Ditulis oleh Adi Ariga (Penulis Buku Hilang Arah)
TIDAK semua orang tersesat karena salah memilih jalan. Sebagian orang justru kehilangan arah karena terlalu lama berjalan di jalan yang tidak pernah benar-benar mereka pilih. Dalam kehidupan sehari-hari, kehilangan arah jarang hadir sebagai peristiwa dramatis. Ia tidak datang dengan suara keras atau tanda-tanda besar. Ia hadir pelan, hampir tidak terasa, seperti hujan tipis yang meresap ke tanah tanpa disadari, tetapi perlahan membuat segalanya basah.
Kita bangun pagi untuk melakukan hal yang sama, seperti kemarin: berbicara dengan orang-orang yang sama hingga menjalani rutinitas yang semakin lama terasa otomatis. Tidak ada yang salah secara kasat mata. Hidup terlihat berjalan normal. Namun di dalam diri, ada ruang kosong yang terus melebar. Bukan karena tidak ada apa-apa, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak pernah diberi makna. Di situlah, kehilangan arah mulai bekerja: bukan dengan membuat kita berhenti, tetapi dengan membuat kita berjalan tanpa rasa.
Dalam masyarakat yang memuja kepastian, kebingungan sering dianggap sebagai kelemahan. Kita diajari untuk cepat tahu apa yang kita inginkan, cepat menentukan tujuan, dan cepat memantapkan pilihan, seolah hidup adalah perlombaan yang pemenangnya ditentukan oleh siapa yang paling cepat sampai. Padahal, tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Tidak semua orang diberi peta yang jelas. Dan tidak semua orang memiliki tempat pulang yang aman untuk kembali ketika lelah.
Banyak orang menjalani hidup dengan identitas yang rapi di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Nama ada, peran ada, status ada, tetapi rasa memiliki terhadap diri sendiri tidak pernah benar-benar tumbuh. Mereka tahu bagaimana harus bersikap, tetapi tidak tahu bagaimana harus merasa. Mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka, tetapi tidak pernah sempat bertanya apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dalam kondisi seperti itu, kehilangan arah bukan kegagalan personal, melainkan reaksi manusiawi terhadap hidup yang terlalu lama dijalani demi memenuhi ekspektasi.
Dalam Hilang Arah, ada kegelisahan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata: perasaan berjalan tanpa tahu ke mana, tetapi tetap melangkah karena berhenti terasa lebih menakutkan. Kalimat semacam itu tidak hanya hidup di dalam buku. Ia hidup di kantor-kantor, di ruang kelas, hingga di rumah-rumah yang sunyi. Ia hidup di wajah orang-orang yang tampak baik-baik saja, tetapi diam-diam merasa asing dengan hidupnya sendiri.
Kehidupan sehari-hari sering kali menuntut kita untuk terus berfungsi, bukan untuk memahami. Selama kita bekerja, berperan, dan tidak merepotkan orang lain, dunia menganggap kita baik-baik saja. Tidak ada ruang untuk bertanya terlalu jauh tentang makna, tentang luka, dan tentang identitas. Semua itu dianggap urusan pribadi yang sebaiknya diselesaikan sendiri. Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan satu keterampilan utama: menekan perasaan.
Namun, perasaan yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk muncul dalam bentuk lain. Dalam kelelahan yang tidak wajar. Dalam kemarahan kecil yang berlebihan. Dalam rasa hampa yang muncul tanpa sebab. Dalam pertanyaan sederhana sebelum tidur: apakah hidupku benar-benar milikku? Pertanyaan itu sering kita abaikan, tetapi ia tidak pernah benar-benar pergi.
Tidak semua orang kehilangan arah karena terlalu banyak pilihan. Sebagian justru kehilangan arah karena tidak pernah diberi pilihan.
Ada orang-orang yang hidupnya ditentukan sejak awal oleh keadaan: keluarga, ekonomi, lingkungan, ataupun sejarah. Mereka belajar menerima sebelum sempat memilih. Mereka belajar bertahan sebelum sempat bermimpi. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mungkin terlihat kuat, mandiri, bahkan tangguh. Namun di dalam, ada kelelahan yang tidak pernah diberi ruang untuk bernapas.
Identitas, dalam kondisi seperti itu, bukan sesuatu yang ditemukan dengan mudah. Ia bukan jawaban yang tiba-tiba muncul setelah refleksi singkat. Ia adalah proses panjang yang sering kali melelahkan. Proses untuk menyusun diri dari potongan-potongan pengalaman, dari kegagalan, dari kehilangan, dan dari keputusan-keputusan kecil yang diambil dalam keterbatasan. Identitas tidak lahir dari kepastian, tetapi dari keberanian untuk tetap hidup meski tidak tahu segalanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang diberi waktu untuk mengakui bahwa kita belum tahu. Ketidaktahuan dianggap sebagai kekurangan. Padahal, sering kali, ketidaktahuan adalah titik awal paling jujur. Dari sanalah, seseorang bisa mulai mendengarkan dirinya sendiri, bukan hanya mengikuti suara di luar. Dari sanalah, seseorang bisa berhenti berpura-pura dan mulai hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri.
Ada satu hal yang sering luput kita sadari bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk maju. Kadang, hidup hanya meminta kita untuk tidak menyerah. Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua langkah harus signifikan. Ada hari-hari ketika bertahan saja sudah cukup. Namun, masyarakat jarang merayakan bentuk keberanian semacam itu. Kita lebih sering memuja hasil daripada proses, kemenangan daripada ketahanan.
Dalam Hilang Arah, bertahan bukan digambarkan sebagai sikap pasif. Ia adalah tindakan aktif untuk tidak membiarkan diri hilang sepenuhnya. Untuk tetap merasa meski rasa itu menyakitkan. Untuk tetap bertanya meski jawaban belum ada. Sikap tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, di mana banyak orang menjalani hidup bukan karena mereka tahu ke mana mereka pergi, tetapi karena mereka belum siap untuk berhenti.
Media sosial, dengan segala kemudahannya, sering memperparah rasa kehilangan arah. Kita melihat potongan hidup orang lain yang tampak rapi, jelas, dan berhasil. Kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah fragmen, bukan keseluruhan cerita. Akibatnya, kita membandingkan proses kita dengan hasil orang lain. Kita merasa tertinggal padahal mungkin kita sedang berada di jalur yang berbeda.
Dalam kehidupan nyata, tidak ada satu jalur yang benar untuk semua orang. Ada orang yang menemukan panggilannya lebih awal. Ada yang menemukannya setelah jatuh berkali-kali. Ada pula yang tidak pernah benar-benar menemukannya, tetapi tetap hidup dengan penuh kepedulian dan kejujuran. Semua itu valid. Semua itu manusiawi.
Kehilangan arah sering kali menjadi ruang di mana seseorang mulai mengenal dirinya dengan lebih jujur. Ketika semua jawaban lama tidak lagi bekerja, kita dipaksa untuk mencari cara baru memahami hidup.
Kita mulai bertanya tentang nilai, bukan sekadar tujuan. Tentang makna, bukan sekadar pencapaian. Tentang kehadiran, bukan sekadar kesibukan.
Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari, momen-momen paling jujur sering muncul dalam kesendirian. Bukan dalam keramaian, bukan dalam pencapaian besar, tetapi dalam saat-saat sunyi ketika kita tidak sedang memainkan peran apa pun. Di situlah, kita bertemu dengan diri yang tidak diberi nama, diri yang tidak dituntut, dan diri yang hanya ingin dimengerti.
Dalam buku tersebut, menulis menjadi cara untuk bertahan. Dalam kehidupan nyata, cara itu bisa berbeda-beda. Ada yang menulis. Ada yang berjalan jauh. Ada yang berbicara dengan orang yang tepat. Ada yang memilih diam sejenak. Semua itu adalah bentuk upaya untuk tetap terhubung dengan diri sendiri di tengah dunia yang terus menarik kita ke luar.
Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menyusun identitasnya dengan tenang. Ada yang harus melakukannya sambil bekerja keras. Sambil memenuhi tuntutan keluarga. Sambil menahan luka lama yang belum sembuh. Namun, justru dari keterbatasan itu, sering lahir kepekaan yang dalam. Kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Kepekaan terhadap ketidakadilan. Kepekaan terhadap makna kecil yang sering diabaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang yang pernah kehilangan arah sering kali menjadi pendengar yang baik. Mereka tahu rasanya tidak dimengerti. Mereka tahu rasanya berjalan sendiri. Dan pengetahuan semacam itu tidak didapat dari buku, melainkan dari hidup itu sendiri.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu bertanya seberapa jauh kita melangkah atau seberapa jelas tujuan kita. Kadang, hidup hanya menguji satu hal sederhana, tetapi berat: apakah kita masih mau bertahan sebagai diri sendiri di tengah tuntutan untuk menjadi orang lain. Apakah kita masih mau jujur pada kebingungan kita sendiri meski dunia lebih menyukai kepastian palsu.
Kehilangan arah bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah ruang antara. Ruang di mana seseorang berhenti sejenak, menarik napas, dan mulai mendengarkan. Tidak semua orang berani berada di ruang tersebut. Banyak yang memilih berlari agar tidak merasa. Namun, bagi mereka yang bertahan, ruang tersebut bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri.
Mungkin, kita tidak perlu terlalu keras menuntut diri untuk segera tahu. Mungkin, tidak apa-apa jika hari ini kita masih bingung. Mungkin, tidak apa-apa jika arah hidup belum sepenuhnya jelas. Selama kita masih mau merasa, masih mau bertanya, dan masih mau bertahan, kita belum benar-benar tersesat.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang tiba dengan cepat. Hidup adalah tentang tetap berjalan tanpa kehilangan diri sendiri. Dan kadang, satu-satunya arah yang perlu kita jaga adalah keberanian untuk terus hidup dengan jujur meski jalannya belum sepenuhnya terlihat.
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati