Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Pramotheus: Autobiografi di antara Fiksi dan Sejarah-Mitologi

Ditulis oleh Polanco S. Achri*

ADA suatu pandangan yang unik ketika saya masuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia; dan saya kira, pandangan yang demikian itu baik juga adanya. Pandangan itu adalah pandangan bahwa selumrahnya anak Sastra Indonesia semestinya membaca karya-karya dari Pramoedya Ananta Toer, setidaknya sejudul. Dan, sebab itulah, di kurun awal kuliah, saya membaca novel Bumi Manusia; dan novel itu habis dalam lima hari sebab sehari saya menargetkan 100 halaman—yang agaknya susah untuk saya ulang kembali di kurun yang begini ini meskipun tetaplah bisa diupaya. Dan, sebab satu-dua hal, seperti fokus saya bukanlah di prosa-fiksi, saya tidak genap untuk melanjutkan Tetralogi Buru itu. Namun, jelas, Bumi Manusia begitu bergema; dan bisa pula saya rasai efek yang kemudian, baik pada penulisan maupun pembacaan. Ah, betapa saya merindukan citra Annelies itu…

Di akhir tahun 2018, saya kembali berhadapan dengan karya Pram: Mangir. Saat itu, saya mesti menghadapi mata kuliah pentas drama—yang mesti dikerja oleh satu angkatan kuliah sebagai suatu besar hajatan bersama. Tentu, ada perubahan serta penyesuaian untuk pementasan, tetapi di sanalah keasyikannya. Saat itu, saya diminta atau bahkan mungkin bisa dikata dipaksa untuk jadi bagian tim naskah sehingga turut melakukan riset dan pengembangan yang sesuai dari naskah. Dan saya tetap diminta menjadi aktor pula, diminta menjadi tokoh dalam pementasan tersebut. Dari sana, di samping kenyataan bahwa saya lahir dan tumbuh di Yogyakarta, naskah Mangir begitu menumbuh dan membekas. Bahkan, di awal tahun 2019, juga di akhir tahunnya, sebab begitu mengendap, saya menulis pula puisi-puisi tentang kurun awal sejarah Mataram Islam itu.

Di kurun tahun yang kemudian, di tahun 2019-2020, saya membaca Calon Arang dan Suatu Peristiwa di Banten Selatan. Dan, dalam beberapa catatan, esai atau teks kritik, dua buah novel itu tak genap masuk bagus timbangan. Ambillah Calon Arang yang dikritik sebab seperti tulis-ulang dari kisah aslinya dan tanpa memberi tawaran kritis lain, bahkan pemosisian Calon Arang pun berada dalam stereotipe yang berkembang. Atau, Suatu Peristiwa di Banten Selatan yang dikata begitu propagandis—dan gaya tulisnya yang tidaklah optimal. Meskipun demikian, saya termasuk kepada orang yang menyukai dua novel itu. Bahkan, gaya penulisan pada novel Suatu Peristiwa di Banten Selatan masihlah membekas dan menjadi salah satu corak daripada gaya penulisan saya di bentuk prosa, misalnya.

Di kurun yang sama, saya juga membaca Arok-Dedes dan saya melakukan pembacaan dengan semacam tempo cepat dan intens, seperti ketika membaca Bumi Manusia. Dan, sebab membaca novel tersebut, saya punya kesenangan berkata: seri Tetralogi ini meski ada satu naskah yang hilang-dihilangkan dan belum genap membaca novel Arus Balik, punya ruang sendiri di dalam diri saya. Novel Arok-Dedes selain soal sejarah, tawaran pandangan kritis, dan penyampaian yang khas, punya gema tersendiri bagi saya: membuktikan sebuah pepatah lama yang amatlah karib saya dengar ketika kanak, yaitu nabok nyilih tangan (atau: memukul dengan meminjam tangan). Pepatah itu, baik oleh guru maupun orangtua, sering muncul ketika saya iseng melakukan kenakalan dengan mengadu dua kawan saya. Ya, saya pernah dipanggil ke kantor guru ketika kelas enam sekolah dasar, hanya untuk dinasihati agar tak melakukan adu domba semacam itu. Ya: dua teman saya, itu waktu, berkelahi dalam arti yang sungguhan. Ah, apa saya ini memang sejenis Arok?

Dan, di tahun 2020, saya membaca wawancara Pram dengan seorang Belanda.

Dan, saya sejak itu mulai membayangkan bahwa Pram seperti Prometheus. Bahkan, saya kadang membayang ia adalah Pramotheus. Ia membawa nyala panas api, merebut dari para dewa yang tak mencinta, bagi manusia Indonesia, tapi malah melimpahinya dengan setumpuk tuduhan—meski tentu ada kesilapan dan catatan-catatan pada diri dan kerjanya sebagai pengarang pula.

Ya, saya pinjam buku itu dari perpustakaan fakultas sebelum kelulusan sarjana saya dan baru saya kembalikan selepas saya lulus dari sana.

Saat membicarakan Pram, saya juga teringat kepada salah seorang kawan saya, salah seorang kawan yang telah membaca Pram dengan lebih gandrung—bahkan ketika dia masih bersekolah di bangku SMA. Kawan tersebut pula yang mengusulkan naskah Mangir kepada angkatan agar dipentaskan. Ah, ya, kawan saya itulah yang sering memberi lintasan-lintasan unik kepada saya berkait buku-buku: mengenalkan saya pada sekian nama-nama pengarang Indonesia dan juga apa-apa yang menyertainya, dan sial-beruntungnya jadi sejenis pijakan penciptaan bagi saya yang penyair-pengarang ini. Dan, pernah suatu waktu, ia bercerita tentang buku Hoakuiau di Indonesia; dan, itu kali, kalau tak salah ingat, sambil menikmati kopi, saya hanya menyimak sebab belum membaca. Namun, kemudian, saat menyelesaikan seri komik Adolf-nya Osamu Tezuka, saya menemu sejenis kesejajaran dengan apa yang dia obrolan itu kali. Dan barangkali, bila tak berjumpa dengannya, saya tak genap mengenal Pram dan tertarik membacanya. Betapa, begitu gandrung dia saat bicara Pram dan membuat saya ingin membaca pula. Ya, barangkali, dia memang sejenis korek—bagi saya yang punya sejenis cita-cita tolol jadi dewa api.

Ah, ya, di sasi Ruwah begini, yang disusul dengan sasi Pasa dan juga Bada Riyaya, saya cukup betah terbawa kembali kepada naskah Mangir itu. Setelah membaca naskah itu dengan lebih-lebih cermat dan menimbang kronik, saya jadi memiliki pembayangan yang lain tentang Bada, tentang lebaran setelah puasa. Adegan tragis yang samar dan buram itu, baik di dalam sejarah-mitologi maupun naskah yang ditulis oleh Pram, terjadi di sasi Sawal, terjadi di sasi Bada. Dan, dari sana, saya jadi bertanya-tanya: apa Pambayun menyampaikan rahasianya di sasi Ruwah; apa Pambayun dan Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya bisa berpuasa dengan tenang; dan bila mengetahui akhirnya akan demikian, apa Ki Ageng Mangir dan Pambayun akan tetap sowan dan datang kepada Panembahan Senopati ing Ngalaga di kala sasi Riyaya—untuk sungkeman? Oh, Kekasihku, yang serupa Annelies, apa di suatu Sawal aku sungguh bisa datang menghadap kepada ayahmu yang juga seorang bebal dan berkumis tebal?

(Yogyakarta, Ruwah 1446—Ruwah 1447)


*Polanco S. Achri lahir dan tinggal di Yogyakarta. Ia menulis puisi, naskah drama, dan esai-esai tentang seni dan sastra. Selain menulis, kadang, ia juga jadi sutradara teater dan produser film dokumenter, juga kurator seni rupa. Ia bisa dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: @polanco_achri.


Pemeriksa aksara: Mikha

Ayo pesan sekarang!