Ditulis oleh Adi Ariga* (Penulis Buku Hilang Arah)
ADA masa ketika saya belum benar-benar mengerti tentang apa arti “pulang”, tapi izinkan saya untuk membawa Anda kembali ke masa di mana pulang adalah sebuah penantian oleh seorang anak kecil. Mari, kita melangkah mundur kembali pada masa 2000-an silam. Di masa itulah, saya menemukan bahwa rumah pertama saya bukan sebuah bangunan, melainkan dibalik halaman-halaman buku yang usang milik bapak.
Saya masih bisa membayangkan bagaimana tangan-tangan mungil ini mulai membolak-balikkan halaman buku yang belum tentu tahu makna apa yang tersurat dalam tulisan tersebut. Akankah seorang bapak memberhentikan langkah mungil tersebut? Jelas tidak. Tingkah lucu tersebut membuat sosok yang paling kita takuti tersebut membimbing dan mengarahkan apa yang ingin diketahui oleh anaknya.
Awalnya, saya hanya seorang anak kecil di tahun 2000-an yang penasaran bagaimana akhir kisah seorang tokoh. Namun, semakin dalam saya menyelami halaman-halaman buku itu, semakin saya menyadari bahwa saya telah jatuh cinta pada dunia kata-kata. Membaca bukan lagi sekadar hobi, melainkan candu yang menuntut saya untuk terus belajar tanpa henti.
Ada keinginan yang perlahan tumbuh di dalam hati saya yang membuat saya tidak ingin lagi hanya berdiri di luar jendela sebagai penonton. Saya ingin menjadi aktornya. Saya ingin menjadi tokoh yang hidup di dalam narasi tersebut. Hasrat itulah yang kemudian menuntun jemari saya untuk mulai bergerak. Saya mulai belajar menulis, mencoba merangkai baris demi baris karena terlalu banyak suara di kepala yang didapat dari tumpukan buku yang saya lahap.
Saya tidak lagi hanya mencari jalan pulang, tapi saya sedang membangun rumah saya sendiri melalui tulisan.
Mari kita ulik lebih dalam, kembali ke selasar sekolah di tahun 2000-an silam. Masa di mana kebahagiaan seorang anak kecil bisa dibeli dengan lembaran uang kumal hasil menyisihkan uang jajan. Kalian mungkin ingat, saat itu, ada penjual buku yang datang ke sekolah, menggelar dagangannya di lantai atau meja kayu panjang. Saya adalah anak yang berdiri di sana dan menghitung dengan teliti, kalau sepuluh ribu dapat empat atau lima ribu dapat lima?
Di tangan saya, ada buku dongeng Sangkuriang yang tipis atau buku Matematika Pemula seharga tiga ribu rupiah yang halaman bukunya hanya belasan, tapi dunianya terasa tak bertepi. Buku-buku obral itu sederhana, bahasanya mudah dipahami, tapi justru dari sanalah keajaiban bermula. Semakin sering saya melahap kisah-kisah murah itu, semakin saya tersentuh oleh hal-hal kecil yang selama ini terlewat. Sebuah dialog sederhana di buku dongeng bisa terasa begitu dalam: sebuah perpisahan tokohnya bisa membuat saya termenung lama setelah buku itu saya tutup.
Saya mulai bertanya-tanya mengapa rangkaian kata di buku semurah ini bisa memiliki daya sebesar itu? Pertanyaan itu tumbuh seiring usia hingga saya tidak lagi puas hanya menjadi penonton di balik halaman. Saya ingin menjadi tokoh dalam narasi tersebut. Saya ingin menjadi sosok yang menghidupkan cerita. Maka, di sela-sela tumpukan buku lima ribuan itu, saya mulai memegang pena. Saya mulai belajar menulis karena saya ingin menciptakan pulang saya sendiri.
Maka, tepat di bangku kelas 6 SD, untuk pertama kalinya, saya memberanikan diri. Di dalam sebuah buku tulis pribadi yang tidak pernah dipublikasikan, tangan mungil ini mulai merangkai untaian hati. Sebuah tulisan sederhana yang saya beri judul Peganglah Tanganku Ibu, Sebelum Aku Berangkat ke Sekolah. Tulisan itu bukanlah sebuah karya besar, melainkan sebuah permintaan jujur dari hati seorang anak.
Di sana, saya menuliskan betapa besarnya keinginan saya untuk terus didorong oleh ibu dengan penuh kasih sayang agar beliau selalu menyemangati saya untuk belajar lebih giat demi masa depan. Itu adalah doa yang tertuang dalam tinta, sebuah harapan agar genggaman tangan ibu menjadi kekuatan saya untuk melangkah. Tidak ada cetakan mesin, hanya guratan tangan mungil yang penuh harap. Di sanalah, saya sadar bahwa dengan menulis saya bisa menyampaikan apa yang tidak sanggup saya ucapkan.
Seragam putih-biru perlahan memudar, berganti menjadi warna abu-abu yang membawa aroma kedewasaan yang lebih tajam. Di ambang gerbang Sekolah Menengah Atas (SMA) itu, dunia terasa lebih luas, tapi bagi saya, pusat semestanya tetaplah sama, yaitu tumpukan halaman buku yang tak pernah kehilangan sihirnya. Minat baca saya tidak luntur ditelan riuhnya masa remaja, ia justru tumbuh menjadi api yang semakin berkobar, mencari cahaya di antara baris-baris kalimat.
Masih lekat dalam ingatan betapa saya terpikat oleh jemari Habiburrahman El Shirazy dalam halaman buku novelnya, Bumi Cinta. Di usia yang sedang penuh gejolak itu, kata-katanya bukan sekadar deretan tinta, melainkan undangan untuk jatuh cinta pada keteguhan hati. Saya terhanyut dalam kisah santri yang berjuang di tengah ujian dunia. Sebuah narasi yang menginspirasi saya untuk menjaga prinsip di tengah badai pencarian jati diri. Ada rasa yang tak terlukiskan saat kalimat-kalimat religius yang puitis itu menyentuh batin, membuat saya merasa sedang bercermin pada tokoh-tokohnya.
Namun, kaki saya tetap berpijak di atas lantai kelas. Di sela-sela dahaga akan sastra, buku-buku materi dan diktat pembelajaran tetap menjadi kawan wajib yang tak mungkin saya tinggalkan. Memahami rumus dan teori adalah jembatan yang harus saya bangun, sementara novel-novel itu adalah taman di ujung jembatannya. Saya melahap keduanya sebagai kewajiban dan hobi seolah sedang merangkai bekal untuk perjalanan yang lebih jauh.
Waktu boleh saja berganti dan zaman mungkin akan terus berlari dengan segala kecanggihannya. Namun, ada satu hal yang harus tetap kita jaga: nyala api minat baca yang tak boleh padam.
Dari masa ke masa, kita harus terus meluaskan cakrawala dan memperdalam pengetahuan sebab di balik setiap halaman buku yang kita buka akan selalu ada ruang kosong yang menunggu untuk diisi dengan pemahaman baru. Membaca bukan hanya tentang apa yang kita lahap untuk diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita mengubah hal-hal yang tidak kita ketahui menjadi sebuah pengetahuan berharga, bukan hanya untuk menuntun langkah kita, tapi juga untuk menjadi pelita bagi orang-orang di sekitar kita.
Teruslah mencari, teruslah belajar, dan jangan pernah merasa cukup dengan apa yang sudah digenggam karena pengetahuan yang kita bagikan adalah warisan yang paling abadi. Mari, kita pastikan bahwa di masa depan nanti, kita tetap menjadi manusia yang berwawasan luas yang senantiasa menemukan hal-hal baru di setiap hela napas literasi kita.
*Adi Ariga adalah penulis fiksi yang menaruh minat pada tema identitas, psikologi, dan luka batin manusia. Karya-karyanya kerap menyuguhkan kisah yang menyentuh dan penuh lapisan, mengajak pembaca menyelami makna terdalam menjadi manusia di tengah dunia yang penuh manipulasi dan pencarian jati diri.
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati