Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Mata Badik Mata Puisi

Rp50.000

Pengelanaan. Itulah yang dilakukan D. Zawawi Imron dalam proses kreatif melahirkan buku kumpulan puisi Mata Badik Mata Puisi ini. Sang Penyair tidak hanya melakukan pengelanaan secara ragawi, tetapi juga secara nir-ragawi. Melalui kedua ragam pengelanaan itu dia berhasil menuangkan daya kepenyairannya.

.

Betapa tidak, lingkup perjalanannya begitu jauh dan luas, mencakup rimba, laut, sungai, gunung, bumi, dan nilai budaya manusia Bugis-Makassar (pars pro toto Bugis, Makassar, Toraja, Mandar. Unik dan menarik, karena sang pengembara bukan berasal dari lingkungan sosio-budaya Bugis-Makassar, melainkan dari sosio-budaya Madura, salah satu etnik dari sekian banyak etnik di Indonesia

.

Ibarat seorang peneliti, Zawawi Imron berusaha mendeskripsi dan mengenalisis budaya Bugis-Makassar. Bedanya, dia tidak hanya memanfatkan potensi nalar yang menjadi tumpuan para peneliti ilmiah, tetapi juga menggunakan daya rasa serta kekuatan imajinasi yang reflektif dan kontemplatif.

.

Dengan demikian, jika seorang peneliti ilmiah berhasil menampilkan kebenaran ilmiah, maka seorang penyair, seperti Zawawi Imron, berhasil menyuguhkan kebenaran artistik lewat pergulatan kata-kata.

D. Zawawi Imron, Mata Badik, Mata Puisi, Kumpulan Puisi, Yogyakarta, Bening Pustaka, 2018, xxx+83 hlm

Mata Badik Mata Puisi

Rp50.000

Pengelanaan. Itulah yang dilakukan D. Zawawi Imron dalam proses kreatif melahirkan buku kumpulan puisi Mata Badik Mata Puisi ini. Sang Penyair tidak hanya melakukan pengelanaan secara ragawi, tetapi juga secara nir-ragawi. Melalui kedua ragam pengelanaan itu dia berhasil menuangkan daya kepenyairannya.

.

Betapa tidak, lingkup perjalanannya begitu jauh dan luas, mencakup rimba, laut, sungai, gunung, bumi, dan nilai budaya manusia Bugis-Makassar (pars pro toto Bugis, Makassar, Toraja, Mandar. Unik dan menarik, karena sang pengembara bukan berasal dari lingkungan sosio-budaya Bugis-Makassar, melainkan dari sosio-budaya Madura, salah satu etnik dari sekian banyak etnik di Indonesia

.

Ibarat seorang peneliti, Zawawi Imron berusaha mendeskripsi dan mengenalisis budaya Bugis-Makassar. Bedanya, dia tidak hanya memanfatkan potensi nalar yang menjadi tumpuan para peneliti ilmiah, tetapi juga menggunakan daya rasa serta kekuatan imajinasi yang reflektif dan kontemplatif.

.

Dengan demikian, jika seorang peneliti ilmiah berhasil menampilkan kebenaran ilmiah, maka seorang penyair, seperti Zawawi Imron, berhasil menyuguhkan kebenaran artistik lewat pergulatan kata-kata.

D. Zawawi Imron, Mata Badik, Mata Puisi, Kumpulan Puisi, Yogyakarta, Bening Pustaka, 2018, xxx+83 hlm

  • Detail Buku
  • Tentang Penulis
  • Review Buku
  • Testimoni

Penulis D. Zawawi Imron

Penerjemah -

Dimensi-

Tebal83 halaman

Cetakanpertama, 2018

ISBN/QRCBN978-602-6694-74-4

FinishingSoft Cover

Stok 30 pcs

Data penulis belum ditambahkan. Silakan hubungkan kontributor pada produk ini.

Review Pembaca (0)

Belum ada review

Testimoni Pembeli (0)

Belum ada testimoni

Buku Terkait
Ayo pesan sekarang!