DI TENGAH tujuan perpustakaan modern untuk mendigitalkan koleksi, banyak buku fisik lama yang dianggap tidak lagi bernilai dan hampir dibuang begitu saja. Kondisi ini kemudian menjadi salah satu latar belakang penting munculnya proyek Book Traces, yang berupaya menyoroti nilai tersembunyi dari buku-buku lama. Michelle Smith (Associate Professor in Literary Studies Monash University) mencatat bahwa perpustakaan setiap hari harus memilah buku yang akan dipertahankan atau dibuang. Sering kali, buku-buku yang masuk dalam kategori tersebut buku dari abad ke-19 yang tampak “biasa” dan akan berakhir di tempat amal atau tong sampah karena dianggap kurang penting setelah judulnya tersedia secara digital.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada buku-buku lama. Ketika seseorang melihat rak toko amal yang hampir penuh dengan salinan terlantar dari novel populer, seperti The Da Vinci Code karya Dan Brown atau Fifty Shades of Grey karya E. L. James, terlihat jelas bahwa satu salinan buku sering dianggap memiliki nilai yang sangat kecil. Setiap hari perpustakaan juga harus memutuskan apakah sebuah judul masih perlu dipertahankan dalam koleksi mereka. Selama proses pemilahan koleksi, buku-buku yang sudah tua, jarang dipinjam, atau rusak biasanya dikeluarkan dari sirkulasi dan sering kali berakhir dibuang. Namun, keputusan tersebut berpotensi membuat kita kehilangan jejak sejarah unik yang tersimpan di dalam buku fisik itu sendiri. Sesuatu yang tidak bisa digambarkan melalui versi digital.
Di sisi lain, memang ada sebagian kecil buku yang jelas dilestarikan. Kolektor buku dan perpustakaan besar biasanya memastikan bahwa buku-buku langka, seperti First Folio karya Shakespeare, yang nilainya bisa mencapai jutaan dolar tetap terjaga. Namun, bagaimana dengan buku-buku yang berada di antara dua kutub tersebut: tidak terlalu langka, seperti Shakespeare, tetapi juga bukan buku populer modern yang dicetak massal?
Menanggapi hal tersebut, proyek Book Traces muncul sebagai respons terhadap pernyataan bahwa sementara buku-buku lama dipandang sama karena judulnya yang identik, setiap salinan sering menyimpan cerita unik tentang kehidupan pembaca masa lalu yang tidak tercatat di katalog perpustakaan. Maka dari itu, sebelum perpustakaan membuang buku-buku yang tampak biasa, muncul pernyataan terkait, apakah setiap buku layak disimpan hanya karena teksnya? Atau karena jejak yang ditinggalkan pembaca yang memperkaya makna sejarahnya?
Pertanyaan itulah yang menjadi inti dari Book Traces. Proyek yang menelusuri bagaimana buku-buku biasa menyimpan sejarah membaca yang tersembunyi, sekaligus menunjukkan bahwa nilai buku tidak hanya terletak pada teksnya, tetapi juga pada jejak pembaca yang melekat padanya.
Apa Itu Book Traces dan Mengapa Itu Penting?
Book Traces adalah proyek besar yang digagas untuk menemukan dan mendokumentasikan jejak-jejak unik yang ditinggalkan oleh pembaca di buku-buku yang masih berada di rak perpustakaan, terutama yang diterbitkan sebelum 1923. Proyek tersebut awalnya dikembangkan di perpustakaan Universitas Virginia dan dipimpin oleh Andrew M. Stauffer sebagai bagian dari NINES (Networked Infrastructure for Nineteenth-Century Electronic Scholarship).
Proyek tersebut mengajak masyarakat untuk mengunggah foto buku-buku perpustakaan yang diterbitkan dari tahun 1820 hingga 1923 dan memiliki jejak pembaca, seperti catatan tepi halaman, coretan tangan, gambar, atau sisipan benda. Batas tahun tersebut dipilih karena banyak buku setelah periode tersebut masih berada di bawah perlindungan hak cipta sehingga tidak dapat didigitalkan secara bebas.
Jejak-jejak tersebut merupakan arsip tersembunyi yang tidak tampak dalam katalog digital perpustakaan, tetapi mampu memberikan gambaran kehidupan pembaca masa lalu, misalnya, dari komentar pribadi dan refleksi emosional hingga bukti praktik membaca sosial dan budaya. Sebuah salinan buku adalah teks dan media yang menyimpan hubungan manusia dengan bacaan mereka.
Book Traces Menyingkap Sejarah Membaca yang Tak Tercatat
Menurut dokumentasi Book Traces, tim proyek menemukan berbagai bentuk jejak pembaca yang mengejutkan, seperti catatan tangan, bunga yang ditekan di antarhalaman, gambar sketsa, sampai benda fisik lain yang disimpan dalam buku. Jejak-jejak tersebut dijadikan sebagai hiasan, sekaligus bukti nyata terkait cara pembaca pada masa itu berinteraksi dengan teks dan dunia sekitar mereka.
Beberapa contoh yang ditemukan sangat menarik. Sebuah salinan Alice’s Adventures in Wonderland milik seorang anak di Perpustakaan Universitas Virginia menyimpan catatan tulus pemiliknya tentang burung jay biru. Buku lain, The Letters of Hannah More to Zachary Macauley dari tahun 1860, ditemukan dengan jarum dan benang yang diselipkan di halaman depan. Ada pula salinan The Complete Works of Walter Scott yang berisi pakaian boneka kertas milik seorang gadis yang tampaknya menyelipkannya ketika merasa bosan membaca.
Selain itu, para peneliti Book Traces juga menemukan sketsa wanita menyusui di sebuah buku, tiket-tiket lama yang bercampur dengan teks spiritual, atau bahkan coretan dogma pribadi pembaca tentang topik yang tertulis. Semua itu menunjukkan bahwa buku bukan hanya media narasi, tetapi medium budaya yang aktif dan personal.
Jejak-jejak tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan membaca benar-benar terjalin dengan kehidupan sehari-hari pada abad ke-19. Jarum yang ditusukkan melalui sampul buku, misalnya, mengingatkan kita bahwa membaca sering dilakukan di sela aktivitas rumah tangga, terutama oleh perempuan yang memiliki waktu luang terbatas.
Banyak peneliti sejarah budaya membaca yang telah lama tertarik pada praktik anotasi dan markah pada buku di masa lalu. Kehadiran proyek Book Traces tersebut memperluas cakupan dengan memusatkan perhatian pada koleksi umum yang tersebar, bukan hanya buku-buku langka atau koleksi khusus. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa buku yang dianggap “biasa” pun memiliki nilai sejarah yang signifikan ketika dilihat melalui lensa jejak pembacanya.
Selain Michelle Smith, banyak akademisi lain memandang Book Traces sebagai kontribusi penting terhadap sejarah buku dan kebudayaan membaca. Dalam ulasan akademik terhadap buku Andrew M. Stauffer berjudul Book Traces: Nineteenth-Century Readers and the Future of the Library, kritikus Alison Reynolds menekankan bahwa karya tersebut merupakan seruan bagi para sarjana humaniora untuk mendorong perpustakaan menyelamatkan buku-buku abad ke-19 dari ancaman penghapusan.
Reynolds juga mencatat bahwa dalam banyak perpustakaan akademik, sekitar 10% buku sebelum 1923 memiliki anotasi dan markah yang dibuat oleh pembacanya, terutama dalam buku puisi yang kemudian menjadi sumber potensial untuk penelitian budaya membaca. Menurut Reynolds, markah tersebut memungkinkan peneliti untuk menjelajahi berbagai narasi personal yang tidak mungkin ditemukan hanya melalui teks digital standar.
Jejak tulisan pembaca juga sering mengandung tanggapan terhadap isu sosial dan politik pada zamannya. Seorang pembaca karya Vernon Lee, Louis Norbert: A Two-Fold Romance, misalnya, menuliskan kritik tajam terhadap penggambaran karakter Amerika dalam buku tersebut. Sementara itu, salinan Poems and Ballads karya Henry Wadsworth Longfellow pernah diubah secara menyeluruh oleh seorang pembaca bernama Jane Chapman Slaughter yang menuliskan refleksi emosional tentang kekasihnya yang telah pergi.
Bahkan, sebuah buku sejarah, The Lives of the Popes karya Leopold von Ranke, pernah dijarah selama Perang Saudara Amerika oleh seorang tentara bernama John G. Morrison yang kemudian menuliskan catatan tentang peristiwa itu di dalam buku tersebut.
Dengan kata lain, nilai Book Traces bukan hanya terletak pada konservasi fisik buku, tetapi juga pada pembukaan wawasan baru tentang kebiasaan membaca dan perspektif sosial yang tidak tergantikan oleh digitalisasi biasa.
Mengapa Jejak Pembaca Tidak Boleh Diabaikan?
Proyek Book Traces sejatinya merupakan bentuk perlawanan terhadap kultur yang melihat buku hanya dari isinya yang statis. Jejak pembaca memberikan nilai tambah historis dan manusiawi yang tidak dapat digambarkan dalam salinan digital umum atau dari buku lain yang tampaknya identik.
Jejak-jejak tersebut juga menjadi sumber unik tentang kehidupan pembaca masa lalu mengenai cara mereka memahami teks, hubungan sosial mereka yang terjalin melalui bacaan, serta cara dunia mereka tercermin dalam catatan marginalia.
Apakah setiap buku abad ke-19 perlu dilestarikan? Mungkin tidak semuanya. Mungkin hanya untuk setiap buku yang memiliki jejak menarik dari masa lalu. Namun, kita tidak bisa mengabaikan bahwa ada banyak judul lain yang hampir tidak pernah disentuh di rak perpustakaan.
Namun, melalui proyek Book Traces tersebut terdapat pesan pengingat yang penting bahwa sebelum mempertimbangkan penghancuran sebuah buku, kita seharusnya membuka dan melihatnya terlebih dahulu sebab buku cetak sering kali menyimpan cerita yang tidak bisa ditemukan dalam satu salinan digital di Google Books.
Setiap buku mungkin hanya ada satu salinan saja di antara ribuan lainnya, tetapi di dalamnya bisa tersimpan kisah kehidupan seseorang. Kisah tersebut tidak selalu dapat ditemukan di tempat lain.
Sumber referensi:
https://theconversation.com/profiles/michelle-smith-128
https://booktraces.library.virginia.edu/about-2/
https://www.pw.org/content/secrets_hidden_in_the_stacks
https://library.virginia.edu/node/1149
https://journals.acrl.org/index.php/rbm/pages/view/reviews_book_traces
Pemeriksa aksara: Mikha