MEMBACA sering kali dipersepsikan sebagai kebiasaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Mereka yang akrab dengan buku sejak usia dini, mereka yang tumbuh di lingkungan literat, atau mereka yang memiliki waktu luang berlebih. Namun, Chitra Kurup justru menantang anggapan tersebut. Berdasarkan pengalamannya membaca selama dua tahun, Kurup menguraikan berbagai hambatan psikologis yang kerap membuat seseorang enggan memulai kebiasaan membaca, sekaligus menawarkan pendekatan yang lebih realistis dan manusiawi bagi para pemula.
Menurut Kurup, salah satu hambatan terbesar dalam membaca bukanlah kurangnya kemampuan, tetapi adanya keyakinan keliru yang telah terlanjur diyakini banyak orang. Keyakinan-keyakinan ini sering diwariskan dari lingkungan sekitar, diperkuat oleh stigma sosial, dan akhirnya membuat membaca terasa seperti aktivitas yang “bukan untuk semua orang”.
Keyakinan pertama yang kerap muncul adalah anggapan bahwa sudah terlambat untuk mulai membaca. Banyak orang percaya bahwa pembaca sejati harus memulainya sejak kecil. Apabila masa itu telah lewat, kesempatan pun ikut hilang. Gagasan tersebut tidaklah benar.
Pengalaman membaca tidak ditentukan oleh usia awal, melainkan oleh keputusan untuk memulai.
Kurup sendiri baru mulai membaca secara serius saat duduk di bangku kelas sepuluh, sebuah usia yang sering dianggap “terlambat”. Namun, pengalaman tersebut justru membuktikan bahwa membaca selalu terbuka bagi siapa pun, kapan pun.
Keyakinan kedua adalah anggapan bahwa buku fiksi tidak memberikan manfaat nyata. Fiksi sering diremehkan sebagai hiburan semata, tidak sebanding dengan nonfiksi yang dianggap lebih “berguna”. Pandangan tersebut jelas keliru. Fiksi justru melatih empati, memperluas perspektif, dan membantu pembaca memahami kompleksitas manusia melalui pengembangan karakter dan konflik cerita. Membaca tidak harus selalu berat dan serius. Kenikmatan dalam membaca justru menjadi faktor penting agar minat tetap terjaga.
Keyakinan ketiga yang paling umum adalah anggapan bahwa buku itu membosankan. Banyak pemula berhenti membaca karena merasa mengantuk atau tidak tertarik di bagian awal buku. Hal tersebut wajar karena sebagian besar buku membutuhkan waktu untuk membangun konteks dan premis cerita. Sebagai pembaca, kita perlu memberi kesempatan beberapa bab sebelum memutuskan berhenti. Jika setelah sekitar 40 halaman buku tersebut tetap tidak menarik, mengganti buku adalah pilihan yang lebih baik daripada berhenti membaca sama sekali.
Keyakinan keempat berkaitan dengan pertanyaan mengapa membaca jika cerita yang sama bisa ditonton? Tentu saja karena membaca menawarkan pengalaman yang berbeda dari menonton. Saat membaca, pembaca membangun dunianya sendiri di dalam pikiran. Misalnya, membayangkan tokoh, suasana, dan emosi secara personal. Proses tersebut membuat membaca terasa seperti “menonton film versi pikiran” dengan detail dan kedalaman emosi yang tidak selalu bisa diberikan oleh layar.
Membaca adalah pengalaman personal, bukan ajang pembuktian intelektual. Buku apa pun baik fiksi, nonfiksi, roman, kriminal, maupun pengembangan diri, sah untuk dibaca selama memberi makna bagi pembacanya.
Membaca harus dilakukan untuk diri sendiri, bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Dalam praktiknya, pembaca juga perlu menemukan medium yang paling sesuai. Apakah kita sebagai pembaca buku fisik dan pembaca buku elektronik. Buku fisik menawarkan sensasi sentuhan dan aroma kertas, sementara buku elektronik menawarkan kepraktisan dan akses luas. Dalam hal ini, tidak ada medium yang lebih unggul, yang terpenting adalah kenyamanan pembaca. Sebagai bentuk dukungan dalam membaca ini, setiap daerah rasanya perlu menegaskan kembali pentingnya perpustakaan dan platform digital sebagai cara terjangkau untuk mengakses bacaan, terutama bagi pemula.
Bagi mereka yang masih ragu menentukan bacaan pertama, bisa memulai dari buku-buku yang menarik secara personal. Prinsip tersebut dapat diterapkan pula dalam konteks di Indonesia dengan memilih karya-karya lokal yang dekat secara bahasa dan pengalaman sosial.
Memilih Buku Pertama yang Tepat untuk Pemula
Pilih Buku yang Mudah Dibaca
Pembaca pemula disarankan untuk memulainya dengan buku fiksi yang menggunakan bahasa sederhana dan memiliki alur yang menarik. Fiksi dipandang sebagai cara yang efektif untuk membangun minat membaca karena cerita dapat menjadi “pelarian” yang menyenangkan dari rutinitas sehari-hari. Cari buku yang tidak terlalu rumit, tidak terlalu tebal, dan mampu menyenangkan dari awal. Jangan pilih buku yang terlalu kompleks karena bisa membuat cepat merasa kewalahan.Membaca Sesuai Mood Sendiri
Sebagai pemula, tidak harus terikat dengan jadwal kaku. Pembaca adalah seseorang yang kreatif, yang biasa membaca “ketika suasana hati mengizinkan”. Dalam konteks ini, membaca seharusnya dilakukan menjadi hiburan, bukan tugas yang membebani. Membaca cepat atau lambat bukanlah masalah, yang penting adalah menikmati prosesnya, bukan mengejar jumlah halaman atau kecepatan.Memberi Buku Kesempatan Adil
Sebelum memutuskan buku mana yang akan dibaca, kamu bisa menerapkan strategi sederhana berikut. Membaca kalimat pertama buku tersebut untuk melihat apakah itu menarik dan memeriksa ulasan buku di komunitas pembaca, seperti YouTube untuk mendapatkan gambaran lebih luas. Namun, setelah memulai sebuah buku, berikan buku tersebut “kesempatan adil” dengan membaca minimal beberapa puluh halaman sebelum memutuskan apakah ia cocok.Menandai dan Menikmati Setiap Buku
Menandai atau mencatat bagian dari buku yang menarik atau mengena secara emosional sebagai pemula bukan untuk tujuan akademis, tetapi untuk membantu lebih terhubung dengan buku yang dibaca serta menyimpan kenangan akan bagian tersebut. Penggunaan stabilo, catatan singkat, atau tanda favorit adalah hal yang disarankan sebagai bagian dari aesthetic reading yang menyenangkan.Tidak Terbatas pada Satu Penulis
Pembaca pemula tidak boleh terpaku hanya pada satu penulis favorit terlalu cepat. Terlalu banyak membaca karya yang sama bisa membuat seseorang kehilangan antusiasme. Sebaiknya, kamu perlu memberi kesempatan pada variasi genre dan gaya penulisan yang berbeda sebagai bagian dari proses eksplorasi membaca.
Tips Memilih Buku Fiksi yang Cocok Buat Pemula
Pilih cerita yang menarik minatmu, misalnya romansa, humor, atau petualangan.
Mulai dari novel dengan alur yang tidak terlalu kompleks supaya kamu merasa “terbawa suasana” dan tidak cepat bosan.
Coba buku pendek atau kumpulan cerpen dulu. Buku-buku jenis tersebut memberi rasa pencapaian lebih cepat dan membangun kebiasaan membaca.
Tips Memilih Buku Nonfiksi untuk Pemula
Pilih topik yang dekat dengan keseharian kamu. Misalnya, tentang percaya diri, kebiasaan, atau cara berpikir.
Mulai dari buku dengan bahasa yang simpel karena buku yang terlalu teoretis bisa membuat pembaca pemula cepat bosan atau kebingungan.
Berikut rekomendasi buku fiksi Indonesia yang ringan dan populer di kalangan pembaca pemula di TikTok/Instagram (sering dibahas di #BookTokIndonesia & bookstagram).
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
Novel ini menyajikan penuh semangat, persahabatan, dan inspirasi dari anak-anak desa di Belitung yang berjuang untuk sekolah. Ceritanya ringan dibaca, sekaligus penuh makna sosial.Perahu Kertas karya Dee Lestari
Cerita tentang persahabatan, mimpi, dan cinta yang tulus dengan bahasa yang mudah dinikmati pembaca awam.Filosofi Kopi karya Dee Lestari (kumpulan cerpen)
Disajikan dengan cerita yang ringan, puitis, dan sering dibahas di media sosial karena bahasa yang dekat dan mudah dipahami pemula.Kambing Jantan karya Raditya Dika lainnya
Novel komedi modern yang lucu dan santai. Memiliki alur sederhana dan bahasanya tidak rumit sehingga buku ini sering direkomendasikan sebagai bacaan awal.
Rekomendasi Buku Nonfiksi & Pengembangan Diri Indonesia (Ringan untuk Pemula)
Insecurity karya Alvi Syahrin
Mengajak pembaca memahami rasa insecurity (kurang percaya diri) dan bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Disampaikan dengan bahasa yang dipakai ringan, seperti sedang diajak berdiskusi oleh teman.Filosofi Teras karya Henry Manampiring
Buku ini mengajak pembaca memahami cara menghadapi emosi, tantangan hidup, dan situasi tak terduga dengan ketenangan dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Cocok untuk yang ingin belajar berpikir lebih jernih soal kehidupan sehari-hari.Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dewi Ayu Ambar Rani)
Buku ini lebih seperti kumpulan renungan tentang bagaimana menghadapi kekecewaan, lelah, dan perjuangan hidup dengan cara yang lebih lembut dan realistis. Banyak yang merekomendasikan buku ini untuk pembaca pemula yang ingin mencari pemahaman diri.
Hal terpenting untuk pembaca pemula, yaitu mulailah membaca tanpa tekanan. Membaca tidak perlu menjadi beban atau kompetisi. Biarkan aktivitas tersebut tumbuh perlahan, mengikuti ritme masing-masing individu. Seseorang tidak akan pernah benar-benar rugi karena membaca yang ada hanya kemungkinan untuk memahami lebih banyak, merasakan lebih dalam, dan berpikir lebih luas.
Referensi:
https://medium.com/@chitraz.kurup/a-beginners-guide-to-reading-651f459de40f
https://thereaderlife.com/books-made-easy-a-beginners-guide-to-reading-and-enjoying-books/
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati