Ditulis oleh Linggar Putri P.
SEBAGAI seseorang yang masih sangat muda, menginjakkan kaki di negeri asing atau menjelajahi dunia adalah suatu impian besar bagi saya. Ingin rasanya mengungkap sisi tersembunyi dari setiap negara. Memang saat ini impian tersebut belum terwujud, tetapi ada satu cara untuk mewujudkannya: buku. Sebuah benda bernama buku telah membuka mata saya untuk melihat apa saja yang telah terjadi di dunia ini.
Keingintahuan itu dimulai ketika saya berada di bangku taman kanak-kanak. Di sela kesibukan bermain, ketika senja tiba, kata demi kata telah saya kenal melalui buku yang menyajikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Sembari menjelajahi dunia yang ada dalam isinya, imajinasi saya pun turut berkelana. Muncul pemikiran khas anak-anak yang membayangkan betapa sulitnya kehidupan di tanah Arab pada masa lampau atau betapa banyak orang yang bekerja keras di bawah kendali Fir’aun.
Kebiasaan membaca sambil mengimajinasikan isinya masih menjadi suatu hal yang saya sukai hingga sekarang. Dari situ, saya mulai menyadari makna “buku adalah jendela dunia”. Tanpa harus bersusah payah berkeliling, buku menjadi “kendaraan” yang mengantar saya untuk menelusuri waktu dan perspektif dari penjuru negeri.
Misalnya, ketika berada di bangku sekolah dasar, saya membaca buku anak karya Enid Blyton berjudul Si Gadis Penakut dan Cerita-Cerita Lain. Tanpa harus merasakan dinginnya Eropa, buku tersebut mampu membuat saya mengerti bagaimana keseharian anak-anak di Inggris pada tahun 1900-an.
Beberapa waktu kemudian, saya merasa tertantang untuk membaca Alfred Hithcock & Trio Detektif. Halaman demi halaman berusaha saya pahami, karena bagi anak berusia sebelas tahun seperti saya kala itu, novel detektif merupakan bacaan yang cukup berat. Usaha saya dalam mencerna isinya tidaklah sia-sia. Dari Trio Detektif, saya jadi mengagumi kehidupan tiga remaja di Amerika Serikat tahun 1960-an yang berpetualang memecahkan kasus unik.
Bahkan, saat itu saya sempat bertanya-tanya, “Kok, bisa ada remaja sepintar itu?” Dari novel itu pula, saya memperoleh pengetahuan baru tentang bagaimana mereka memanggil orang yang lebih tua dengan julukan sir atau ma’am.
Membaca buku-buku lama membuat saya seolah turut bergembira bersama orang-orang dari masa lalu. Hal itu yang membuat saya semakin jatuh cinta pada buku, terutama buku lama. Ada sensasi nostalgia tersendiri meskipun saya tidak hidup di zaman itu. Dari buku itu, ada rasa tenang dan kesan sederhana dalam hidup sebelum internet mulai menjamah.
Menurut saya, hal itu menjadi pengalaman membaca yang berharga. Selain itu, banyak hal yang telah saya dapat dari membaca buku. Buku tidak hanya menjadi alat untuk melintasi batas-batas geografis atau menjelajahi dunia. Ternyata, buku juga melatih saya untuk melibatkan pancaindra imajiner melalui penggambaran tempat dan suasana.
Misalnya, ketika saya berada di kelas delapan, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas untuk menulis ringkasan buku. Saya membuat sebuah ringkasan dari buku berjudul Indahnya Langit Kanazawa: Musim Dingin yang mengisahkan pengalaman hidup si penulis ketika tinggal di Jepang. Setelah membacanya, saya tersenyum, merasakan suatu kenikmatan tersendiri ketika pancaindra saya turut bereaksi saat membacanya.
Bagaimana tidak? Saya bisa merasakan dinginnya salju Kanazawa yang meleleh di tangan, saya juga seolah mendengar teriakan gembira anak-anak yang belajar main ski. Dari sini, saya menganggap buku adalah “paspor gratis” untuk menikmati pengalaman di negeri yang belum saya datangi.
Setelah penugasan itu berakhir, saya mulai merasa ingin membaca sesuatu yang lebih berarti. Di usia remaja, masa ketika saya menyadari sudut pandang saya belum seluas orang-orang dewasa, muncul suatu keinginan untuk lebih memahami kompleksitas kondisi manusia di dunia ini. Saya pun meminjam sebuah buku dari seorang teman, isinya menyajikan kisah orang yang mencari nafkah di pinggir jalan.
Saya teringat di salah satu bab, penulisnya menceritakan kehidupan para waria yang tengah mengamen. Tak lupa pula dijelaskan bagaimana perasaan dan harapan mereka. Sejak saat itu, stereotip di benak saya soal waria adalah sosok yang kurang baik pun berubah. Saya menyadari bahwa mereka juga manusia biasa, bukan sosok yang buruk. Mereka hanya manusia yang juga kebingungan, kesulitan, dan berjuang bertahan di tengah tamparan kehidupan.
Saya menyadari, itulah yang disebut dengan eksplorasi empati. Berkat satu buku, saya yang berhasil menjelajahi isi dunia dari sudut pandang mereka yang kadang tersisihkan.
Usaha saya untuk mengeksplorasi buku-buku tentang kehidupan belum usai. Suatu ketika, saya mampir ke sebuah toko buku di kota. Di sana, saya membeli satu novel berjudul Azimah yang mengisahkan pahitnya kehidupan seorang gadis kecil di Suriah. Empati yang lebih besar muncul dalam diri saya ketika membaca bagaimana sosok Azimah harus bertahan hidup sendiri di tengah perang tanpa pelukan kedua orang tuanya.
Saya melihat sudut pandang anak kecil yang menyaksikan banyak kematian walau dia sendiri belum memahami makna kematian yang sesungguhnya. Tadinya, saya berpikir setiap anak pasti hidup bahagia, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit dan menyakitkan.
Perspektif baru terus bermunculan di otak saya berkat buku. Saya dapat melihat kondisi orang dengan latar belakang yang berbeda meskipun tidak bertemu secara langsung. Buku ternyata menjadi satu benda yang mengajarkan saya soal empati, membawa saya menyelami unsur kemanusiaan yang lebih luas.
Karena pengalaman menakjubkan tadi, saya semakin jatuh cinta pada buku. Di bangku perkuliahan, saya cukup banyak membaca buku. Apalagi, saya adalah mahasiswa Sastra Inggris yang dituntut banyak membaca demi bisa memperoleh banyak isu sosial dan membuka perspektif baru.
Salah satu novel yang kami pelajari adalah Oliver Twist karya Charles Dickens yang membuat saya mendalami fakta pahit tentang perbedaan kelas sosial. Selain itu, sebuah novel gotik terkenal berjudul Frankenstein menyadarkan saya bahwa manusia bisa menjadi monster karena sifat kejinya terhadap makhluk tak berdosa.
Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa buku telah menjadi alat untuk menjelajahi dunia hingga saat ini. Saya pun selalu mendapat oleh-oleh baru berupa pencerahan sudut pandang setelah mendalami tiap halaman buku. Berkat buku, imajinasi saya melanglang tanpa batas meski raga saya ada di sini.
Pemeriksa aksara: Mikha