Kerusakan Ekologi (Sebuah Antologi)
Rp160.000 Rp144.000
Sebagai reaksi dari akibat industri yang telah menyebabkan berbagai petaka lingkungan, masyarakat dunia berusaha melakukan gerakan ekologi dalam (deep ecology) yang dikumandangkan dengan beredarkan visi yang mempunyai korelasi dengan nilai-nilai kodrati, berakar pada ajaran teologi. Gerakan ekologi dalam kemudian menumbuhkan kesadaran untuk menghidupkan kembali pandangan ekologi yang berdasarkan agama sebagai bentuk antitesa dari gerakan lingkungan dangkal (shallow ecology) yang berperilaku eksploitatif terhadap lingkungan dan mengkambinghitamkan agama sebagai penyebab terjadinya kerusakan alam lingkungan.
Kerusakan Ekologi (Sebuah Antologi)
Rp160.000 Rp144.000
Sebagai reaksi dari akibat industri yang telah menyebabkan berbagai petaka lingkungan, masyarakat dunia berusaha melakukan gerakan ekologi dalam (deep ecology) yang dikumandangkan dengan beredarkan visi yang mempunyai korelasi dengan nilai-nilai kodrati, berakar pada ajaran teologi. Gerakan ekologi dalam kemudian menumbuhkan kesadaran untuk menghidupkan kembali pandangan ekologi yang berdasarkan agama sebagai bentuk antitesa dari gerakan lingkungan dangkal (shallow ecology) yang berperilaku eksploitatif terhadap lingkungan dan mengkambinghitamkan agama sebagai penyebab terjadinya kerusakan alam lingkungan.
- Detail Buku
- Tentang Penulis
- Review Buku
- Testimoni
Penulis Masri Anwar
Penerjemah -
Dimensi14 x 20cm
Tebal344 halaman
Cetakan2025
ISBN/QRCBN978-623-6650-56-1
Finishingsoft cover
Stok 4 pcs
Masri Anwar
Lahir di Desa Segea Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah, pada 7 Junuari 1983. Ia memang bukan pemikir layaknya Hegel atau Marx, yang pemikirannya mudah dijumpai dalam satu tulisan utuh. Tapi hanya seorang penulis lokal yang ingin menuliskan menceritakan tentang kabar kampung pulau, keberanianya dalam menyuarakan kebenaran dan membela kepentingan lingkungan dan ekologi. Akademisi-penggiat lingkungan dan ekologi, Aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Maluku Utara, organisatoris, dan teridiologi. Serta sederat predikat perjuangan lingkungan dan ekologi di pundaknya Masri Anwar lantaran ia memiliki kemampuan perspektif lingkungan dan ekologi yang cukup. Kritik-kritik dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam. Tentu dengan ciri khas Masri Anwar: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, ia disebut pendekar ekologi dan lingkungan oleh teman-temannya. Halmahera Tengah patut bersyukur karena ada seorang anak petani hadir untuk menuliskan kisah tentang perampasan ruang hidup, yang sampai saat ini nyaris susah dijumpai penulis seperti Masri Anwar. la juga selain menulis dan aktif melakukan riset dan penelitian di daerah-daerah lingkar tambang, penulis pernah mengajar di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, mata kuliah tentang Hukum Lingkungan dan Pidana Lingkungan. Masri Anwar, Menyelesaikan Strata S1 di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN Ternate), pada tahun 2010, setelah itu penulis melanjutkan studi S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tahun 2019. Dan sekarang ini penulis sedang dalam studi jenjang Doktoral di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Masri Anwar, memilih judul Buku "Kerusakan Ekologi Sebuah Antologi" menggunakan konsep rantai nilai kerja dan penelitian emperis yang cenderung untuk mengungkapkan cara-cara perusahaan-perusahaan multinasional mengekstraksi surplus dari bumi Halmahera Tengah dengan mengorbankan para petani-neyalan. Bertolak belakang dari perayaan globalisasi kapitalisme, Rantai Nilai menunjukkan bahwa produksi yang menglobal tidak lain adalah bentuk baru dari imperialisme".
Review Pembaca (0)
Belum ada review
Testimoni Pembeli (3)
“Pembangunan agraria di Indonesia memiliki dampak yang signifikan terhadap ekosistem. Proses peralihan lahan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, terutama untuk perkebunan, pertambangan, dan infrastruktur, sering kali menyebabkan kerusakan ekologis yang besar. Pembangunan agraria kerap juga dilakukan dengan dalih meningkatkan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan membuka lapangan kerja. Namun, implementasinya sering kali tidak seimbang dengan perlindungan lingkungan.”
“Tidakkah cukup daya rusak yang terlihat lewat data dan kejadian ini menggugah hati penguasa untuk mengubah pola-pola pembangunan rakus lahan yang menciptakan daya rusak ini? Apakah menunggu tragedi dan korban makin banyak berjatuhan baru bikin kebijakan atau aturan, yang tak menyakiti manusia, dan bumi beserta isinya? Maluku Utara, tak hanya alami krisis ekologis, tetapi krisis multidimensi.”
“Buku “Kerusakan Ekologi” karya Mas Masri ini hadir dalam rangka memberikan andil partisipasi melalui sentuhan inovasi perspektif berupa dimensi integral antara ilmu pengetahuan dan moral yang terkait dengan isu lingkungan. Dimensi integral hukum lingkungan perlu disorori secara khusus mengingat sekularisasi ilmu pengetahuan dan moral serta etika yang berabad abad telah merambah dan memengaruhi perpesktif konseptual dan aktual.”
