Bagian 1
Pengertian Novel
Setelah membahas mengenai “Sejarah Lahirnya Fiksi dan Perubahan Cara Manusia Bercerita”, kita akan melanjutkan pembahasan terkait Sejarah Novel. Sebelum menuju pembahasan lebih jauh, kita mulai terlebih dahulu dengan mengenal apa itu novel.
Novel merupakan narasi prosa fiksi dengan panjang yang cukup panjang dan salah satu bentuk seni yang telah menjadi budaya tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Karya sastra yang satu ini biasanya memiliki alur cerita rumit yang tersampaikan melalui tindakan, ucapan, dan pikiran tokohnya. Penceritaan dalam novel lebih kompleks dari cerpen dan tidak dibatasi struktur serta bentuk seperti puisi dan drama.
Novel berasal dari kata ‘novella’ dalam bahasa Italia yang memiliki arti ‘hal baru yang kecil’. Istilah novel secara resmi digunakan pada akhir abad ke-18. Istilah ini pada awalnya digunakan sebagai klasifikasi sastra untuk menggambarkan cerita pendek yang menyampaikan perasaan umum yang mencerminkan masyarakat luas pada periode abad pertengahan.
Sejarah Novel: Awal Mula Kemunculannya
Sejarah novel dimulai dengan kemunculannya pertama kali di Inggris pada awal abad ke-18. Namun, terdapat sejumlah karya yang menjadi cikal bakal novel sebelum periode tersebut, yaitu Le Mort d’Artur (1485) karya Sir Thomas Malroy, Arcadia (1588) karya Sir Philip Sidney, Pilgrim’s Progress (1678) karya John Bunyan, dan Oronooko, or The Royal Slave (1688) karya Aphra Behn.
Selain itu, dilansir dari American Board dalam tulisan Historical Development of the Novel, sejarah novel juga mendapat pengaruh besar dari Spanyol melalui Don Quixote karya Cervantes pada tahun 1604. Kisah yang ditulis Cervantes tersebut menyuguhkan gambaran tentang masyarakat Spanyol pada abad ke-17. Don Quixote berisi petualangan seorang tokoh bernama Alonso Quijano yang menghabiskan waktunya dengan membaca kisah-kisah tentang kesatria. Ia kemudian dianggap gila oleh teman dan keluarganya. Hal itu menjadikannya mengubah diri menjadi seorang kesatria. Dengan mengubah namanya menjadi Don Quixote, ia bertekad memperbaiki ketidakadilan di dunia.
Don Quixote dianggap oleh penulis-penulis Inggris pada abad ke-18 sebagai titik awal novel seperti yang kita kenal saat ini. Kemudian pada tahun 1719, terbit sebuah novel berjudul Robinson Crusoe karya Daniel Defoe yang dianggap sebagai novel modern pertama. Daniel Defoe dalam penulisannya menggunakan gaya realisme yang kuat dan dipadukan dengan tokoh utama yang terasa hidup. Terdapat kehadiran unsur bajak laut dan kanibal pula dalam ceritanya. Hal tersebut yang menjadikan novel karya Defoe ini begitu menarik dan berperan besar dalam memastikan popularitasnya.
Jejak yang ditinggalkan Daniel Defoe kemudian diikuti oleh sejumlah penulis lain seperti Jonathan Swift dengan karya Gulliver’s Travels, Henry Fielding dengan Joseph Andrews and Tom Jones, dan Oliver Goldsmith dengan Vicar of Wakefield.
Terdapat pula pendapat lain yang menyatakan bahwa akar atau sejarah novel kerap ditelusuri ke tradisi roman Prancis, yang pada masanya dipandang kurang sejalan dengan standar moral Inggris. Tidak heran, jika sejumlah penulis seperti Eliza Haywood dan Aphra Behn sempat mendapat kritik tajam karena gaya prosa mereka dianggap terlalu dipengaruhi oleh selera Prancis.
Stigma Negatif dan Bias Sosial dalam Sejarah Novel
Ketika novel sedang membuka ruang perkembangannya, di sisi lain novel juga pernah dicap sebagai kegiatan yang “tidak produktif”. Pandangan negatif ini semakin menguat karena novel ditulis dalam bentuk prosa yang relatif sederhana. Situasi ini memberi peluang bagi banyak penulis yang belum terasah kemampuannya untuk turut berkarya sehingga muncul cukup banyak tulisan dengan kualitas rendah yang pada akhirnya memperkuat citra negatif terhadap genre novel.
Selain itu, bias sosial juga turut memengaruhi penerimaan terhadap novel. Perempuan kerap dilabeli sebagai sosok yang lebih sensitif dan emosional sehingga dianggap mudah terpengaruh oleh bacaan. Sejumlah novel yang mengangkat kisah gadis muda pencari cinta bahkan memperkuat stereotip tersebut. Membaca novel pun pernah dikaitkan dengan gejala “histeria” pada perempuan.
Akibatnya, karya-karya yang tidak menonjolkan unsur romantis justru dipandang lebih “layak” secara moral. Dari sinilah, perkembangan novel ikut diarahkan dan dinilai berdasarkan tema serta muatan yang dianggap pantas oleh masyarakat pada zamannya.
Berkembangnya Genre Baru dalam Karya Novel
Sejarah novel pada abad ke-19 ditandai dengan adanya tema seputar romantisisme dan menjadi cerita yang mendominasi dalam tulisan penulis di Eropa maupun Amerika. Pada masa tersebut, novel bergenre gotik sangat populer. Unsur-unsur yang terdapat dalam genre tersebut biasanya menakutkan, ada upaya mencari simpati dalam kisahnya, menceritakan tentang kematian, berlatar rumah yang ditinggalkan atau kastil gelap dan angker. Salah satu novel gotik yang sangat populer pada masa itu berjudul Frankenstein karya Mary Shelley yang terbit pada tahun 1818.
Selain Mary Shelley, tema seputar romantisisme juga ditulis oleh beberapa penulis lainnya, seperti Sir Walter Scott dengan karya Ivanhoe terbit pada tahun 1819, Nathaniel Hawthorne dengan karya The Scarlet Letter tahun 1850, James Fenimore Cooper dengan karya The Last of the Mohicans tahun 1826, Emily Brontë dengan karya Wuthering Heights tahun 1847, dan Charlotte Brontë dengan karya Jane Eyre pada tahun 1847.
Pada periode tersebut, terdapat satu penulis yang mengambil jalur berbeda, Jane Austen. Ia tidak begitu menggandrungi romantisisme. Dalam novelnya berjudul Northanger Abbey, Jane malah menghadirkan parodi atas kepopuleran novel-novel gotik. Karya Austen lainnya seperti Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility lebih memfokuskan pada kehidupan domestik. Terutama berkaitan dengan pertunangan, tata krama, dan gaya hidup yang sangat penting.
Jane sangat cerdas dalam menghadirkan satir melalui narasi yang halus. Karyanya juga berisi pengamatan tajam terhadap karakter manusia dan dialog yang anggun yang membuat alur ceritanya menjadi terasa hidup dan mengalir seperti sebuah drama.
Memasuki paruh kedua abad ke-19, berbagai peristiwa di kedua sisi Samudra Atlantik turut membentuk arah perkembangan sastra. Di Inggris, masa pemerintahan Ratu Victoria ditandai oleh kemajuan dan kemakmuran. Kereta api menjadi moda transportasi utama, akses pendidikan semakin luas, sanitasi mengalami perbaikan, dan nilai-nilai kelas menengah seperti kerja keras, moralitas yang kuat, serta sikap praktis, menjadi pedoman sosial pada masa itu.
Sementara itu, di Amerika Serikat terjadi perang saudara yang berlangsung sejak 1861 hingga 1865, berakhir pada tahun yang sama dengan terbunuhnya Presiden Lincoln. Pada periode ini pula, kreativitas dan inovasi berkembang pesat, ditandai dengan lahirnya berbagai penemuan penting seperti mesin ketik, telepon, dan bola lampu.
Kondisi sosial, politik, dan teknologi tersebut kemudian tercermin dalam karya-karya novel yang terbit pada paruh kedua abad ke-19. Novel-novel tersebut seperti Madame Bovary (1856) karya Gustave Flaubert, Great Expectations (1860) karya Charles Dickens, Alice’s Adventures in Wonderland (1865) karya Lewis Carroll, Crime and Punishment (1866) karya Fyodor Dostoyevsky, Little Women (1868–1869) karya Louisa May Alcott, Anna Karenina (1873–1877) karya Leo Tolstoy, Washington Square (1881) karya Henry James, The Adventures of Huckleberry Finn (1885) karya Mark Twain, Tess of the D’Ubervilles (1891) karya Thomas Hardy, States The Red Badge of Courage (1895) karya Stephen Crane, dan The Island of Dr. Moreau (1896) karya H.G. Well.
Melalui karyanya, Charles Dickens menggabungkan kritik sosial dengan humor dalam dunia dengan karakter yang bervariasi dari yang jahat hingga yang menderita. Dickens dalam novel-novelnya sering mengkritik penjara dan sekolah Inggris. Hal ini memicu reformasi yang sangat dibutuhkan saat itu.
Pada paruh kedua abad ke-19, penulis seperti Flaubert, Dostoyevsky, dan Tolstoy menyajikan novel-novel yang realistis. Mereka berusaha menciptakan kesan realisme melalui karya fiksi yang dibuat. Dalam karyanya, mereka menciptakan karakter yang mengalami pengalaman sehari-hari yang biasa dan berinteraksi dengan karakter lain dalam sistem sosial yang terstruktur.
Menjelang akhir abad ke-19, novel fiksi ilmiah mulai berkembang sebagai kategori yang terpisah dari tradisi novel gotik. Dalam karya-karya ini, gagasan tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan menjadi kekuatan utama yang menggerakkan alur cerita serta membentuk konflik yang dihadirkan.
Karya-karya fiksi ilmiah yang hadir pada masa itu seperti Twenty Thousand Leagues Under the Sea dan Around the World in Eighty Days pada tahun 1870-an yang ditulis oleh Jules Verne. Kemudian, H. G. Wells menyusul dengan beberapa karya seperti Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Dr. Moreau.
Kita dapat melihatnya pada abad ke-19 ketika beragam karya novel dari berbagai penjuru dunia dihadirkan. Masing-masing penulis memberikan sumbangan penting dalam membentuk dan memperkaya perkembangan novel modern.
Sumber Referensi:
https://www.universalclass.com/articles/writing/history-and-definition-of-the-novel.htm
https://americanboard.org/Subjects/english/historical-development-of-the-novel/
https://pressbooks.pub/storytelling/chapter/the-rise-of-the-novel/
https://englishlitnotes.com/2025/04/30/the-history-of-the-english-novel/
https://fiveable.me/world-literature-ii/unit-7/characteristics-postmodern-literature/study-guide/LqK2LckcBdZH4VRc
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.