Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Apa itu Self-editing dan Bagaimana Praktiknya?

DALAM proses kepenulisan, penyuntingan merupakan tahapan yang sangat penting. Penulis tidak disarankan langsung mengirimkan naskah ke penerbit begitu selesai ditulis. Hal tersebut karena mengedit naskah sebelum dikirim ke penerbit menjadi kunci utama untuk meningkatkan kualitas dan keterbacaan tulisan. Kesadaran akan pentingnya kualitas naskah itulah yang membawa penulis pada praktik self-editing sebagai bentuk tanggung jawab terhadap karya yang ditulis.

Self-editing atau penyuntingan mandiri sering kali dipandang sebagai pekerjaan tambahan yang melelahkan, bahkan dihindari. Alasannya beragam, antara lain, sudah lelah dengan naskah sendiri, takut menemukan terlalu banyak kekurangan, atau merasa penyuntingan sepenuhnya adalah tanggung jawab editor. Padahal, naskah yang melalui proses self-editing dengan baik menunjukkan kedewasaan penulis dalam mengolah tuliasannya.

Pada dasarnya, self-editing adalah bentuk tanggung jawab penulis terhadap tulisannya sendiri. Proses tersebut membantu memastikan bahwa gagasan tersampaikan dengan jelas, bahasa yang digunakan terasa nyaman ketika dibaca, dan kesalahan mendasar dapat diminimalkan sebelum naskah berpindah tangan. Naskah yang rapi sejak awal juga memberi kesan profesional dan memudahkan kerja editor di tahap selanjutnya.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan self-editing dan bagaimana praktik sederhana yang bisa dilakukan penulis untuk meningkatkan kualitas naskahnya? Yuk, simak lebih lanjut melalui tulisan ini.

Pengertian Self-editing

Self-editing adalah proses penyuntingan yang dilakukan oleh penulis terhadap naskahnya sendiri setelah tahap penulisan selesai. Tujuannya bukan untuk menyempurnakan naskah secara mutlak, melainkan untuk memperbaiki kesalahan, merapikan struktur, memperjelas alur, dan memastikan tulisan mudah dipahami pembaca.

Penyuntingan mandiri membantu penulis melihat kembali karyanya secara lebih objektif. Dengan self-editing, naskah yang awalnya terasa mentah dapat berkembang menjadi tulisan yang lebih solid, fokus, dan bernilai.

Bagaimana Praktik Self-editing Dilakukan?

Berikut beberapa langkah self-editing yang bisa kamu terapkan sebelum mengirimkan naskah ke editor atau penerbit.

  1. Istirahatkan Naskah sebelum Mulai Mengedit
    Setelah menyelesaikan naskah, jangan langsung mengeditnya. Beri jarak waktu. Bisa beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan lebih lama, tergantung kebutuhan. Jeda ini penting agar kamu tidak terlalu “lekat” dengan tulisan sendiri.
    Saat kembali membaca naskah setelah istirahat, kamu akan melihatnya dengan sudut pandang baru. Kesalahan, kejanggalan, atau bagian yang terasa kurang kuat akan lebih mudah dikenali. Jarak emosional ini membantu kamu bersikap lebih objektif dan berani melakukan perbaikan yang diperlukan.

  2. Baca Ulang dengan Suara
    Membaca naskah dengan suara keras adalah cara sederhana yang efektif. Dengan mendengar langsung alur kalimat, kamu bisa menangkap bagian yang terasa kaku, terlalu panjang, berulang, atau tidak mengalir.
    Metode ini juga membantu memeriksa konsistensi nada dan gaya bahasa. Kamu akan lebih mudah merasakan apakah tulisan terdengar terlalu formal, terlalu cepat, atau justru membingungkan. Jika sebuah kalimat terasa sulit diucapkan, kemungkinan besar kalimat itu juga sulit dipahami pembaca.

  3. Potong Kalimat dan Paragraf yang Terlalu Panjang
    Kalimat yang terlalu panjang sering membuat pembaca kehilangan fokus. Jika satu kalimat membutuhkan lebih dari satu napas untuk dibaca, tandanya perlu dipangkas atau dipecah. Kalimat yang singkat dan langsung ke inti akan membuat tulisan lebih kuat dan jelas.
    Hal serupa berlaku untuk paragraf. Paragraf yang terlalu padat membuat mata pembaca cepat lelah. Memecah paragraf menjadi bagian-bagian kecil akan membantu pembaca mencerna informasi dengan lebih nyaman dan menjaga ritme membaca tetap ringan.

  4. Fokus pada Konsistensi
    Konsistensi adalah kunci kenyamanan membaca. Saat melakukan self-editing, perhatikan penggunaan istilah, sudut pandang, dan gaya bahasa. Jangan sampai istilah yang sama ditulis berbeda-beda atau sudut pandang berubah tanpa alasan yang jelas.
    Selain itu, cek juga konsistensi teknis, seperti ejaan, tanda baca, dan format penulisan. Hal-hal kecil ini biasanya sering luput dari pandangan, tetapi sangat berpengaruh pada kesan profesional sebuah naskah.

  5. Hilangkan Kata-Kata yang Tidak Perlu
    Banyak tulisan terasa bertele-tele karena dipenuhi kata atau frasa yang sebenarnya tidak menambah makna. Kata-kata, seperti “sebenarnya”, “memang”, atau pengulangan ide yang sama bisa dihilangkan tanpa mengurangi pesan utama.
    Self-editing di tahap ini menuntut keberanian untuk memangkas. Semakin ringkas dan padat tulisanmu, semakin kuat pula gagasan yang disampaikan. Pembaca pun akan lebih betah mengikuti alur tulisan hingga akhir.

  6. Periksa Alur dan Kelogisan Tulisan
    Terakhir, pastikan tulisanmu memiliki alur yang logis dan runtut. Setiap paragraf seharusnya saling terhubung dan mendukung gagasan utama. Jika ada bagian yang terasa loncat, membingungkan, atau tidak relevan, pertimbangkan untuk memindahkan atau menghapusnya.
    Tanyakan pada diri sendiri, apakah bagian ini benar-benar dibutuhkan? Apakah ini membantu pembaca memahami topik, atau justru mengaburkan fokus tulisan?

Self-editing adalah langkah penting yang dapat mengubah naskah biasa menjadi tulisan yang lebih kuat dan profesional. Dengan menyunting secara mandiri, penulis dapat memperdalam keterampilan memperbaiki kesalahan teknis dan pemahaman terhadap tulisannya sendiri.

Luangkan waktu untuk memberi jeda, membaca ulang, memangkas bagian yang berlebihan, dan memastikan alur tetap jelas. Naskah yang melalui proses self-editing dengan baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan diapresiasi pembaca.

Apakah kamu memiliki naskah yang sudah selesai ditulis? Yuk, lakukan self-editing pada naskahmu dan segera kirimkan kepada kami untuk diterbitkan menjadi buku.


Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati

Ayo pesan sekarang!