Sejarah Buku Anak: Awal Mula Kemunculannya
Sejarah buku anak-anak sebenarnya tergolong singkat jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih luas. Cerita anak-anak dan dongeng rakyat memang sudah ada sejak masa awal manusia mulai mengenal dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Namun, kehadiran buku anak sebagai media baca baru muncul ribuan tahun silam. Sementara itu, buku cetaknya baru ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu.
John Rowe Townsend, penulis buku dan artikel, dalam tulisannya di Books for Keeps berjudul The History of Children’s Books, No.1: How Children’s Books Began, mengatakan bahwa buku yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak ini baru muncul sekitar 250 tahun terakhir. Jika hal itu dibandingkan dengan usia keberadaan manusia di bumi, rentang waktu tersebut terasa begitu singkat, hampir seperti kilasan sesaat. Hal ini menunjukkan bahwa buku anak-anak termasuk dalam perkembangan yang tergolong baru dalam khazanah sastra.
Meski demikian, tradisi cerita untuk anak telah hidup jauh lebih lama daripada buku itu sendiri. Kisah-kisah rakyat, legenda, dan dongeng telah diwariskan secara lisan lintas generasi dan lintas budaya. William Makepeace Thackeray pernah menyinggung bahwa cerita-cerita yang dinikmati anak-anak pada masanya sesungguhnya telah diceritakan selama ribuan tahun. Mulai dari berbahasa Sanskerta, para pelaut Viking di utara, hingga masyarakat Arab di padang pasir. Artinya, sebelum hadir dalam bentuk buku, cerita anak sudah menjadi bagian dari kebudayaan manusia yang universal.
Buku Anak Awal: Etika dan Pendidikan
Dalam bentuk tertulis, buku anak-anak tidak langsung muncul sebagai bacaan hiburan. Pada masa awal, teks yang ditujukan kepada anak lebih berfungsi sebagai panduan perilaku dan pendidikan moral. Di Inggris abad pertengahan, misalnya, terdapat karya seperti The Babees Book karya Frederick James Furnivall dan Stans Puer ad Mensam karya John Lydgate yang berisi aturan sopan santun bagi anak-anak khususnya dari kalangan bangsawan. Isi buku-buku ini menekankan tata krama sehari-hari, mulai dari cara duduk, berbicara, hingga etika makan di hadapan orang yang lebih tinggi kedudukannya.
Selain itu, terdapat pula teks-teks seperti The Lytylle Childrenes Lytil Boke yang ditulis lebih dari 500 tahun lalu oleh seorang penulis yang tidak diketahui namanya. Buku tersebut berisi tentang ajaran etika serta tata krama di meja makan. Serta ada pula berbagai manuskrip pendidikan lain yang mengajarkan nilai-nilai dasar kehidupan seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, serta kepatuhan. Anak-anak diarahkan untuk bangun pagi, belajar dengan tekun, menjaga perilaku, dan menjauhi kebiasaan buruk. Dalam konteks ini, buku anak bukanlah sarana hiburan. Buku anak menjadi alat pembentukan karakter.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran dunia klasik. Filsuf seperti Plato memandang anak sebagai “orang dewasa kecil” yang perlu dilatih untuk menjalani kehidupan dewasa. Walaupun, ia sempat mengusulkan gagasan bahwa pembelajaran sebaiknya dibuat menyenangkan seperti permainan, secara umum pendidikan tetap bersifat ketat dan terarah. Tidak mengherankan jika karya-karya sastra klasik, termasuk fabel yang dikaitkan dengan Aesop, pada awalnya tidak secara khusus ditujukan bagi anak-anak.
Di Inggris, perkembangan pendidikan anak juga dipengaruhi oleh perubahan sosial dan bahasa. Pada masa Alfred the Great pada abad ke-9, muncul upaya untuk mengajarkan anak-anak dalam bahasa Inggris, bukan hanya Latin. Meski demikian, kemampuan membaca masih terbatas pada kalangan tertentu dan buku tetap menjadi barang langka serta mahal karena ditulis tangan.
Revolusi Percetakan dan Lahirnya Buku Anak Modern
Perubahan besar dalam sejarah buku anak terjadi setelah ditemukannya teknologi percetakan. William Caxton yang memperkenalkan seni cetak ke Inggris pada akhir abad ke-15 membuka jalan bagi produksi buku secara lebih luas. Berbagai karya populer seperti Aesop’s Fables, Reynard the Fox, dan kisah-kisah kepahlawanan mulai tersebar. Namun, buku-buku tersebut tetap ditujukan untuk pembaca umum, bukan khusus anak-anak.
Pada masa ini, bahkan terdapat anggapan bahwa cerita fiksi kurang baik bagi anak. Penulis atau penyair dari Inggris seperti Hugh Rhodes memperingatkan agar anak-anak dijauhkan dari “dongeng palsu” dan cerita khayalan yang dianggap dapat merusak moral. Akibatnya, bacaan anak didominasi oleh buku pelajaran, teks keagamaan, serta nasihat moral yang cenderung kaku dan tidak menghibur.
Perubahan cara pandang mulai terlihat pada akhir abad ke-17. Pemikiran John Locke membawa pengaruh besar dengan gagasannya bahwa anak-anak bukanlah makhluk yang harus dipaksa. Anak-anak dapat belajar melalui cara yang menyenangkan. Ia mendorong penggunaan buku yang “mudah dan menyenangkan” agar anak tertarik membaca.
Gagasan ini kemudian diwujudkan secara nyata oleh John Newbery, penerbit Inggris yang dianggap sebagai pelopor buku anak modern. Pada tahun 1744, Newbery menerbitkan A Little Pretty Pocket-Book, yang menggabungkan unsur hiburan dan pendidikan. Buku ini berisi puisi, permainan, dan ilustrasi sederhana yang menarik bagi anak-anak.
Newbery tidak hanya menciptakan buku. Ia juga mengembangkan strategi pemasaran yang inovatif. Ia memahami bahwa anak-anak adalah pembaca yang perlu didekati dengan cara berbeda. Karya seperti Little Goody Two-Shoes (penulis masih belum diketahui secara pasti, tetapi Oliver Goldsmith umumnya dianggap sebagai kandidat yang paling mungkin), menjadi buku populer dan menandai awal lahirnya industri buku anak sebagai bidang tersendiri dalam dunia penerbitan.
Meski demikian, kualitas sastra buku-buku awal ini masih sederhana. Di sisi lain, karya-karya besar seperti The Pilgrim’s Progress karya John Bunyan, Robinson Crusoe karya Daniel Defoe, dan Gulliver’s Travels karya Jonathan Swift justru memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bacaan anak, meskipun buku tersebut awalnya ditujukan untuk orang dewasa. Tema petualangan, perjalanan, dan dunia imajinatif dalam karya-karya tersebut kemudian menjadi fondasi penting dalam sastra anak.
Memasuki abad ke-18 hingga awal abad ke-19, buku anak masih sering dipandang sebagai sarana untuk menanamkan moral dan pengetahuan. Namun, perlahan muncul kesadaran bahwa anak-anak juga membutuhkan bacaan yang menyenangkan, imajinatif, dan sesuai dengan dunia mereka sendiri. Perubahan inilah yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya sastra anak modern yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menghibur dan menginspirasi.
Sejarah Buku Anak di Indonesia
Jika menengok ke Indonesia, sejarah buku anak tidak bisa dilepaskan dari akar tradisi lisan yang telah hidup jauh sebelum hadirnya buku cetak. Cerita rakyat, legenda, fabel, hingga kisah kepahlawanan menjadi sarana utama dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.
Kisah seperti Malin Kundang, Timun Mas hingga berbagai cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata telah lama menjadi bagian dari pengalaman budaya anak-anak Indonesia. Cerita-cerita ini disampaikan melalui dongeng orang tua, pertunjukan seni, hingga media tradisional seperti wayang.
Dalam perkembangan selanjutnya, cerita-cerita rakyat ini mulai dihimpun dan dituliskan kembali oleh para peneliti dan sastrawan. Salah satu tokoh penting adalah R. M. Tirto Adhi Soerjo yang turut mendorong tradisi literasi melalui tulisan-tulisan awal di Hindia Belanda, meskipun tidak secara khusus menulis buku anak. Upaya pendokumentasian cerita rakyat juga dilakukan oleh para peneliti Belanda dan Indonesia yang kemudian menjadi dasar bagi buku anak berbasis folklor.
Masa Kolonial: Lahirnya Bacaan Anak Cetak
Perkembangan buku anak dalam bentuk cetak mulai terlihat pada masa kolonial Belanda. Kehadiran lembaga seperti Balai Pustaka (berawal dari Commissie voor de Volkslectuur pada 1908) menjadi titik penting dalam sejarah literasi di Indonesia.
Balai Pustaka menerbitkan berbagai bacaan yang dapat diakses oleh masyarakat luas, termasuk anak-anak dan remaja. Beberapa karya yang populer dan memiliki pengaruh besar, meskipun tidak selalu ditujukan khusus untuk anak-anak, antara lain Siti Nurbaya karya Marah Rusli serta Salah Asuhan karya Abdul Muis. Karya-karya ini sering dibaca oleh kalangan muda dan turut membentuk budaya membaca generasi awal Indonesia.
Selain itu, Balai Pustaka juga menerbitkan buku cerita rakyat, buku pengetahuan dasar, serta bacaan moral yang lebih dekat dengan dunia anak-anak, meskipun dokumentasi judul-judul spesifik untuk anak pada masa ini masih terbatas.
Masa Awal Kemerdekaan: Identitas dan Pendidikan
Setelah Indonesia merdeka, buku anak mulai mengalami perubahan arah. Fokusnya tidak lagi sekadar moralitas atau kontrol. Ada pembentukan identitas nasional dan pendidikan karakter.
Pada periode ini mulai muncul penulis-penulis yang secara lebih sadar menulis untuk anak-anak. Salah satunya adalah Sutan Takdir Alisjahbana yang, meskipun lebih dikenal melalui karya dewasa, turut berkontribusi dalam pengembangan bahasa dan sastra yang kemudian berpengaruh pada bacaan anak.
Cerita anak mulai banyak mengangkat tema nasionalisme, kehidupan sehari-hari, dan nilai-nilai sosial. Buku pelajaran dan bacaan pendamping sekolah juga berkembang pesat sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.
Era Orde Lama hingga Orde Baru: Kontrol dan Popularisasi
Pada era ini, negara masih memegang kendali kuat terhadap isi bacaan. Di sisi lain, mulai berkembang bacaan anak yang lebih populer dan menghibur.
Salah satu tonggak penting adalah hadirnya majalah anak Bobo yang terbit sejak 1973. Majalah ini menghadirkan berbagai rubrik seperti cerita bergambar, dongeng, serta pengetahuan umum yang dikemas secara ringan.
Selain itu, muncul pula penulis cerita anak yang dikenal luas, seperti Arswendo Atmowiloto yang pernah terlibat dalam dunia media anak, serta Teguh Esha yang ikut meramaikan dunia literasi populer. Kehadiran mereka membantu menjembatani dunia anak dengan bacaan yang lebih kontekstual dan menarik.
Era Modern: Industri dan Keragaman Buku Anak
Memasuki era modern, perkembangan buku anak di Indonesia semakin pesat. Banyak penulis yang secara khusus menekuni sastra anak.
Salah satu nama yang menonjol adalah Riawani Elyta yang dikenal melalui karya-karya inspiratif untuk anak dan remaja. Di bidang cerita anak yang lebih ringan dan populer, nama Fifi Kurniawati (Bunda Fifi) dikenal melalui buku-buku dongeng dan parenting yang dekat dengan dunia anak.
Selain penulis, ilustrator juga memainkan peran penting dalam perkembangan buku anak modern. Buku bergambar kini menjadi medium utama yang menggabungkan visual dan teks untuk meningkatkan minat baca anak.
Perjalanan sejarah buku anak menunjukkan sebuah perkembangan yang tidak berlangsung secara instan. Ada proses panjang yang dipengaruhi oleh perubahan budaya, pemikiran, dan kebutuhan zaman. Dari tradisi lisan yang menjadi akar awal, buku anak kemudian hadir dalam bentuk tulisan yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan pembentukan perilaku.
Seiring berkembangnya teknologi percetakan, buku anak mulai diproduksi lebih luas, meskipun masih didominasi oleh nilai-nilai didaktis. Perubahan cara pandang terhadap anak, terutama yang menempatkan mereka sebagai individu yang memiliki dunia dan kebutuhan tersendiri, perlahan menggeser fungsi buku anak menjadi lebih seimbang antara pendidikan dan hiburan.
Di Indonesia, perkembangan ini tampak dari peralihan cerita rakyat ke buku cetak pada masa kolonial, peran penerbit seperti Balai Pustaka, hingga munculnya berbagai karya dan media bacaan anak pada masa setelah kemerdekaan dan era modern. Keseluruhan perjalanan ini memperlihatkan bahwa buku anak tidak hanya berkembang mengikuti zaman, tetapi juga menjadi cerminan nilai, budaya, serta cara masyarakat memandang dunia anak.
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.