Bacalah seolah-olah Kamu yang Menulisnya
Virginia Woolf*

KETIKA sudah larut dalam sejarah dunia ini, buku dapat ditemukan hampir di setiap ruangan rumah mulai di kamar bayi, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan di dapur. Namun di beberapa rumah, buku telah menumpuk hingga sedemikian rupa sehingga harus ditempatkan di ruangan sendiri, seperti ruang membaca, perpustakaan, atau ruang belajar. Mari kita bayangkan bahwa kita sekarang berada di dalam ruangan, seperti itu. Ruangan yang cerah dengan jendela yang menghadap ke taman sehingga kita dapat mendengar dedaunan yang saling bersentuhan, tukang kebun yang sedang berbicara, keledai yang sedang meraung, perempuan tua yang sedang bergosip di dekat pompa air, dan semua proses kehidupan umumnya yang sedang berlangsung dengan cara acak selama ratusan tahun. Secara sederhana dan terus-menerus, buku-buku telah tersusun di rak-rak. Novel, buku kumpulan puisi, buku sejarah, memoar, kamus, peta, direktori, buku berhuruf tebal dan buku baru, buku dalam bahasa Prancis, Yunani, dan Latin, buku dalam segala bentuk, ukuran, dan nilai, dibeli untuk tujuan penelitian, dibeli untuk menghibur perjalanan kereta api, dibeli oleh berbagai macam orang, dengan berbagai temperamen, serius dan ringan, hingga pria-pria yang aktif dan pria-pria yang berilmu.
Sekarang, seseorang mungkin bertanya pada dirinya sendiri ketika berjalan masuk ke ruangan, seperti bagaimana saya harus membaca buku-buku ini? Bagaimana cara yang tepat untuk melakukannya? Begitu banyak dan begitu beragam. Keinginan saya berubah-ubah dan sulit diprediksi. Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kesenangan sebanyak mungkin dari mereka? Apakah itu kesenangan atau keuntungan? Atau apa yang seharusnya saya cari?
Saya akan mengemukakan beberapa pemikiran yang muncul dari diri saya dalam kesempatan, seperti ini. Namun, kamu akan memperhatikan tanda tanya di akhir judul saya. Seseorang boleh berpikir tentang membaca sebanyak yang dia mau, tetapi tidak ada yang akan menetapkan aturan tentang itu. Di sini, di ruangan ini, jika tidak di tempat lain, kita menghirup udara kebebasan. Di sini, baik orang sederhana maupun terpelajar, baik pria maupun wanita, diperlakukan sama. Meskipun membaca tampak begitu sederhana, hanya masalah mengetahui alfabet, sebenarnya sangat sulit sehingga meragukan apakah ada orang yang benar-benar mengetahui tentang hal itu.
Paris adalah ibu kota Prancis dan Raja John menandatangani Magna Charta. Keduanya adalah fakta. Itu dapat diajarkan, tetapi bagaimana kita mengajarkan orang untuk membaca Paradise Lost sehingga mereka dapat melihat bahwa itu adalah puisi yang besar atau Tess of the D’Urbervilles sehingga mereka dapat melihat bahwa itu adalah novel yang bagus? Bagaimana kita belajar seni membaca untuk diri kita sendiri? Tanpa berusaha menetapkan aturan pada subjek yang belum diresmikan, saya akan memberikan beberapa saran yang mungkin dapat menunjukkan kepada kamu cara membaca yang salah atau merangsang kamu untuk memikirkan metode yang lebih baik untuk diri sendiri.
Lalu, langsung kita mulai bertanya bagaimana seharusnya seseorang membaca sebuah buku? Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa buku itu beragam, mulai dari buku kumpulan puisi, novel, dan buku biografi di rak buku. Masing-masing berbeda satu sama lain, seperti harimau berbeda dari kura-kura atau kura-kura dari gajah. Sikap kita harus selalu berubah, itu jelas. Dari buku yang berbeda, kita harus menuntut kualitas yang berbeda pula. Hal tersebut terdengar sederhana. Orang selalu bertindak seolah semua buku berasal dari ragam yang sama seolah-olah hanya ada kura-kura atau tidak ada yang lain, selain harimau. Hal tersebut membuat mereka marah ketika menemukan seorang novelis yang menghadirkan Ratu Victoria ke takhta enam bulan sebelum waktunya. Mereka akan memuji seorang penyair dengan antusias karena mengajarkan bahwa bunga violet memiliki empat kelopak dan bunga daisy hampir selalu sepuluh. Anda akan menghemat banyak waktu dan menjaga emosi agar tetap ditujukan untuk hal-hal yang lebih berharga jika Anda mencoba untuk menentukan sebelum mulai membaca kualitas-kualitas apa yang Anda harapkan dari seorang novelis, seorang penyair, atau seorang biografer. Kura-kura itu lokos dan mengkilap, sementara harimau memiliki bulu kuning yang tebal. Begitu pula, buku-buku berbeda. Satu memiliki bulunya, sementara yang lain memiliki kelokosannya.
Meskipun begitu, masalahnya tidak sesederhana di perpustakaan, seperti di kebun binatang. Buku-buku memiliki banyak kesamaan. Mereka selalu melampaui batas-batasnya. Mereka selalu menghasilkan jenis baru dari pertemuan tak terduga di antara diri mereka sendiri. Sulit untuk mengetahui cara mendekati mereka, untuk menentukan setiap jenis buku yang mana. Jika kita ingat, saat kita menoleh ke rak buku, masing-masing buku tersebut ditulis oleh pena yang sadar atau tidak sadar, berusaha menelusuri suatu desain, menghindari yang ini, menerima yang itu, mencoba yang lain. Jika kita berusaha mengikuti penulis dalam eksperimennya dari kata pertama hingga kata terakhir tanpa memaksakan desain kita kepadanya, kita akan memiliki peluang yang baik untuk memegang ujung benang yang benar.
Untuk membaca sebuah buku dengan baik, seseorang harus membacanya seolah-olah sedang menulisnya. Jangan mulai dengan duduk di bangku di antara para hakim, tetapi berdirilah di tempat terdakwa bersama si kriminal. Jadilah rekan kerjanya. Jadilah kaki tangannya. Bahkan, ketika Anda hanya ingin membaca buku, mulailah dengan menulisnya. Karena hal itu memang benar, seseorang tidak bisa menulis cerita kecil yang paling biasa sekali, mencoba menggambarkan peristiwa paling sederhana, misalnya bertemu seorang pengemis di jalan, tanpa menghadapi kesulitan yang pernah dihadapi oleh novelis terbesar. Agar kita bisa memahami, meskipun secara singkat dan kasar, pembagian utama yang dilakukan para novelis, mari kita bayangkan bagaimana Defoe, Jane Austen, dan Thomas Hardy akan menggambarkan peristiwa yang sama secara berbeda, pertemuan dengan seorang pengemis di jalan ini. Defoe adalah seorang ahli narasi. Usaha utamanya adalah mereduksi cerita pengemis itu menjadi tertata sempurna dan sederhana.
Hal tersebut menjadi hal yang pertama, kemudian, hal lainnya ketiga. Dia tidak akan menambahkan apapun, sekeren apapun, hal yang akan membuat pembaca lelah tanpa perlu atau mengalihkan perhatiannya dari apa yang ia ingin pembaca ketahui. Dia juga akan membuat kita percaya karena dia adalah seorang ahli, bukan dalam roman atau komedi, tetapi dalam narasi sehingga semua yang terjadi adalah benar. Oleh karena itu, dia akan sangat tepat. Hal tersebut terjadi, seperti yang dia ceritakan di halaman pertama Robinson Crusoe pada tanggal satu September. Lebih halus dan cerdik, dia akan memikat kita ke dalam kondisi percaya dengan secara mudah menyelipkan beberapa fakta kecil yang sebenarnya tidak perlu, misalnya “ayah saya memanggil saya suatu pagi ke kamarnya, tempat ia berada karena asam urat.” Asam urat ayahnya tidak perlu untuk diceritakan, tetapi perlu untuk kebenaran ceritanya karena begitulah cara seseorang yang sedang mengatakan kebenaran menambahkan beberapa detail kecil yang tidak relevan tanpa berpikir. Selain itu, dia akan memilih jenis kalimat yang mengalir, tetapi tidak terlalu penuh, tepat, tetapi tidak epigramatis. Tujuannya untuk menyajikan hal itu sendiri tanpa distorsi dari sudut pandangnya sendiri. Dia akan menghadapi subjek secara langsung dan tegak lurus tanpa berpaling sejenak untuk menunjukkan bahwa hal itu tragis atau bahwa itu indah dan tujuannya tercapai dengan sempurna.
Namun, marilah kita mengartikan hal tersebut sesuai tujuan Jane Austen tanpa tidak sedikit pun salah. Seandainya dia bertemu dengan seorang pengemis wanita, tak diragukan lagi, dia akan tertarik pada kisah si pengemis itu. Dia akan segera melihat untuk kepentingannya. Seluruh kejadian itu harus diubah. Jalanan, udara terbuka, dan petualangan tidak berarti apa-apa baginya secara artistik. Hal yang menarik perhatiannya adalah karakter. Dia akan segera mengubah si pengemis menjadi seorang pria tua yang tenteram dari kelas menengah atas yang sedang duduk di samping perapian dengan santai. Kemudian, alih-alih langsung menyelami cerita dengan semangat dan kejujuran, dia akan menulis beberapa paragraf pengantar yang akurat dan dihias secara artistik. Ia akan merangkum keadaan dan menggambarkan karakter pria yang ingin dia kenalkan kepada kita.
“Pernikahan sebagai awal perubahan selalu tidak menyenangkan” bagi Tuan Woodhouse, katanya. Seketika, dia merasa perlu membiarkan kita melihat bahwa kata-katanya didukung oleh Tuan Woodhouse sendiri. Kita mendengar dia berbicara. “Kasihan Nona Taylor! Andai dia bisa kembali ke sini. Sungguh menyedihkan bahwa Tuan Weston pernah memikirkannya.” Ketika Tuan Woodhouse telah berbicara cukup untuk mengungkapkan dirinya dari dalam, dia kemudian merasa saatnya untuk membiarkan kita melihatnya melalui mata putrinya. “Kau yang memberi Hannah tempat yang bagus itu. Tak seorang pun memikirkan Hannah sampai kau menyebutkannya.” Dengan demikian, dia menunjukkan kepada kita bagaimana Emma memujinya dan menyenangkannya.
Akhirnya, kita mendapatkan karakter Tuan Woodhouse yang terlihat dari tiga sudut pandang berbeda sekaligus, seperti dia melihat dirinya sendiri, putrinya melihatnya, dan mata luar biasa dari wanita tak terlihat itu melihatnya, Jane Austen sendiri. Ketiganya bertemu dalam satu. Dengan demikian, kita bisa mengetahui karakter-karakternya dengan bebas tanpa acuan, kecuali dari diri kita sendiri.
Pertama-tama, seorang pembaca yang baik akan memberikan penulis manfaat dari setiap keraguan.
Sekarang, biarkan Thomas Hardy memilih tema yang sama, yaitu seorang pengemis yang ditemui di jalan. Seketika, dua perubahan besar akan terlihat. Jalanan akan berubah menjadi padang yang luas dan suram. Pria atau wanita itu akan mengambil sebagian dari ukuran dan ketidakjelasan, seperti patung. Lebih jauh, hubungan manusia tersebut tidak akan tertuju pada orang lain, tetapi pada padang, pada manusia sebagai pemberi hukum, dan pada kekuatan-kekuatan yang mengatur takdir manusia. Sekali lagi, perspektif kita akan sepenuhnya berubah. Semua kualitas yang dikagumi dalam “Robinson Crusoe” atau dalam “Emma” akan diabaikan atau tidak ada. Pernyataan harfiah langsung dari Defoe telah hilang. Tidak ada kilau yang jelas dan tepat, seperti milik Jane Austen. Memang, jika kita datang ke Hardy setelah membaca salah satu dari penulis besar tersebut, pada awalnya kita akan berkomentar bahwa dia “melodramatis” atau “tidak nyata” dibandingkan dengan mereka.
Namun, kita harus merenungkan bahwa setidaknya ada dua sisi dari jiwa manusia, yaitu sisi terang dan sisi gelap. Saat bergaul, sisi terang pikiran terekspos, sedangkan saat menyendiri sisi gelap menyelimuti. Keduanya sama-sama nyata dan penting, tetapi seorang novelis selalu cenderung menampilkan salah satu sisi lebih dari yang lain. Hardy, yang merupakan novelis dari sisi gelap, akan mengatur sedemikian rupa sehingga tidak ada cahaya yang jelas dan stabil yang jatuh pada wajah orang-orangnya sehingga mereka tidak diamati secara dekat di ruang tamu bahwa mereka berinteraksi dengan padang, domba, langit dan bintang, dan dalam kesendirian mereka benar-benar berada di tangan para dewa. Jika tokoh-tokoh Jane Austen nyata di ruang tamu, mereka sama sekali tidak akan ada di atas Stonehenge. Lemah dan kikuk di ruang tamu, orang-orang Hardy bertubuh besar dan kuat di luar ruangan. Untuk mencapai tujuannya, Hardy tidak literal dan lurus, seperti Defoe. Ia juga tidak mahir dan tegas, seperti Jane Austen. Ia berat, rumit, dan metaforis. Jika Jane Austen menggambarkan sopan santun, Hardy menggambarkan alam. Jika dia bersikap fakta, Hardy bersikap romantis dan puitis. Karena keduanya adalah seniman besar, masing-masing berhati-hati dalam mematuhi hukum perspektifnya sendiri dan tidak akan membuat kita bingung (seperti begitu banyak penulis yang lebih rendah) dengan menghadirkan dua jenis realitas yang berbeda dalam buku yang sama.
Namun, sangat sulit untuk tidak menginginkan mereka menjadi kurang teliti. Sering terdengar keluhan bahwa Jane Austen terlalu prosaik, sementara Thomas Hardy terlalu melodramatis. Kita harus mengingat diri kita sendiri bahwa kita perlu mendekati setiap penulis dengan cara yang berbeda agar dapat memperoleh semua yang bisa mereka berikan. Kita harus ingat bahwa salah satu kualitas terbesar adalah kemampuannya untuk menyatukan surga dan bumi serta sifat manusia dengan visinya sendiri. Justru karena keahlian mereka yang demikian, keunikan mereka yang tidak kompromistis. Para penulis besar sering menuntut kita melakukan upaya heroik agar dapat membacanya dengan benar. Mereka membengkokkan kita dan mematahkan kita.
Berangkat dari Jane Austen ke Hardy, Peacock ke Trollope, Scott ke Meredith, dan Richardson ke Kipling, seperti diremas dan diputar, lalu dilempar ke arah sini dan kemudian ke arah sana. Selain itu, setiap orang dilahirkan dengan bias alami sendiri ke satu arah daripada ke arah lain. Dia secara naluriah menerima visi Hardy daripada Jane Austen dan membaca searah arus dan bukan melawannya. Dia dengan mudah dan cepat terbawa oleh dorongan kecenderungan dirinya sendiri ke inti dari kejeniusan penulisnya. Namun, Jane Austen kemudian terasa menjijikkan baginya. Dia hampir tidak bisa menyusuri gurun novelnya.
Terkadang, antagonisme alami tersebut terlalu besar untuk diatasi, tetapi percobaan selalu layak dilakukan. Untuk buku-buku yang sulit diakses dengan segala kekakuan pada awalnya, seringkali menghasilkan buah yang paling kaya pada akhirnya, dan betapa anehnya otak terbentuk sehingga karya sastra tertentu menolak pada satu musim untuk sementara, mereka menggugah selera dan penting pada musim lainnya.
Jika hal tersebut benar bahwa buku memiliki banyak ragamnya dan kita harus menekuk imajinasi kita dengan kuat untuk membacanya, pertama ke satu arah, kemudian ke arah lain, jelaslah bahwa membaca adalah salah satu kegiatan yang paling melelahkan dan menguras tenaga. Seringkali, halaman-halaman berputar di hadapan kita dan kita tampak begitu tajam minatnya seolah hidup, bahkan tidak memegang buku di tangan kita. Namun, semakin menarik bukunya, semakin besar juga bahayanya apabila kita membacanya secara berlebihan. Gejalanya sudah familiar. Tiba-tiba, buku menjadi membosankan, seperti air selokan dan berat, seperti timah. Kita menguap dan meregangkan badan serta tidak bisa berkonsentrasi. Penerbangan tertinggi Shakespeare dan Milton menjadi tak tertahankan. Lalu, kita bertanya pada diri sendiri apakah Keats bodoh atau akulah yang bodoh? Sebuah pertanyaan yang menyakitkan, sebuah pertanyaan, lebih lagi, yang seharusnya tidak perlu ditanyakan jika kita menyadari betapa besar peran seni untuk tidak membaca dalam seni membaca. Mampu membaca buku tanpa benar-benar membacanya, melompat-lompat dan bersantai, menunda penilaian, bersantai dan berjalan-jalan di gang dan jalan kecil huruf adalah cara terbaik untuk merevitalisasi daya kreatif kita sendiri.
Semua biografi dan memoar atau semua buku hibrida yang sebagian besar terdiri dari fakta berfungsi untuk mengembalikan kekuatan membaca buku-buku yang nyata kepada kita, yaitu karya-karya imajinasi murni. Mereka juga berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan dan meningkatkan pikiran sebagai hal yang benar dan penting. Apabila kita mempertimbangkan bagaimana membaca buku untuk kesenangan, bukan bagaimana menyediakan pensiun yang memadai bagi seorang janda, sifat lain dari mereka, bahkan lebih berharga dan penting. Tapi di sini, lagi-lagi, seseorang harus tahu apa yang dicari. Seseorang mencari istirahat, kesenangan, keanehan, dan sedikit rangsangan bagi daya kreasi yang sudah jenuh. Seseorang telah meninggalkan menara yang kosong dan kaku serta berjalan di sepanjang jalan sambil mengintip ke jendela yang terbuka. Setelah kesendirian dan konsentrasi, udara terbuka, pemandangan orang lain yang sibuk dengan berbagai aktivitas yang tak terhitung jumlahnya, menghadirkan kita dengan pesona yang tak bisa diungkapkan.
Jendela-jendela rumah terbuka, lalu tirai dinaikkan. Seseorang bisa melihat seluruh keluarga tanpa mereka menyadari bahwa mereka sedang dilihat. mereka terlihat sedang duduk di sekitar meja makan, berbicara, membaca, atau bermain permainan. Kadang-kadang, tampak mereka sedang bertengkar. Namun, tentang apa? Atau mereka tertawa, api apa leluconnya? Di ruang bawah tanah, juru masak sedang membaca koran dengan suara lantang, sementara pembantu rumah sedang membuat roti panggang. Lalu, masuklah pembantu dapur dan mereka semua mulai berbicara pada saat yang sama, tapi apa yang mereka katakan? Di lantai atas, seorang gadis sedang berpakaian untuk pergi ke pesta, tapi ke mana dia pergi? Ada seorang wanita tua sedang duduk di jendela kamar tidurnya dengan semacam karya rajutan di tangannya dan seekor burung beo hijau yang indah di sangkar di sampingnya. Namun, apa yang sedang dia pikirkan? Semua kehidupan tersebut entah bagaimana berkumpul, ada alasannya, ada keterpaduan di dalamnya, seandainya saja bisa ditangkap. Sang biografer menjawab begitu banyak pertanyaan yang kita ajukan saat kita berdiri di luar di trotoar dan melihat ke dalam jendela yang terbuka.
Memang, tidak ada yang lebih menarik daripada menelusuri di antara gudang fakta yang begitu luas tersebut untuk merangkai kehidupan pria dan wanita, untuk menciptakan pikiran dan rumah tangga mereka yang kompleks dari kelimpahan luar biasa serta kekacauan materi yang berserakan. Sebuah jarum pentul, sebuah tengkorak, sepasang gunting, dan setumpuk soneta diberikan kepada kita. Kemudian, kita harus menciptakan, menggabungkan, dan menyatukan hal-hal yang tidak serasi ini. Ada juga dalam fakta-fakta tersebut, suatu kualitas dan suatu emosi yang muncul dari mengetahui bahwa pria dan wanita benar-benar melakukan dan menderita hal-hal tersebut yang hanya bisa dilampaui oleh novelis-novelis terbesar. Kapten Scott, yang kelaparan dan membeku di salju, memengaruhi kita sedalam cerita petualangan fiksi karya Conrad atau Defoe, tetapi pengaruhnya berbeda. Biografi berbeda dari novel. Meminta seorang biografer untuk memberi kita kenikmatan yang sama, seperti yang kita dapatkan dari seorang novelis adalah menyalahgunakan dan salah memahaminya. Begitu dia berkata, “John Jones lahir pukul lima tiga puluh pagi pada 13 Agustus 1862,” dia telah berkomitmen, memfokuskan lensanya pada fakta, dan jika kemudian dia mulai mendongeng, perspektif menjadi kabur, kita menjadi curiga, dan keyakinan kita pada integritasnya sebagai penulis hancur. Dengan cara yang sama, fakta menghancurkan fiksi. Jika Thackeray, misalnya mengutip laporan surat kabar tentang Pertempuran Waterloo dalam Vanity Fair seluruh struktur ceritanya akan hancur, seperti batu menghancurkan gelembung.
Tetapi tidak diragukan lagi bahwa buku-buku hibrida tersebut, gudang dan tempat penyimpanan fakta-fakta tersebut, memainkan peran penting dalam melegakan otak dan mengembalikan semangat imajinasi. Kegiatan membangun kehidupan untuk diri sendiri dari tengkorak, pelat jahit, gunting, dan soneta telah merangsang minat kita dalam menciptakan dan membangkitkan keinginan untuk melihat karya yang indah dan kuat oleh seorang Flaubert atau Tolstoi. Selain itu, walaupun fakta-fakta bisa sangat menarik, mereka adalah bentuk fiksi yang lebih rendah dan secara bertahap kita menjadi tidak sabar dengan kelemahan dan keterpesonaan mereka dengan kompromi dan penghindaran mereka, dengan kalimat-kalimat sembrono yang mereka buat sendiri, dan tergesa-gesa untuk menyegarkan diri dengan intensitas dan kebenaran fiksi yang lebih besar.
Diperlukan cadangan energi imajinatif yang sangat besar untuk menaklukkan lereng-lereng puisi. Di sini, tidak ada pengenalan bertahap, tidak ada kesamaan dengan dunia kehidupan sehari-hari yang digunakan novelis untuk memikat kita ke dunia imajinasinya. Semuanya keras, bertentangan, tidak terkait. Namun, berbagai penyebab, seperti buku-buku yang buruk, kekhawatiran menjalani hidup dengan efisien, guncangan sesekali, tetapi kuat yang diberikan oleh keindahan, dan dorongan tak terhitung dari pikiran dan tubuh kita sendiri seringkali menempatkan kita dalam keadaan pikiran ketika puisi menjadi suatu kebutuhan. Pemandangan bunga krokus di taman akan tiba-tiba mengingatkan kita pada semua hari musim semi yang pernah ada. Saat itu, seseorang menginginkan yang umum, bukan yang khusus, keseluruhan, bukan detil, untuk menengadahkan sisi gelap pikiran, untuk berhubungan dengan kesunyian, kesendirian, dan semua pria dan wanita, bukan Richard tertentu ini atau Anne tertentu itu. Metafora pada saat itu lebih ekspresif daripada pernyataan yang jelas.
Dengan demikian, untuk membaca puisi dengan benar, seseorang harus berada dalam keadaan tergesa-gesa, ekstrim, atau dermawan ketika banyak dukungan dan kenyamanan sastra diabaikan. Kekuatan khayalan dan kekuatan representatifnya dilepaskan demi ekstremitas dan kelebihannya. Representasi sering kali sangat jauh dari hal yang diwakilinya sehingga kita harus menggunakan seluruh energi pikiran kita untuk memahami hubungan, misalnya lagu burung bulbul dan citra serta ide yang dibangkitkan oleh lagu itu dalam pikiran. Dengan demikian, membaca puisi sering terasa, seperti keadaan rapsodi ketika rima, metrum, dan bunyi menggugah pikiran sebagaimana anggur dan tarian menggugah tubuh. Kita terus membaca, memahami dengan indra, bukan dengan intelek, dalam keadaan mabuk. Namun, semua mabuk dan intensitas kesenangan ini bergantung pada ketepatan dan kebenaran gambar. Pada kenyataan, itu merupakan cerminan dari realitas di dalam diri. Meskipun beberapa gambaran Shakespeare tampak jauh dan berlebihan atau beberapa gambaran Keats tampak berlebihan dan sangat halus, pada saat membacanya mereka tampak sebagai puncak dan klimaks dari pemikiran, ungkapan akhirnya. Namun, sia-sia untuk membahas masalah ini dengan kepala dingin.
Siapa pun yang pernah membaca puisi dengan kesenangan akan mengingat keyakinan mendadak, ingatan yang mendadak (karena terkadang tampak seolah-olah kita akan mengatakan atau telah dalam kehidupan sebelumnya sudah mengatakan sesuatu yang sebenarnya sedang dikatakan Shakespeare sekarang) yang menyertai membaca puisi dan memberi puisi itu penghayatan dan intensitasnya. Namun, membaca semacam itu dilakukan, baik secara sadar maupun tidak sadar, dengan usaha dan kewaspadaan tertinggi dari segala kemampuan, baik akal maupun imajinasi. Kita selalu memverifikasi pernyataan penyair, membuat perbandingan cepat, sekuat kemampuan kita, antara keindahan yang ia ciptakan di luar dan keindahan yang kita sadari di dalam diri kita karena orang yang paling sederhana sekalipun dianugerahi kemampuan untuk membandingkan. Hal yang paling sederhana (asal ia menyukai membaca) sudah dimiliki dalam dirinya sesuatu yang dapat dihubungkan dengan apa yang diberikan kepadanya oleh penyair atau novelis.
Dengan perkataan tersebut, tentu saja, rahasia sudah terbuka. Untuk pengakuan tersebut bahwa kita dapat membandingkan, membedakan, dan membawa kita pada poin lebih lanjut. Membaca tidak hanya sekadar berempati dan memahami, membaca juga berarti mengkritik dan menilai. Sejauh ini, upaya kita untuk membaca buku sebagaimana penulis menulisnya. Kita telah berusaha untuk memahami, menghargai, menafsirkan, dan berempati. Namun sekarang, ketika buku itu selesai, pembaca harus meninggalkan tempat duduknya dan naik ke bangku hakim. Ia harus berhenti menjadi teman. Ia harus menjadi hakim. Ini bukan sekadar ungkapan. Pikiran tampaknya (“tampaknya” sebab semua yang terjadi dalam pikiran tidak jelas) melalui dua proses dalam membaca. Satu bisa disebut membaca aktual, sedangkan yang lain adalah setelah membaca.
Selama membaca secara aktual, ketika kita memegang buku di tangan kita, selalu ada gangguan dan interupsi yang tak ada henti-hentinya. Kesan-kesan baru selalu melengkapi atau membatalkan yang lama. Penilaian seseorang ditangguhkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kejutan, kekaguman, kebosanan, minat, silih berganti begitu cepat sehingga akhirnya kita mencapai akhir. Kita sebagian besar berada dalam keadaan kebingungan total.
Apakah ini baik? Atau buruk? Jenis buku apa ini? Seberapa bagus buku ini?
Gesekan membaca dan emosi membaca menghasilkan terlalu banyak debu sehingga kita tidak bisa menemukan jawaban yang jelas untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Jika kita dimintai pendapat, kita tidak bisa memberikannya. Bagian-bagian dari buku tampak tenggelam, sedangkan bagian yang lain mulai muncul secara berlebihan. Maka, mungkin lebih baik untuk melakukan aktivitas lain, seperti berjalan, berbicara, menggali, atau mendengarkan musik. Buku yang telah kita baca dengan meluangkan banyak waktu dan pemikiran perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Namun tiba-tiba, saat seseorang sedang memetik siput dari mawar, mengikat sepatu, mungkin, melakukan sesuatu yang jauh dan berbeda, seluruh buku muncul di benak dengan lengkap. Sesuatu proses sepertinya telah selesai tanpa disadari. Berbagai detail yang telah terkumpul dalam membaca tersusun di tempatnya masing-masing. Buku itu mengambil bentuk yang jelas. Ia menjadi sebuah kastil, gudang sapi, reruntuhan gotik, atau lainnya tergantung pada kasusnya. Sekarang, seseorang bisa memikirkan buku itu secara keseluruhan dan buku sebagai keseluruhan berbeda, memberikan emosi yang berbeda, dibandingkan dengan buku yang diterima secara bertahap dalam beberapa bagian. Simetri dan proporsinya atau kebingungan dan distorsinya dapat menimbulkan kegembiraan besar atau rasa jijik yang besar terlepas dari kesenangan yang diberikan oleh setiap detail saat dipahami secara terpisah. Dengan memegang bentuk lengkap ini dalam pikiran, sekarang, perlu untuk sampai pada suatu pendapat tentang nilai buku tersebut karena memungkinkan untuk memperoleh kesenangan dan kegembiraan terbesar dari proses pertama, yaitu membaca itu sendiri walaupun ini sangat penting. Kesenangan tersebut tidak sedalam atau selama kesenangan yang kita dapatkan ketika proses kedua, setelah membaca, selesai, dan kita memegang buku itu dengan jelas, aman, dan (sejauh kemampuan kita) lengkap dalam pikiran kita.
Namun, bagaimana mungkin kita bertanya, kita harus memutuskan pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah ini baik? Atau apakah ini buruk? Seberapa baik itu? seberapa buruk itu?
Tidak banyak bantuan yang bisa diharapkan dari luar. Kritikus banyak dan kritik berkembang biak, tetapi pikiran yang berbeda terlalu banyak untuk memungkinkan kesesuaian yang dekat dalam hal-hal detail dan tidak ada yang lebih merugikan daripada memaksakan kaki sendiri ke sepatu orang lain. Ketika kita ingin memutuskan kasus tertentu, cara terbaik untuk membantu diri sendiri bukanlah dengan membaca kritik, tetapi dengan menyadari kesan kita sendiri sejelas mungkin dan merujuknya pada penilaian yang telah kita bentuk secara bertahap di masa lalu. Di sanalah, tergantung di lemari pikiran kita, bentuk-bentuk buku yang telah kita baca, sebagaimana kita menggantungnya dan menaruhnya kembali ketika kita telah selesai dengan mereka. Jika kita baru saja membaca karya Clarissa Harlowe, misalnya mari kita lihat bagaimana buku itu terlihat dibandingkan dengan bentuk karya Anna Karenina. Seketika, garis besar kedua buku itu tampak saling menonjol satu sama lain, seperti sebuah rumah dengan cerobong asapnya yang menjulang dan atapnya yang miring, terlihat jelas di hadapan bulan purnama di musim panen. Seketika pula, kualitas Richardson, kelengkapan kata-katanya, ketidaktegasan penyampaiannya, terlihat kontras dengan kelugasan dan ketegasan Tolstoi.
Lalu, apa alasan perbedaan dalam pendekatan mereka ini? Bagaimana emosi kita pada berbagai krisis dalam kedua buku itu dibandingkan? Apa yang harus kita atribusikan kepada abad kedelapan belas, Rusia, dan sang penerjemah? Namun, pertanyaan yang muncul tidak terhitung jumlahnya. Mereka bercabang tak berujung dan banyak di antaranya tampaknya tidak relevan. Namun, justru dengan menanyakannya dan mengejar jawabannya sejauh yang kita bisa, kita sampai pada standar nilai kita dan memutuskan pada akhirnya bahwa buku yang baru saja kita baca termasuk jenis ini atau itu dan memiliki nilai sebesar itu atau ini. Sekarang, ketika kita telah setia pada kesan kita sendiri, merumuskan secara mandiri penilaian kita sendiri, barulah kita dapat paling bermanfaat mengambil hikmah dari penilaian para kritikus besar, seperti Dryden, Johnson, dan lainnya. Justru ketika kita paling mampu membela pendapat kita sendiri, kita paling banyak mendapatkan dari pendapat mereka.
Jadi, untuk merangkum berbagai poin yang telah kita capai dalam esai ini, apakah kita telah menemukan jawaban atas pertanyaan kita? bagaimana seharusnya kita membaca sebuah buku?
Jelas, tidak ada jawaban yang cocok untuk semua orang, tetapi mungkin ada beberapa saran. Pertama-tama, seorang pembaca yang baik akan memberi penulis keuntungan dari setiap keraguan, bantuan dari seluruh imajinasinya, akan mengikuti sedekat mungkin, menafsirkan secerdas yang ia bisa. Selanjutnya, ia akan menilai dengan ketegasan tertinggi. Setiap buku, ia akan ingat, memiliki hak untuk dinilai oleh yang terbaik dari jenisnya. Ia akan berani, luas dalam memilih, setia pada naluri sendiri, tetapi siap mempertimbangkan naluri orang lain. Hal tersebut adalah garis besar yang dapat diisi sesuai selera dan waktu luang, tetapi membaca sesuatu dengan cara tersebut adalah menjadi pembaca yang dihormati oleh penulis. Melalui pembaca, seperti itulah karya-karya besar muncul ke dunia.
Jika para ahli moral bertanya kepada kita bagaimana kita bisa membenarkan kecintaan kita pada membaca, kita bisa menggunakan alasan seperti ini. Jika kita jujur, kita tahu bahwa tidak ada alasan semacam itu yang diperlukan. Memang benar bahwa kita tidak memperoleh apa pun, selain kesenangan dari membaca. Memang benar bahwa orang paling bijak di antara kita pun tidak mampu mengatakan apa sebenarnya kesenangan itu. Namun, kesenangan itu yang misterius, tak dikenal, sia-sia sekalipun, dan sudah cukup. Kesenangan itu begitu aneh, begitu kompleks, begitu sangat menyuburkan bagi pikiran siapa pun yang menikmatinya, dan begitu luas pengaruhnya sehingga tidak akan mengherankan sedikit pun jika pada hari penghakiman ketika rahasia terungkap dan yang tersembunyi menjadi jelas, kita mengetahui bahwa alasan kita berubah dari babi menjadi pria dan wanita, keluar dari gua kita, meletakkan busur dan panah kita, duduk di sekitar api dan berbicara, minum dan bersukaria, memberi kepada orang miskin, menolong orang sakit, membuat jalan dan rumah, serta mendirikan semacam perlindungan dan masyarakat di tanah yang terbengkalai di dunia, hanyalah karena ini, kita menyukai membaca.
*Virginia Woolf (1882–1941) was an English novelist and essayist, known especially for Mrs. Dalloway, To the Lighthouse, Orlando, and A Room of One’s Own.
*Tulisan ini diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh Jovi.
*Sumber referensi: https://yalereview.org/article/virginia-woolf-essay-how-should-read-book
Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati