TIDAK semua orang menyukai fiksi. Ketidaksukaan ini biasanya disertai dengan berbagai alasan. Misalnya, cerita-cerita fiksi dianggap hanya sebuah hiburan remeh yang dapat mengalihkan fokus seseorang dari pembelajaran “nyata”.
Mark Manson, penulis terlaris New York Times, sebelum tertarik dengan fiksi. Ia memberikan pendapat bahwa membaca fiksi hanya membuang-buang waktu.
Tidak jarang pula orang-orang yang kurang antusias dengan fiksi menganggap fiksi menggunakan karakter, alur cerita, atau metafora yang dibuat-buat dan bukanlah sumber belajar efisien. Alasan lainnya bahwa bacaan non-fiksi memberikan informasi langsung dan sebagai satu-satunya jalan menuju pengetahuan karena efisien, faktual, dan tepat sasaran.
Pandangan tersebut memang terdengar logis—di tengah kehidupan yang banjir informasi dan pergulirannya yang begitu cepat—tentu orang-orang ingin menyimpan waktu berharga mereka. Mengefisienkan cara memperoleh informasi, pengetahuan, atau fakta nyata, langsung pada intinya. Melalui bacaan-bacaan non-fiksi, bukan cerita fiksi. Anggapan ini berangkat dari asumsi keliru bahwa manusia memahami dunia hanya melalui fakta tanpa mempertimbangkan makna. Kita hanya perlu memperluas pandangan serta memberikan keterbukaan pada pemikiran kita. Tidak sepenuhnya membaca fiksi dapat dianggap sebagai cara membuang waktu.
Fiksi merupakan salah satu alat paling kuat dalam kehidupan manusia, tidak hanya untuk memahami diri kita sendiri tapi juga dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sejatinya kita tidak pernah bisa lepas dari cerita karena cerita merupakan bagian dari fiksi. Kita menarasikan pengalaman, menafsirkan peristiwa, serta membangun makna melalui rangkaian sebab-akibat yang menyerupai kerja fiksi. Meskipun, berangkat dari kenyataan dengan cara itulah manusia memberi bentuk pada hidupnya. Mengubah kejadian acak menjadi kisah yang dapat dipahami, dirasakan, dan dibagikan kepada orang lain.
Memahami mengapa kita membutuhkan fiksi memang tidak sesederhana itu. Namun, jika kita menelusuri cara manusia belajar dan memaknai dunia, maka akan terlihat bahwa fiksi memainkan peran yang jauh lebih penting daripada sekadar hiburan. Berikut beberapa alasan mengapa fiksi tetap dibutuhkan, bahkan di dunia yang semakin didominasi oleh informasi yang serba cepat.
Narasi yang Membentuk Cara Kita Berpikir
Cerita memiliki cara masuk ke pikiran kita, menetap di sana, memengaruhi pikiran dan perilaku kita, bahkan setelah kita cukup lama menutup buku atau meninggalkan bioskop. Kekuatan narasi terletak pada kemampuannya mengikat informasi ke dalam alur, tokoh, dan emosi sehingga mudah kita ingat dan rasakan. Ketika sebuah gagasan dibungkus dalam cerita ia tidak lagi hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman yang hidup. Hal tersebut yang menjadi alasan, mengapa narasi mampu membuat pesan bertahan lebih lama. Melampaui fakta yang disampaikan secara datar dan terlepas dari konteks manusiawi.
Memang tidak semua fiksi memiliki kualitas yang sama, tetapi hampir semua bacaan—bahkan non-fiksi—disusun dalam bentuk cerita. Penulis biasanya selalu memilih fakta, mana yang ditampilkan, mana yang disembunyikan, dan bagaimana menyusunnya agar terasa masuk akal. Hal itulah yang membuat garis antara fiksi dan non-fiksi sebenarnya tidak setegas yang sering kita bayangkan. Kita hidup di dalam narasi, tentang siapa diri kita, bagaimana dunia bekerja, dan apa yang mungkin kita capai. Setiap pilihan yang kita buat, lahir dari fakta yang netral dan cerita-cerita yang berasal dari kisah yang kita dengar, baca, atau bayangkan. Bahkan ketika seseorang merasa belajar “secara langsung” dan “lebih efisien”, informasi itu tetap disaring melalui sudut pandang dan kerangka dalam cerita tertentu. Yang perlu kita sadari, manusia bukan sekadar makhluk rasional, melainkan makhluk pencerita.
Kita Tidak Pernah Bisa Mengenal Cukup Banyak Orang
Dalam kehidupan nyata, kita tidak pernah benar-benar bisa mengenal cukup banyak orang. Penyebabnya karena secara alami, kita cenderung memilih lingkungan yang serupa dengan diri kita. Kebanyakan memilih untuk berteman dengan mereka yang memiliki pandangan, latar belakang, dan pengalaman yang sejalan. Sehingga tanpa disadari, kita lebih sering mencari pengalaman yang meneguhkan keyakinan sendiri daripada menantangnya.
Pada usia muda kita mungkin tidak bisa menerima kalimat yang menyatakan, “Kita tidak pernah bisa mengenal cukup banyak orang dalam kehidupan nyata.”
Atau, pepatah klise seperti yang dikatakan oleh guru bahasa Inggris Mark Manson di sekolah menengahnya.
Ia mengatakan, “Kita membaca buku karena kita tidak pernah bisa mengenal cukup banyak orang.”
Pernyataan-pernyataan tersebut menjadi salah satu kebenaran singkat yang baru. Hal itu mulai bisa kita hargai atau terima ketika kita sudah jauh lebih tua. Inilah yang menjadi alasan mengapa dalam hidup, kita membutuhkan fiksi dan di sinilah fiksi bekerja. Melalui cerita baik dalam bentuk buku, film, maupun kisah lisan. Kita diajak keluar dari batas pengalaman pribadi dan memasuki kehidupan orang lain.
Fiksi membuka akses pada kenyataan emosional yang tidak kita alami sendiri dan menghadirkan sudut pandang yang jauh dari keseharian kita. Dengan cara itu, cerita terasa lebih nyata daripada sekadar paparan fakta. Seakan cerita memberi kesempatan untuk memahami pengalaman manusia lain dari dalam.
Fiksi merupakan Salah Satu Bentuk Pelarian Paling Sehat
Mark Manson berpendapat bahwa membaca pada dasarnya seperti melakukan angkat beban untuk pikiran.
Melalui membaca fiksi, kita tidak hanya diajak berempati tapi juga dilatih cara berpikir. Alur cerita, konflik, dan sudut pandang yang beragam dapat membantu kita mengasah kemampuan bernalar, berkomunikasi, serta melihat keterkaitan antar peristiwa. Tanpa terasa hal tersebut menjadikan kita seperti belajar, pikiran tetap bekerja dan berkembang.
Berbeda dari hiburan yang bersifat pasif, membaca menuntut keterlibatan aktif setiap saat. Kita harus hadir, membayangkan, dan menafsirkan cerita yang dibaca. Saat membaca fiksi, kita juga bisa beristirahat dari tekanan sehari-hari tanpa membuat pikiran benar-benar berhenti bekerja. Tubuh dan perasaan mendapat jeda, tetapi otak tetap aktif karena kita membayangkan cerita, mengikuti alur, dan memahami tokohnya. Itulah sebabnya, fiksi bukan hanya hiburan untuk mengisi waktu luang. Melainkan juga, cara yang sehat untuk menjaga pikiran tetap tajam dan seimbang.
Cara Otak Bekerja saat Membaca Fiksi
Banyak orang mengira membaca fiksi hanyalah hiburan ringan. Padahal saat kita tenggelam dalam sebuah cerita, otak bekerja jauh lebih aktif dari yang kita sadari. Otak tidak sepenuhnya membedakan pengalaman nyata dan pengalaman yang dibayangkan. Ketika cerita terasa hidup, otak meresponsnya seolah-olah peristiwa itu benar-benar terjadi.
Kita bisa ikut merasakan emosi para tokoh, tubuh bisa bereaksi, dan pikiran terlibat penuh. Proses ini membuat otak membangun hubungan-hubungan baru, melatih empati, dan memperluas cara kita memahami pengalaman manusia.
Membaca fiksi bisa menjadi cara alami bagi otak untuk belajar dan berkembang.
Manfaat Fiksi yang Sering Terlewat
Selain membentuk empati dan cara berpikir, membaca fiksi juga melatih kemampuan yang jarang disadari relevansinya dengan kehidupan profesional. Fiksi menuntut pembaca untuk menghadapi situasi yang kompleks, tidak selalu hitam-putih, dan biasanya penuh ambiguitas.
Hal ini dapat menjadi sebuah latihan mental yang serupa dengan pengambilan keputusan di dunia nyata. Cerita mendorong pembaca untuk bertahan dalam satu alur pemikiran dalam waktu lama sehingga melatih fokus dan ketekunan di tengah budaya serba cepat.
Seperti yang ditulis Sophie Kesteven, Zoe Ferguson, dan Lisa Leong dalam tulisan mereka di ABC News bahwa membaca (termasuk fiksi) dapat membantu mempertahankan keterbukaan berpikir dan kemampuan reflektif yang penting dalam dunia kerja.
Di saat yang sama, fiksi juga memupuk rasa ingin tahu seperti keinginan untuk memahami motivasi, latar belakang, dan kemungkinan lain di luar kebiasaan. Kombinasi antara ketenangan emosional dan keterlibatan intelektual inilah yang membuat membaca fiksi tidak hanya berdampak pada kehidupan batin. Namun juga membentuk cara seseorang berpikir, bekerja, dan menyikapi persoalan sehari-hari.
Pada akhirnya, kebutuhan manusia terhadap fiksi bukanlah soal selera membaca. Ada cara kita memahami dan menjalani kehidupan di dalamnya. Di balik data, fakta, dan efisiensi, manusia tetap bisa berpikir, belajar, dan mengambil keputusan melalui cerita. Fiksi bekerja di wilayah tersebut dengan membentuk makna, melatih empati, menjaga ketajaman pikiran, sekaligus memberi ruang untuk bernapas dari tekanan sehari-hari. Ketika kita menempatkan fiksi hanya sebagai hiburan semata, kita meremehkan salah satu alat paling mendasar yang dimiliki manusia untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitarnya. Itulah mengapa di dunia yang kompleks ini kita membutuhkan fiksi.
Sumber referensi:
- https://medium.com/westenberg/why-we-need-fiction-112ef8c04798
- https://markmanson.net/read-fiction
- https://www.abc.net.au/news/2024-01-11/how-reading-can-benefit-your-career/103249632
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.