Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Peran Imajinasi dalam Seni

Rp90.000

Buku ini menawarkan suatu cara pandang baru dalam melihat seni, yakni dalam kerangka psikologis sekaligus fenomenologis. Dalam buku ini, karya seni dipandang bukan sebagai suatu hal yang riil, namun sebagai “irreality”. Karya seni pada dasarnya selalu melampaui apa yang menampakkan diri. Ia ada di hadapan kita, namun absen dari keberadaannya, itulah “irreality”. Dengan demikian, ketika kita melihat suatu karya seni, yang kita lihat bukanlah karya seni itu sendiri, melainkan hanyalah analogonnya. Analogon tersebut adalah medium yang menjembatani antara seniman dan penikmat seni. Dengan adanya analogon tersebut, membuat kegiatan manusia mengimajinasikan objek menjadi memadai. Imajinasi itu sendiri tak lain adalah keseluruhan kesadaran yang menyadari kebebasannya. Imajinasi juga bukan merupakan kekuatan empiris kesadaran. Maka, pada hakikatnya, kegiatan menikmati seni tak lain adalah kegiatan pelampauan yang riil. Peran imajinasi dalam melihat seni tersebut dapat pula diimplementasikan ke dalam naskah-naskah adaptasi yang penulis sertakan dalam bagian akhir buku.

Tags: ,

Peran Imajinasi dalam Seni

Rp90.000

Buku ini menawarkan suatu cara pandang baru dalam melihat seni, yakni dalam kerangka psikologis sekaligus fenomenologis. Dalam buku ini, karya seni dipandang bukan sebagai suatu hal yang riil, namun sebagai “irreality”. Karya seni pada dasarnya selalu melampaui apa yang menampakkan diri. Ia ada di hadapan kita, namun absen dari keberadaannya, itulah “irreality”. Dengan demikian, ketika kita melihat suatu karya seni, yang kita lihat bukanlah karya seni itu sendiri, melainkan hanyalah analogonnya. Analogon tersebut adalah medium yang menjembatani antara seniman dan penikmat seni. Dengan adanya analogon tersebut, membuat kegiatan manusia mengimajinasikan objek menjadi memadai. Imajinasi itu sendiri tak lain adalah keseluruhan kesadaran yang menyadari kebebasannya. Imajinasi juga bukan merupakan kekuatan empiris kesadaran. Maka, pada hakikatnya, kegiatan menikmati seni tak lain adalah kegiatan pelampauan yang riil. Peran imajinasi dalam melihat seni tersebut dapat pula diimplementasikan ke dalam naskah-naskah adaptasi yang penulis sertakan dalam bagian akhir buku.

  • Detail Buku
  • Tentang Penulis
  • Review Buku
  • Testimoni

Penulis Yogie Pranowo

Penerjemah -

Dimensi15 x 23cm

Tebalxxii + 282 halaman

CetakanCetakan Pertama: 2018

ISBN/QRCBN978-602-53121-6-8

Finishingsoft cover

Stok 11 pcs

Yogie Pranowo

Lahir 8 Juli 1989, mengenyam pendidikan menengah di Seminari Wacana Bhakti. Setelah itu melanjutkan dan magister di STF Driyarkara. Aktif menulis di studi sarjana beberapa jurnal nasional dan internasional. Beberapa tulisan yang sudah terbit antara lain: Peran Argumentum ad Hominem dalam Genealogi Moral: Nasehat Nietzsche bagi Calon Pencoblos (Jurnal Ultima Humaniora, 2014), Transendensi dalam Pemikiran Simone de Beauvoir dan Emmanuel Levinas (Jurnal Melintas, 2016), serta buku Hak asasi Manusia: Yang Muda Kini Bicara (Yayasan Jurnal Perempuan, 2011), Rumah, Kota, Kita (Self Publisher, 2016), serta Perempuan, Moralitas, dan Seni (Ellunar Publisher, 2018). Saat ini aktif menjadi sutradara di STF Driyarkara dan beberapa kelompok teater independen lainnya di Jakarta. Selain menjadi sutradara, juga mengajar di Kalbis Institute, Jakarta.

Review Pembaca (0)

Belum ada review

Testimoni Pembeli (1)

“Dalam buku ini penulis mendaratkan hasil riset masternya (filsafat) tentang imajinasi dalam seni dari J.P. Sartre ke wilayah praksis seni, terutama teater, dunia yang sudah lama digeluti dan menjadi minat penulis. Maka hasilnya adalah pemahaman mengenai seni teater - khususnya dari naskah-naskah adaptasi yang juga disertakan dalam buku ini sebagai contoh/model-sebagai seni yang konkret, mudah dipahami dan relevan untuk pendidikan karakter para remaja dan kaum muda. Buku ini memberikan pengertian yang mengena tentang seni, khususnya teater dan menengahi pemahaman keliru seolah seni chikhususkan hanya bagi orang-orang yang mempunyai keahlian khusus, atau pun sebaliknya disamakan dengan pentas hiburan belaka bagi orang kebanyakan.”

Prof. Dr. A. Sudiarja - Dosen STF Driyarkara
Buku Terkait
Ayo pesan sekarang!