Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Dari Benci Buku jadi Cinta Buku

Seri Esai Aku+Buku edisi keempat ini ditulis oleh Salma Fitriyani
(Mahasiswi Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati, pemagang Bening Rua Pustaka periode 25B)

SEJAK KECIL, membaca buku bukanlah sesuatu yang menarik perhatian saya. Bagi saya saat itu, buku hanya akan membuat kantuk, apalagi jika isinya penuh tulisan tanpa gambar atau bahkan berbahasa Inggris. Saya lebih senang membaca buku cerita bergambar. Saya masih ingat, ketika ada bazar di sekolah dasar, saya membeli sebuah buku cerita tentang azab neraka. Sementara di sekolah sendiri, meski saya juga membeli buku paket pelajaran, yang pertama saya baca bukanlah buku paket itu, melainkan buku cerita tersebut. Bagi saya, cerita lebih menarik dibanding bacaan pelajaran yang kaku.

Selain buku cerita, ada satu jenis buku lain yang mampu menarik perhatian saya, yaitu buku geografi. Saat duduk di bangku Muallimin, saya sering sekali pergi ke perpustakaan untuk membaca buku geografi. Bahkan tak jarang saya meminjamnya agar bisa dibaca di kelas. Saya menikmati betul setiap halamannya, membaca huruf demi huruf, menatap gambar peta, bahkan berusaha menghafalkan ibu kota dari setiap negara yang tertulis di sana. Meskipun jurusan saya saat itu adalah keagamaan, justru geografi terasa lebih hidup dan menarik. Mungkin tanpa saya sadari, di sanalah bibit ketertarikan saya terhadap pengetahuan mulai tumbuh, meski saat itu saya tidak menganggapnya sebagai membaca buku yang sesungguhnya.

Pertemuan saya dengan buku menjadi semakin intens ketika saya memasuki bangku kuliah, tepatnya di jurusan Sastra Inggris. Jujur, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan masuk ke jurusan yang penuh dengan bacaan. Saya yang sejak kecil tidak begitu suka membaca, tiba-tiba harus berhadapan dengan begitu banyak buku, mulai dari karya sastra klasik, teks sejarah, hingga tulisan akademik. Awalnya, tentu saja, saya merasa kewalahan. Tugas-tugas kuliah membuat saya harus membaca berlembar-lembar teks, sesuatu yang dulu selalu saya hindari. Tidak jarang saya merasa jenuh, bahkan sampai pada titik saya berpikir bahwa saya tidak akan memilih peminatan sastra di masa mendatang.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari sesuatu. Membaca buku bukan lagi sekadar kewajiban untuk menyelesaikan tugas. Perlahan-lahan saya menemukan bahwa dari setiap bacaan, ada pengalaman baru, ada cerita, dan ada refleksi yang bisa saya ambil. Buku-buku yang saya baca meninggalkan bekas dalam cara saya memandang dunia. Mungkin inilah titik balik saya, yaitu menyadari bahwa buku punya kekuatan untuk membentuk cara kita berpikir.

Momen magang semakin mempertemukan saya dengan buku. Saya diberi dua buku untuk dibaca dan ditulis resensinya, yaitu satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi. Saya memulai dengan buku fiksi, sebuah kumpulan puisi cinta. Saya tidak menyangka akan begitu menyukainya. Membaca puisi-puisi di dalamnya membuat hati saya tersentuh. Ada rasa yang membekas, rasa yang sulit saya uraikan dengan kata-kata. Dari puisi-puisi itu, saya merasakan bahwa bahasa tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga media untuk menyentuh batin.

Setelah itu, saya membaca buku kedua, yaitu buku nonfiksi yang membahas kesalahan berbahasa. Anehnya, justru buku inilah yang terasa paling dekat dengan saya. Sejak lama, saya memang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan bahasa. Membaca buku ini membuat saya merasa seperti sedang bercermin. Setiap halaman, setiap cerita, seakan merefleksikan kebiasaan saya sendiri. Penulisnya seperti memiliki cara pandang yang sama dengan saya. Saya membaca halaman demi halaman, bab demi bab, dengan penuh antusias. Buku itu tidak lagi terasa sebagai bacaan tugas, tetapi seperti percakapan yang membuat saya belajar tanpa merasa digurui.

Dari pengalaman membaca kedua buku itu, saya menyadari bahwa buku bukan hanya soal isi, tetapi juga soal momen membacanya. Jika dulu saya membaca hanya untuk memenuhi tugas, kini saya membaca untuk menghilangkan rasa lelah. Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali saya membuka halaman buku. Jika sehari saja saya tidak membaca, saya merasa ada sesuatu yang hilang, hari saya terasa kosong. Seakan-akan ada bagian dari diri saya yang tertinggal.

Kini, saya yang dulu dikenal sebagai orang yang “antibuku”, justru jatuh cinta pada buku. Saya menyadari bahwa buku tidak harus selalu berat atau membosankan. Ia bisa menjadi teman, bisa menjadi cermin, bisa menjadi pelarian, bahkan bisa menjadi rumah tempat saya pulang ketika dunia terasa bising. Buku yang dulu saya anggap musuh dan dibaca untuk memenuhi kewajiban, kini menjadi alat dalam menemukan diri melalui kata-kata.

Ayo pesan sekarang!