Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Apakah AI Sudah Bisa Menggantikan Sastrawan dalam Menulis Novel?

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. AI tidak lagi terbatas pada laboratorium riset atau industri teknologi tinggi. Sistem ini telah digunakan dalam berbagai bidang seperti layanan pelanggan, analisis data, desain grafis, produksi video, hingga penyusunan laporan profesional. Transformasi digital yang dipercepat AI bahkan sering disebut sebagai fase baru revolusi industri. Mesin kini tidak hanya menggantikan tenaga fisik manusia, tetapi juga mulai memasuki wilayah kognitif dan kreatif.

Fenomena ini turut merambah dunia kepenulisan. Platform berbasis AI mampu menghasilkan artikel, puisi, cerpen, bahkan draf novel lengkap hanya dari beberapa perintah singkat. Struktur alur dapat disusun otomatis, karakter dapat dirancang secara instan, bahkan gaya bahasa penulis tertentu dapat ditiru dengan cukup meyakinkan. Proses yang dahulu memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kini dapat disimulasikan dalam hitungan menit. Perubahan inilah yang memunculkan pertanyaan mendasar: apakah AI sudah bisa menggantikan sastrawan dalam menulis novel?

Pertanyaan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Industri penerbitan mulai merasakan dampak nyata dari kehadiran AI generatif ini. Sebuah laporan yang dirilis oleh University of Cambridge pada November 2025 menunjukkan bahwa 51% novelis yang telah menerbitkan buku di Inggris percaya AI kemungkinan akan sepenuhnya menggantikan pekerjaan mereka. Selain itu, ada sebanyak 59% yang menyatakan bahwa karya mereka diketahui telah digunakan untuk melatih model AI tanpa izin atau kompensasi, dan sekitar 85% memperkirakan pendapatan mereka akan menurun akibat perkembangan AI. 

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan AI dalam sastra bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, tetapi juga menyangkut ekonomi kreatif, keberlanjutan profesi, serta etika hak cipta. Banyak penulis merasa karya yang lahir dari pengalaman personal dan proses panjang kini menjadi bahan pelatihan sistem algoritmik tanpa transparansi yang memadai.

Kekhawatiran yang muncul ini akibat akan adanya kehilangan pekerjaan dan hilangnya penghargaan terhadap kerja kreatif manusia.

Belum lagi, banyak perusahaan dan industri konten yang dinilai akan memilih AI karena dianggap lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien. Dalam konteks pasar, pertimbangan biaya sering kali lebih dominan dibandingkan idealisme seni. Dengan demikian, banyak pekerjaan yang berkaitan dengan menulis komersial berpotensi tergantikan oleh AI.

Di Amerika Serikat, organisasi seperti Authors Guild turut menyuarakan kekhawatiran terkait penggunaan karya sastra sebagai data pelatihan AI tanpa persetujuan yang jelas. Perdebatan hukum yang melibatkan perusahaan teknologi besar menunjukkan bahwa persoalan ini telah memasuki ranah kebijakan publik dan regulasi internasional.

Namun demikian, tidak semua pandangan terhadap AI bersifat penolakan total. Beberapa penulis memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk riset, penyusunan kerangka cerita, atau eksplorasi ide awal. AI unggul dalam efisiensi dan produksi cepat, tetapi tidak memiliki niat, kesadaran, atau makna personal dalam proses penciptaan sebuah karya. Sistem bekerja berdasarkan pola statistik dari data masa lalu, sehingga cenderung mereproduksi formula yang sudah ada daripada menciptakan lompatan estetik yang benar-benar baru.

Perbedaan mendasar antara AI dan sastrawan terletak pada proses kreatifnya.

Menulis novel bukan sekadar menyusun kata-kata yang koheren, melainkan proses refleksi, pergulatan batin, revisi berulang, serta pencarian makna. Banyak karya sastra lahir dari pengalaman hidup, konflik personal, dan pengamatan sosial yang mendalam. Unsur ini membentuk kedalaman emosional yang sulit direduksi menjadi perhitungan algoritmik.

Secara teknis, AI memang sudah mampu menghasilkan novel, terutama dalam genre yang bersifat formula seperti roman populer atau thriller dengan pola tertentu. Bahkan, dalam pasar massal, karya semacam ini bisa kompetitif. Namun, menggantikan sastrawan sepenuhnya berarti menggantikan kesadaran, pengalaman eksistensial, dan relasi intim antara penulis dan pembaca. Hingga saat ini, kemampuan tersebut belum dimiliki oleh mesin.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apakah AI sudah bisa menggantikan sastrawan dalam menulis karya fiksi terutama novel, menunjukkan bahwa persoalan ini tidak semata-mata tentang kemampuan teknologi menghasilkan teks yang runtut dan cepat. Tekanan terbesar justru datang dari sisi ekonomi yang mana industri mungkin memilih efisiensi dan biaya rendah yang ditawarkan AI. Sementara itu, ada pandangan lain terkait hal ini yang menekankan urgensi regulasi agar penggunaan karya penulis untuk melatih AI tidak merugikan pencipta asli. Di sisi lain, perspektif editor fiksi di Final Boss Editing memperlihatkan bahwa meskipun AI mampu membantu secara teknis, AI masih kesulitan menghadirkan kedalaman karakter, ketegangan naratif, dan resonansi emosional yang lahir dari pengalaman manusia.

AI memang berpotensi mengambil alih sebagian fungsi teknis dan komersial dalam penulisan. Namun, sastra bukan sekadar produk teks yang koheren, melainkan ruang refleksi, pengalaman batin, dan dialog kemanusiaan antara penulis dan pembaca. Selama pembaca masih mencari keaslian suara, kompleksitas emosi, dan makna yang tumbuh dari pengalaman hidup, sastrawan tidak akan sepenuhnya tergantikan. Tantangan ke depan bukan hanya soal kemampuan mesin, tetapi bagaimana manusia, industri, dan kebijakan bersama-sama menentukan batas serta peran AI dalam ekosistem sastra.


Sumber referensi: https://litreactor.com/columns/will-ai-replace-writers https://www.groundcreweditorial.com/blog/for-writers-will-ai-replace-authors https://www.cam.ac.uk/stories/generative-ai-novelists https://www.finalbossediting.com/single-post/will-ai-replace-novelists-a-fiction-editor-tells-all

Ayo pesan sekarang!