Ditulis oleh Nabila Arifani Arizka*
MEMBACA Seratus Wujud Gunung Fuji karya Osamu Dazai merupakan sebuah kehormatan yang langka bagi para pembacanya. Tantangan utama pembacaan sebuah karya terjemahan dari penulis fenomenal yang berasal dari luar negeri adalah pembaca harus menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan dua konteks yang berbeda. Di satu sisi, pembaca harus ada upaya untuk memahami maksud dari sesuatu yang sama. Keberanian untuk menghadapi dan merangkul perbedaan tersebut dibutuhkan bagi mereka yang ingin mencari keasyikan tersendiri dari membaca karya sastra mana pun, khususnya yang sedang dibahas dalam tulisan ini: Fugaku Hyakkei atau “Seratus Wujud Gunung Fuji” karya Osamu Dazai.
Pengalaman Membaca karya Sastra Terjemahan
Buku berjudul “Seratus Wujud Gunung Fuji” yang diterbitkan oleh Rua Aksara tersebut merupakan kumpulan lima cerita pilihan dari karya-karya Osamu Dazai. Di atas helaian kertas berukuran 11×17 cm setebal 152 halaman dan diterjemahkan oleh Bagus Dwi Hananto. Terdapat beberapa penyesuaian dalam terjemehan tersebut seperti Man’gan menjadi “Buah Kesabaran”, Fugaku Hyakkei menjadi “Seratus Wujud Gunung Fuji”, Hazakura to Mateki menjadi “Sakura dan Seseorang yang Bersiul”, Hashire, Merosu! menjadi “Lari, Melos!”, serta Toukyou Hakkei menjadi “Delapan Pemandangan dari Tokyo”.
Buku tersebut merupakan salah satu yang relatif paling ringan. Jika dibandingkan dengan beberapa buku lain yang dibahas dalam acara Parade Obrolan Sastra Tegal tanggal 19 April 2026 lalu. Namun, tidak dengan kedalaman bahasa dan sentuhan sastranya yang tak kalah berbobot dari buku lain. Bahadur, embarau, kirmizi, primrose petang, memumpun, landung, merupakan beberapa kata yang jarang saya temui dalam percakapan sehari-hari. Namun, dipakai sebagai padanan kata dalam cerita terjemahan ini yang menambah perbendaharaan kosa kata bagi saya secara pribadi.
Menariknya justru karena terdapat banyak kata-kata yang kurang familiar itulah, saya menganggap bahwa pembacaan terhadap buku kecil ini akan semakin bertambah bobotnya. Ketika setidaknya saya mengetahui juga judul aslinya. Ketika pertama kali “ditakdirkan” melalui undian untuk membaca buku “Seratus Wujud Gunung Fuji”, saya lekas memasukkan kata kunci “太宰治 (dazai osamu)” ke mesin pencarian.
Hal tersebut kemudian saya cocokkan dengan isi dari masing-masing paragraf yang ada. Untungnya, karya-karya beliau cukup mudah diakses di internet, setidaknya jika untuk penggunaan personal. Sesungguhnya, hal itu menambah rasa “bahagia” saya untuk membaca karya terjemahan. Terutama jika berasal dari penulis fenomenal dari negara maju, khususnya Jepang yang merupakan negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia.
Adapun pencarian saya terhadap judul-judul karya Osamu Dazai lainnya, mayoritas dibantu oleh biografi Osamu Dazai di Wikipedia Bahasa Inggris. Namun yang menarik adalah pencarian judul asli dari “Buah Kesabaran”. Awalnya, saya berharap menemukan cerpen tersebut dengan memasukkan kata 果実 (kajitsu) maupun fruits yang berarti ‘buah’. Sayangnya, kalaupun ada yang memuat kata tersebut, tidak cocok dengan isi awal cerpennya.
Saya baru menemukan judul aslinya di Starbucks, Kaliurang Yogyakarta dengan bantuan teman saya. Sehingga tidak jauh dari judul terjemahannya, judul asli dari “Buah Kesabaran” rupanya memang harus dicari dengan penuh kesabaran agar membuahkan hasil berupa penemuan akarnya. Sebab, ketika sudah “bersabar”, maka “buahnya” akan seperti judul terjemahan bahasa Inggrisnya: Complete Satisfaction atau ‘Kepuasan yang Lengkap’. Sehingga bisa dibilang, 満願 (man’gan) menjadi salah satu karya terjemahan yang memberikan pengalaman menarik bagi saya pribadi.
Berdasarkan pengalaman pribadi tersebut, membaca cerita terjemahan dapat memberikan kesan terkesima atau bingung. Misalnya, terkesima dengan cara penerjemah memilih frasa ‘buah kesabaran’ yang seakan dapat menjadi padanan dari complete satisfaction. Tetapi juga bisa membuat bingung, misalnya pada salah satu kata di paragraf awal cerita “Buah Kesabaran”, yakni roorri yang tidak saya temukan di KBBI maupun cerita aslinya.
Adapun pada cerita aslinya, kata yang mungkin dimaksud adalah 二階 (nikai) yang sepertinya lebih mudah dipahami jika diterjemahkan sebagai ‘penginapan dua lantai’. Karena keterbatasan kosa kata, saya mungkin saja kurang memahami alasan penerjemah memilih Roorri. Begitu pula dengan Evening Primrose yang diterjemahkan sebagai Primrose Petang—jenis bunga, alih-alih menjadi “Sembulau Malam”.
Kesan setelah Membaca Seratus Wujud Gunung Fuji
Sebagaimana yang beberapa kali disebut, buku ringan ini tak begitu mudah dipahami. Setidaknya bagi saya pribadi, untungnya nama Osamu Dazai sendiri bukanlah hal yang asing bagi saya. Saya terbantu dengan adanya anime Bungou Stray Dogs, di mana salah satu karakternya bernama Osamu Dazai yang memiliki ability bernama No Longer Human. Nama itu diambil dari karyanya paling populer.
Saya pun menonton dua video tentang Osamu Dazai, baik Dazai sebagai karakter anime, maupun Dazai sebagai sastrawan. Di samping itu, saya juga berbagi cerita dengan beberapa orang. Termasuk salah seorang fans Osamu Dazai sebagai karakter anime. Sesungguhnya, hal tersebut menambah rasa bangga saya untuk dapat membaca karya ini sekaligus mengapresiasi betapa seriusnya Jepang dalam masalah literasi. Termasuk dengan memasukkannya ke dalam industri budaya populer.
Meskipun begitu, rupanya memahami Osamu Dazai bukan hal mudah. Apalagi dari terjemahan yang “Buah Kesabaran”, meskipun merupakan cerita terpendek di antara keempat lainnya. Judul ini bagi saya paling sulit untuk dipahami. Saya juga kesulitan menangkap sisi humor dari Osamu Dazai jika hanya membaca cerita itu. Namun, bisa jadi kesulitan itu karena kepekaan yang perlu diasah lagi. Sebab, cerita tersebut diawali dengan seseorang yang mabuk dan ternyata dokternya juga mabuk.
Saya baru tersadar bahwa itu merupakan hal yang lucu ketika adik saya membacanya sekilas. Sebelumnya saya tidak menganggap itu lucu karena dalam pikiran saya, Jepang merupakan salah satu masyarakat yang kental dengan budaya mabuk. Maka siapa pun itu, asalkan tidak sepenuhnya mengganggu profesionalitas bukan sepenuhnya menjadi hal yang lucu. Namun menariknya, saya jadi tersadar bahwa Osamu Dazai “mengajarkan” bagaimana meramu plot twist dengan cara yang tidak terduga tanpa sengaja menyinggung perasaan pembaca.
Seratus Wujud Gunung Fuji sebagai judul utama, diawali dengan data yang menarik sehingga memunculkan kekhasan yang tidak bisa disamakan dengan cerpen pada umumnya. Data tentang detail lukisan Gunung Fuji dipaparkan bahkan sejak permulaan cerita, meliputi kemiringan lereng Fuji sebesar 85° di lukisan Ukiyo-e karya Hiroshige. Kemiringan gunung yang mencapai 84° pada lukisan Buncho dan pada peta buatan tentara, lalu 124° dari timur dan barat, serta 117° dari utara dan selatan.
Namun, ceritanya ditutup dengan kalimat bahwa Gunung Fuji dari tokoh aku yang memandang Fuji sambil bersandar pada susuran bobrok di penginapan yang ada di Kofu, menampilkan Fuji tampak seperti ciplukan. Adapun hanakotoba dari ciplukan yang saya temukan melalui mesin pencarian dengan kata kunci 酸漿 の はなことば (hohodzuki no hanakotoba), meliputi kepalsuan sebagai makna negatif dan keindahan alamiah sebagai makna positifnya.
Judul selanjutnya, “Sakura dan Seseorang yang Bersiul” merupakan cerita yang paling mudah saya tangkap humornya. Sekalipun, tetap ada rasa sedihnya. Sudut pandang perempuan yang dipakai di sini juga semakin membuat saya lebih mudah mengikuti cerita ini. Sejak awal, saya cukup curiga dengan judul yang menggunakan kata “sakura” karena melambangkan kerapuhan atau keindahan yang fana. Rupanya, bagian akhir cerita mengkonfirmasi kecurigaan tersebut. Namun, sudut pandang perempuan tersebut saya katakan “penting” karena menyebutkan tentang realitas pada masa hidup Dazai. Ketika perempuan yang memasuki usia 20 dianggap sebagai perawan tua jika belum menikah.
Tokoh “aku” dalam cerita tersebut pun memiliki adik perempuan yang terkena tuberkulosis renal. Seiring melemahnya kondisi sang adik, tokoh “aku” menemukan surat berpita hijau dari seorang pria berinisial MT yang isinya menggambarkan perasaan dua insan yang saling jatuh cinta. Cinta yang penuh hasrat untuk memadu kasih. Sayangnya, semua itu hanya karangan sang adik sendiri.
Pada cerita “Lari, Melos” merupakan satu-satunya cerita Yunani yang “nyasar” di dalam cerita Jepang. Barangkali cerita ini ialah yang memberikan pertanda benang merah dari pilihan cerita lainnya bahwa cerita-cerita pilihan tersebut adalah tentang kesabaran dan rasa percaya. “Lari, Melos” menceritakan tentang Melos yang tertangkap ketika dalam petualangannya mencarikan ubarampe pernikahan untuk adiknya, tetapi kemudian meyakinkan penjaga untuk menggantikan dirinya dengan Selinuntius sebagai tahanan. Ia berjanji akan kembali.
Aneka rintangan menghadang Melos ketika akan kembali lagi ke penjara, bahkan Selinuntius sudah digiring ke tempat eksekusi. Namun karena upaya Melos, ia berhasil meyakinkan tiran Dionysius bahwa sesungguhnya manusia masih memiliki rasa percaya pada manusia lain, maka keduanya dibebaskan dari eksekusi.
Dalam cerita “Delapan Pemandangan dari Tokyo” merupakan judul lain dari cerita pilihan yang menggunakan kata-kata senada pemandangan. Kisahnya sedikit mirip dengan keseluruhan cerita hidup Osamu Dazai. Mulai dari terlahir dari keluarga yang kaya, bolos kuliah, mencoba bunuh diri bersama wanita-wanita yang ditidurinya. Namun hanya mereka yang mati, hingga ketika dirinya dipenuhi rasa nelangsa karena kejatuhan ekonomi keluarganya. “Delapan Pemandangan dari Tokyo” juga merupakan judul tulisan yang dikirimnya ke suatu penerbit.
Refleksi
Tulisan ini saya beri judul “Wujud Gunung Fuji Lainnya Mungkin Saja Tahu Aci” guna menegaskan bahwa ada dua konteks yang berbeda antara pembaca dengan tulisan yang dibacanya. Diskusi yang dilakukan 19 April 2026 lalu, juga sempat menyinggung tentang mengapa kita jarang mengangkat lokalitas sebagai inspirasi tulisan. Apa yang dapat dibanggakan?
Semoga tidak keterlaluan untuk menawarkan lontaran lelucon, “Karena negara tropis, salju Gunung Fuji meleleh, lalu layaknya gumpalan tahu aci yang dipotong segitiga menyerupai Gunung Fuji.”
Bagaimanapun, tampaknya judul “Seratus Wujud Gunung Fuji” sejatinya hendak mengajarkan tentang ontologi dan epistemologi. Sebuah gunung yang sama dapat dilihat secara berbeda dari tempat yang berbeda-beda, bahkan di sebuah negara yang sama. Hingga akhirnya Gunung Fuji tampak seperti ciplukan, mungkin saja diartikan sebagai keindahan alamiah. Namun, terlepas dari berapa derajat yang dilukis dari manapun dilihat, Gunung Fuji tetaplah Gunung Fuji. Seperti yang terdapat pada halaman 15—16: “…. Memandang Fuji, bakal terbit berbagai impresi tentangnya. Fuji selalu memesona, gunung itu sendiri sadar betul hal itu.”
Tentu akan menarik jika ke depannya, buku ini menginspirasi lahirnya tulisan-tulisan lain dari Kota Tegal yang mengangkat realitas Tegal itu sendiri. Ketika membaca buku ini di tepi Pantai Alam Indah sambil menantikan matahari senja, maupun saat akhir pekan. Saya terpintas ide untuk memunculkan judul “12 Pemandangan Pantai Alam Indah”. Di mana angka “12” merujuk pada tanggal peringatan hari jadi Kota Tegal: 12 April. Merealisasikannya butuh niat, keberanian, ketekunan, dan ketulusan. Namun bukan tidak mungkin, sebab zaman yang merosot di tengah konflik geopolitik dan perang. Memang membutuhkan semangat dari siapapun yang berani merekamnya, termasuk sambil menikmati camilan tahu aci.
*Nabila Arifani Arizka, penulis asal Tegal. Tulisannya tergabung dalam berbagai antologi bersama.
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A