Ulasan oleh Maiya Ariendita*
IDENTITAS BUKU
Judul: Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid sebelum Diburu Anjing-Anjing?
Penulis: Restu A Putra
Penerbit: Rua Aksara
Dimensi: 13 x 19 cm
Tebal: 78 Halaman
Cetakan Pertama: Oktober 2019
Harga: Rp60.000
ISBN: 978-623-7258-34-6
=============================================================
PENDAHULUAN
Sang penulis yang bernama Restu dikenal aktif dalam komunitas literasi. Ia mencoba mencari ruang yang jarang didatangi orang dalam narasi dengan topik utamanya tentang agama. Membaca buku ini terasa memasuki labirin yang membingungkan dan penuh tanya. Dengan judul panjang, unik, dan membuat penasaran, buku ini seperti membawa tantangan bagi para pembaca serta orang-orang yang tertarik dengan tema misteri dan drama, di mana kita akan dibuat mempertanyakan diri sendiri, apakah kita benar-benar mengenal sosok yang kita agungkan? Apakah kita mengenal orang-orang di sekitar kita dengan baik? Atau malah kita hanya mengenal mereka lewat prasangka, gosip, dan ketakutan semata?
JEJAK SANG AJENGAN HAMID
Buku ini menceritakan tentang seorang tokoh agama bernama Ajengan Hamid. Sosok agamis yang memimpin dan mengajar di sebuah pesantren. Ia juga sangat disayangi oleh para santrinya. Penulis dengan sengaja membawa kita menelusuri kehidupan Ajengan Hamid saat menjadi “buronan” negara. Siapa yang menyangka bahwa apa yang kita pikirkan dapat menjadi senjata bagi diri kita sendiri? Bagaimana pikirannya memberikan “warisan” bagi keluarganya. Bagaimana pikirannya memberikan rasa sakit bagi para santri-santrinya serta keluarganya. Bagaimana seseorang yang kita percaya dapat mengkhianati kita karena gelap mata. Semua emosi akan kita rasakan ketika membaca buku ini.
Ya, begitulah nasib nahas seorang Ajengan Hamid, di mana ia dikejar serta diadudombakan demi kekuasaan dan harta. Kita diberi sudut pandang berbeda, di mana terdapat pertarungan dalam diri sang Ajengan Hamid, prinsip yang teguh, serta benturan antara nilai agama dan realitas sosial. Di balik sosoknya yang agamis, ia juga merupakan manusia yang sedang diuji oleh kekuasaan, kuasa Tuhan, dan ego manusia. Bagaimana seseorang dapat melakukan hal keji hanya untuk mendapatkan uang serta bagaimana ia selalu dilindungi oleh banyak orang. Namun, takdir juga punya jalannya sendiri, kan?
GAYA PENULISAN
Penulis tidak hanya menyajikan cerita fiksi, tetapi ia menyajikan sebuah narasi yang memperlihatkan sisi manusiawi dari seseorang yang disakralkan oleh warga setempat. Melalui Ajengan Hamid, penulis menelusuri bagaimana pandangan orang lain terhadap agama dan tekanan kekuasaan politik. Adanya penggunaan metafora, seperti “anjing-anjing” dapat mengartikan bagaimana para penguasa menjadi egois dan tamak akan kekuasaan, merasa ingin lebih terus menerus demi memuaskan nafsunya sendiri. Mereka tidak segan untuk “memburu” para penghalang itu meskipun harus melawan agama.
Penggunaan bahasa juga mudah dimengerti. Alurnya membawa kita untuk menyusun kepingan puzzle yang berantakan. Dengan latar perdesaan dan pesantren, cerita ini terasa hangat. Namun, isu yang diangkat menjadi sebuah pukulan kencang antara agama, prinsip pribadi, dan politik yang dapat dirasakan serta dimengerti oleh para pembaca.
EVALUASI
Kelebihan buku ini terdapat pada bagian bahasa yang dipilih penulis, puitis, tetapi tajam dan membangun suasana tegang dengan sangat baik. Penulis berhasil membuat alur yang menarik, tegang, dan membuat penasaran yang membuat pembaca tidak akan merasa bosan. Topik yang diangkat juga menjadi peran penting, di mana pembaca dibawa untuk melihat kenyataan di balik kehidupan pemerintahan.
Namun, ada beberapa bagian cerita yang terasa sangat singkat, membuat pembaca kurang mengenal secara emosional kepada para tokoh-tokoh di cerita ini. Penggunaan bahasa metafora di buku ini bisa saja menjadi tantangan bagi pembaca yang tidak terbiasa atau tidak mengerti tentang metafora. Ada beberapa bagian yang membutuhkan konsentrasi tinggi agar pesannya dapat dicerna oleh pembaca. Ada beberapa kesalahan penulisan atau kurang dan lebihnya tanda baca di buku ini. Ada juga bagian yang mengulang alur yang sama. Namun, secara keseluruhan, buku ini lumayan mudah untuk dipahami.
“Bagaimana bisa kau menganggapku pengkhianat hanya karena aku tak sejalan dengan pandanganmu? Tetapi kali ini aku memang menyesal, karena pada akhirnya aku memang benar-benar seorang pengkhianat. Urusan ini bukan semata persoalan keterdesakan lantaran ibuku yang tengah kritis. Tetapi juga masa lalu yang mesti kukubur dalam-dalam.” (hlm. 46)
Kalimat di atas merupakan salah satu bagian favorit saya karena dapat dilihat bahwa perbedaan pendapat dapat menimbulkan konflik, bagaimana hebatnya manipulasi manusia agar membuat lawannya melemah, serta bagaimana rasa menyesal selalu datang terakhir. Pada akhirnya, buku berjudul Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid sebelum Diburu Anjing-Anjing merupakan sebuah tamparan bagi kita, mengingatkan kita bahwa jangan cepat-cepat percaya atas informasi yang disuguhkan oleh siapa pun, dan bagaimana kita harus tetap memperjuangkan sesuatu yang benar meskipun kita sudah terkoyak-koyak.
PESAN MORAL
Ada juga pesan yang saya dapatkan di buku ini. Saya tersadar bahwa kita harus lebih bijak dalam mempercayai seseorang, lihat kedua sisi terlebih dahulu, banyak kenyataan pahit di dunia ini yang tidak bisa kita abaikan, dan bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan miliknya seenak-enaknya. Saya rasa buku ini berhasil menyampaikan semua pesan yang disembunyikan sang penulis. Pemilihan kata yang mudah dimengerti juga sangat membantu saya dalam membaca buku ini sampai habis. Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi para pecinta teka teki dan drama karena semakin Anda mendalami buku ini, semakin rumit juga masalah kedepannya.
Saya harap dengan adanya ulasan mengenai buku tersebut, kalian dapat mendapatkan pesan yang berusaha disampaikan oleh sang penulis dan memiliki keinginan untuk membaca buku ini. Saya pribadi sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang sangat menyukai buku dengan tema teka-teki, konflik, politik, dan drama. Saya juga berharap kita bisa mengambil pesan bahwa sebuah kebenaran harus terus diperjuangkan, apa pun risiko atau masalah yang akan kita hadapi, kita tidak boleh menyerah.
Pemeriksa aksara: Mikha