Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Jejak Chairil Anwar dalam Perbukuan
960 kata • 5 menit baca

🎧 Dengarkan artikel ini:

Jejak Chairil Anwar dalam perbukuan

KETIKA MEMBICARAKAN perubahan besar dalam sejarah sastra Indonesia, rasanya tidak lengkap tanpa membicarakan jejak Chairil Anwar dalam perbukuan. Sosok ini dikenal melalui karya-karyanya, juga cara berpikir dan sikapnya terhadap zaman. Nama Chairil Anwar tentu sudah tidak asing lagi, terutama bagi sastrawan-sastrawan, mahasiswa, guru, dan pelajar. Chairil Anwar merupakan tokoh pembaharu kesusastraan Indonesia. Ia memiliki pengaruh, sekaligus menjadi pelopor dalam lahirnya satu angkatan kesusastraan, yaitu Angkatan 45.

Chairil Anwar dikenal sebagai sosok yang sulit terikat, sekaligus tidak mudah mengikatkan diri. Kehidupan pribadinya tidak pernah benar-benar menetap, termasuk soal tempat tinggal yang terus berpindah. Baik dalam urusan keluarga maupun pekerjaan, ia selalu berada dalam keadaan yang berubah-ubah. Tidak ada pekerjaan tetap yang benar-benar ia jalani dalam waktu lama. Hidupnya dipenuhi kegelisahan.

Chairil Anwar pernah bergabung di redaksi Gema Suasana. keberadaannya di sana pun tidak berlangsung lama. Ia tercatat sebagai bagian dari redaksi hanya sekitar tiga bulan. Itu pun tanpa kehadiran yang rutin. Setelah itu, ia memilih keluar.

Awal Perjalanan Chairil Anwar dalam Kesusastraan Indonesia dan Penolakan Sajak “Aku”

Pada saat zaman kekuasaan Jepang, bangsa Indonesia tidak diberikan kebebasan berpikir, termasuk dalam seni dan budaya. Meski begitu, Chairil Anwar tidak begitu terpengaruh terhadap hal tersebut. Pada saat itu, ia bahkan terkenal sebagai sastrawan muda yang tidak mau menjadi alat propaganda Jepang. Hal ini terlihat dari sajak-sajak yang ditulisnya.

Suatu hari pada tahun 1945, Chairil Anwar mendatangi redaksi Panji Pustaka. Chairil Anwar membawa sejumlah sajak, salah satu sajaknya berjudul “Aku”. Di Panji Pustaka, Chairil Anwar menghadap Armijn Pane dan meminta agar sajak-sajaknya itu dimuat di Panji Pustaka. Namun, sajak-sajak yang diajukan Chairil Anwar mendapat penolakan.

Sajak-sajak Chairil Anwar dianggap terlalu individualistis, terutama sajaknya yang berjudul “Aku” yang dinilai berisi pemujaan terhadap diri sendiri. Penolakan tersebut tidak membuat Chairil Anwar patah semangat atau sakit hati. Karena berkeinginan agar karyanya dapat dibaca secara luas, Chairil Anwar kemudian mendatangi redaksi majalah Timur yang dipegang oleh Nur Sutan Iskandar. Pemegang redaksi majalah Timur itu menyetujui pemuatan sajak “Aku” dengan mengubah judulnya menjadi “Semangat”.

Pemuatan sajak tersebut membuat Chairil Anwar kemudian mendapat julukan “Si Binatang Jalang” di kalangan teman-temannya. Pada masa itu, Chairil Anwar benar-benar membawa perubahan baru dalam menggunakan bahasa Indonesia yang lebih berjiwa dan hidup. Ia mampu mengubah bahasa Indonesia yang tidak baku atau biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari menjadi bernilai sastra. Sajak-sajaknya seakan menghadirkan udara segar ketika dibaca.

Peran dalam Gelanggang Seniman Merdeka

Memasuki awal tahun 1946, Chairil bersama sejumlah teman mendirikan perkumpulan Gelanggang Seniman Merdeka. Perkumpulan tersebut lahir dengan tujuan memperkuat kebudayaan nasional melalui berbagai bidang kesenian. Anggotanya berasal dari beragam latar, mulai dari penulis hingga pelukis dan musikus. Nama-nama, seperti Pramoedya Ananta Toer, Asrul Sani, Sitor Situmorang, dan Rivai Apin turut terlibat dalam perkumpulan ini.

Dari aktivitas tersebut, lahir Mingguan Siasat, sebuah media yang menjadi ruang ekspresi, sekaligus diskusi kebudayaan yang dipimpin oleh Rosihan Anwar. Selain itu, dibuka pula ruang kebudayaan bernama Gelanggang yang dipimpin bersama oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Perjalanan itu pun tidak berlangsung lama baginya. Chairil Anwar kembali memilih meninggalkan Gelanggang yang kemudian dilanjutkan oleh teman-temannya. Setelah itu, Chairil lebih banyak menulis dalam majalah-majalah Mimbar Indonesia pada rubrik kebudayaan yang diasuh oleh H. B. Jassin.

Jejak Chairil Anwar dalam Perbukuan

Chairil Anwar menghasilkan karya berupa puisi dan prosa, baik karya asli, saduran, maupun terjemahan. Menurut H.B. Jassin dalam Chairil Anwar Hasil Karya dan Pengabdiannya (Sri Sutjianingsih, 2009:23), Chairil Anwar telah menulis sajak asli dengan jumlah 72 sajak (satu sajak dalam bahasa Belanda), dua sajak saduran, dan 11 sajak terjemahan. Chairil Anwar juga menghasilkan tujuh prosa asli (satu prosa dalam bahasa Belanda) dan empat prosa terjemahan.

Karya-karya Chairil Anwar banyak membahas tentang individualisme, kematian, cinta tanah air, suasana hati, dan lain-lain. Sajak pertama yang ditulis Chairil Anwar berjudul “Nisan” yang terinspirasi dari neneknya yang meninggal pada tahun 1942.

Deru Campur Debu menjadi kumpulan sajak pertama Chairil Anwar yang diterbitkan oleh PT PEMBANGUNAN Jakarta pada tahun 1949. Pada tahun yang sama, kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Sajak-sajak Chairil Anwar yang lain bersama sajak Asrul Sani dan Rivai Apin dikumpulkan menjadi sebuah buku yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1950 dengan judul Tiga Menguak Takdir. Selain itu, terdapat sajak-sajak Chairil Anwar yang dikumpulkan dalam buku berjudul Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 oleh H.B. Jassin dan diterbitkan oleh PT Gunung Agung pada tahun 1956.

Kontribusi Chairil Anwar dalam kesusastraan Indonesia membuatnya mendapat suatu Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 12 Agustus 1969 No. 071I1969. Selain itu, 28 April, tanggal wafatnya Chairil Anwar, ditetapkan sebagai Hari Puisi Nasional.

Nama Chairil Anwar tidak akan berhenti sebagai bagian dari sejarah. Karyanya masih dibaca. Puisinya masih dikutip. Cara berbahasanya masih terasa segar hingga sekarang. Pengaruhnya tidak hanya terlihat pada angkatan yang lahir setelahnya, tetapi juga pada cara sastra Indonesia berkembang hingga hari ini.

Karya-Karya Chairil Anwar

  • Deru Campur Debu (1949) diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan, Jakarta
  • Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949) diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Jakarta
  • Tiga Menguak Takdir (1950), berisi sajak-sajak Chairil Anwar bersama Asrul Sani dan Rivai Apin diterbitkan oleh Balai Pustaka
  • Aku Ini Binatang Jalang koleksi sajak 1942-1949 (1986) yang diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  • Aku Ini Binatang Jalang edisi 3 diterbitkan 1990 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang Cetakan VI diterbitkan Oktober 1993 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang edisi 1 cetakan tahun 2003 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang Cetakan 16 tahun 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang koleksi sajak 1942-1949 cetakan pertama versi hard cover diterbitkan 14 Juli 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang (SC) diterbitkan 31 May 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku ini Binatang Jalang (HC) diterbitkan 15 January 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang diterbitkan 01 July 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang (Cover Baru) Cetakan 27 diterbitkan 19 February 2018 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang (cover baru edisi 100 Tahun) diterbitkan 29 Juni 2022 oleh Gramedia Pustaka Utama
  • Aku Ini Binatang Jalang (Edisi 50 Tahun GPU) diterbitkan 15 May 2024 oleh Gramedia Pustaka Utama

Pemeriksa aksara: Mikha

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayo pesan sekarang!