Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Ulasan Novel “Ikan-Ikan dan Kunang-kunang di Kedung Mayit” karya Dewanto Amin Sadono

Resensi oleh Yanusa Nugroho*

Judul: Ikan-Ikan dan Kunang-kunang di Kedung Mayit
Karya: Dewanto Amin Sadono
Tebal: 198 halaman
Cetakan Pertama: Februari 2025
ISBN: 978-623-6650-60-8
==============================

BAGIAN awal novel ini ada dialog menarik, menurut saya. Silakan Simak. “Selain jadi copet, cita-cita lainnya apa?” tanya Suro tanpa basa-basi. Perlu diketahui bahwa ini momen ketika Tunggal, si tokoh remaja, mencoba meniti “karier” dengan melamar sebagai pencopet.

Mendapat pertanyaan di luar dugaan seperti itu Tunggal terlonjak. Sesaat, ia kebingungan. Untungnya, saat sedang cengar-cengir seperti monyet terjepit ekornya, tiba-tiba ia teringat akan bapak, ibu, neneknya. Lalu, bagaikan mendapat inspirasi. “Menjadi merpati,” jawabnya asal lalu, tentu saja.

Itulah pertemuan Tunggal, remaja 15 tahunan itu, dengan Suro, si raja copet. Sejak hari itu, Tunggal menjadi murid raja copet.

Kisah membawa anak muda yang kemudian menjadi ahli copet itu ke sebuah dunia asmara. Tunggal bertemu Ika. Jatuh cinta dan pada waktunya, Ika melahirkan anak laki-laki yang dinamai ‘Alexander Gentho’.

Ternyata nama ‘Gentho’ yang berarti, antara lain, ‘petarung’ atau bisa juga ‘preman’ adalah cara Tunggal berterima kasih dan mengenang seorang napi yang menyelamatkan dirinya dari sodomi napi lain. Si penyelamat yang juga masih semuda Tunggal itu bernama ‘Gentho’.

Tidak hanya itu. Selepas dari lapas entah yang ke berapa, Tunggal mencari di mana istri dan anaknya berada. Tak ketemu. Makin menggila dia berusaha menemukan, si Gentho dan ibunya tak ketemu. Akhirnya, perampok yang ingin sekali namanya menjadi headline surat kabar itu, mengganti namanya sendiri dengan ‘Gentho’. Ini tentu saja agar Ika, istrinya, suatu saat akan membacanya dan tahu bahwa suaminya sudah tidak di penjara lagi.

Ini cerita tentang orang-orang pinggiran, terpojokkan oleh kondisi sosial ekonomi yang mencoba mempertahankan hidup. Ada Tunggal, Ika, dan anak mereka Gentho yang mengalami kepekatan hidup dan berakhir dengan kematian. Hidup dalam teror maut melalui peristiwa, antara lain, ‘Penembak Misterius’ di awal 80-an, banyak manusia mengalami kepahitan demi kepahitan, tercatat ataupun tidak.

Novel ini mencoba menggaris bawahi bahwa kepahitan hidup itu nyata. Kematian demi kematian itu pun nyata. Novel ini menarik karena ditutup dengan paragraf yang membuat kita berpikir jauh tentang kehidupan kita.

“Tak ada dari mereka yang ingin memberi tahu Goro bahwa di Kedung Mayit sudah tak ada ikannya. Semuanya minggat, menyusul para kunang-kunang yang lebih dulu lenyap. Konon, ikan-ikan itu bermigrasi ke Laut Jawa. Soalnya, di sana kadang masih dilangsungkan upacara tabur bunga saat ada kapal yang karam atau pesawat yang nyungsep ke dasarnya beserta para penumpangnya. Para kunang-kunang pindah ke kuburan di dekat masjid, mencuri dengar doa-doa yang dikirimkan oleh para peziarah kepada orang-orang yang sudah mati.”

Agak lama saya tercenung setelah membaca novel ini. Pahit betul perjalanan tokoh-tokohnya. Dan satu hal yang saya suka, cara penuturannya tidak menggunakan diksi yang ‘sok gagah’, bahkan cenderung ‘bercanda’, ‘mementahkan’ sesuatu yang sering diagungkan secara salah, dan kita menganggapnya sudah kaprah.. Ah, bisa saja Dewanto Amin Sadono. Hehehehe.
2025


*Yanusa Nugroho merupakan sastrawan yang lahir dan besar di Kota Surabaya, Jawa Timur. Kecintaannya pada dunia wayang sejak kecil telah mendorongnya menulis sejumlah karya sastra yang berakar pada kisah-kisah wayang, terutama tokoh dan alur ceritanya.
*Ulasan ini telah diunggah melalui Facebook Yanusa Nugroho.


Pemeriksa aksara: Mikha Kurniawati

Ayo pesan sekarang!