atau “pencipta alam semesta”.

Kedua, agama yang dibawa oleh para nabi dan orang-orang suci “terbenarkan” bukan lewat pembuktian teoretis, melainkan lewat pembuktian praktis. Personalitas pembawa agama (nabi) dalam hal ini amat menentukan bagaimana kebenaran agama itu diterima. Jadi, ketika masalah agama yang dalam hal ini eksistensi Tuhan coba dibuktikan, agamawan akan menyeberangi wilayah teks ke wilayah akal budi. Dan, wilayah akal budi murni adalah wilayah metafisika—sebagaimana yang ditegaskan oleh Kant dalam “Critique of Pure Reason”. Agama Abrahamik menyatakan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan (Creatio ex nihilo). Tuhanlah yang mewujudkan alam semesta itu dari ketiadaan. Dengan begitu, Tuhan diletakkan dalam korpus subjek pencipta alam semesta. Pernyataan ini tak mungkin benar tanpa mengandaikan implikasi metafisis dari Parmenides di atas.

Namun, implikasi metafisis “hanya” akan sampai kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu “mungkin” ada, bukan “niscaya” ada.

Para saintis-ateis yang menyangkal adanya Tuhan tidak mengakui adanya implikasi metafisis di atas. Sementara itu, para teis menerima tanpa syarat implikasi metafisis tersebut. Kedua kalangan ini sama-sama bisa terjebak pada kekeliruan epistemik (epistemic fallacy), yakni mereduksi pernyataan tentang realitas hanya sebagai pernyataan tentang pengetahuan atas realitas. Dengan bahasa yang lebih sederhana, keduanya sama-sama memaksa realitas harus sesuai dengan akal budi. Di sinilah, letak problemnya. Para saintis-ateis harus bisa membuktikan kekeliruan implikasi metafisis agar penyangkalan mereka atas adanya Tuhan bisa diterima. Begitu juga para agamawan-teis harus bisa membuktikan bahwa implikasi metafisis tersebut adalah benar-benar mencerminkan realitas apa adanya. Keduanya harus bertarung untuk membuktikan bahwa hukum realitas = hukum akal. Buku Investigasi Metafisis ingin menjawab pertanyaan mendasar ini lewat metafisika kesempurnaan. 

Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati

Ayo pesan sekarang!