Virus dan Kutu di Jendela Dunia
Rp70.000 Rp63.000
Masih dengan kesan enigmatik menyusuri esai kebahasaan, saya sangat berterima kasih kepada para redaktur (bahasa) media cetak sekaligus media daring yang memuat ataupun tidak memuat tulisan saya. Beberapa media biasanya memiliki rubrik tersendiri untuk esai kebahasaan. Rubrik ini seperti percikan; cenderung kecil dan cepat tapi jelas ada. Percobaan pertama mengirim esai bahasa selalu membuat saya gugup dan bersemangat—saya akan menjadi tamu yang dipersilakan masuk dan duduk atau tetap konsisten berkunjung meski selalu menunggu di depan pintu. Sebagai seorang amatir, saya merasa terhormat dekat-dekat ruang kebahasaan ini.
Berbahasa dengan ragam peristiwa dialaminya, melampaui fungsi secara baik dan benar. Bahkan dalam ketidakbaikan ataupun ketidakbenarannya, kita masih menemukan sisi keindahan bahasa. Bahasa terasa dinamis dalam proses akulturasinya, bertambah rasa dalam proses gado-gadonya, justru dekat melalui keasingannya, dan melankolis ketika bertambah penutur meninggalkannya.
————————-
Buku ini berisi tiga bagian dari 32 esai pilihan yang ditulis oleh Setyaningsih.
Virus dan Kutu di Jendela Dunia
Rp70.000 Rp63.000
Masih dengan kesan enigmatik menyusuri esai kebahasaan, saya sangat berterima kasih kepada para redaktur (bahasa) media cetak sekaligus media daring yang memuat ataupun tidak memuat tulisan saya. Beberapa media biasanya memiliki rubrik tersendiri untuk esai kebahasaan. Rubrik ini seperti percikan; cenderung kecil dan cepat tapi jelas ada. Percobaan pertama mengirim esai bahasa selalu membuat saya gugup dan bersemangat—saya akan menjadi tamu yang dipersilakan masuk dan duduk atau tetap konsisten berkunjung meski selalu menunggu di depan pintu. Sebagai seorang amatir, saya merasa terhormat dekat-dekat ruang kebahasaan ini.
Berbahasa dengan ragam peristiwa dialaminya, melampaui fungsi secara baik dan benar. Bahkan dalam ketidakbaikan ataupun ketidakbenarannya, kita masih menemukan sisi keindahan bahasa. Bahasa terasa dinamis dalam proses akulturasinya, bertambah rasa dalam proses gado-gadonya, justru dekat melalui keasingannya, dan melankolis ketika bertambah penutur meninggalkannya.
————————-
Buku ini berisi tiga bagian dari 32 esai pilihan yang ditulis oleh Setyaningsih.
- Detail Buku
- Tentang Penulis
- Review Buku
- Testimoni
Penulis Setyaningsih
Penerjemah -
Dimensi13 x 19 cm
Tebal170 halaman
CetakanCetakan Pertama, 2025
ISBN/QRCBN978-623-6650-55-4
Finishingsoft cover
Stok 9 pcs
Setyaningsih
Menulis esai, resensi, dan terkadang cerita anak. la menyukai es teh dan berjalan kaki. Buku kumpulan esai yang telah terbit: Melulu Buku (2016), Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016), dan dua jilid Kitab Cerita (2019 dan 2021). Terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2021 dan Balige Writers Festival 2024. Berkenalan boleh melalui IG @langitabjad.
Review Pembaca (0)
Belum ada review
Testimoni Pembeli (0)
Belum ada testimoni
Buku Terkait
-
Pesan via Whatsapp
Lali Sumber Ketiwasan
Rp90.000Rp85.500 -
Pesan via Whatsapp
Mencari yang Pintang, Menugur yang Terguncang
Rp60.000Rp48.500


